Allah Tetap Setia di Tengah Ketidakpastian Hidup Oleh Pater Steph Tupeng Witin SVD Mat.9:36-10:8 WARTA-NUSANTARA.COM— Bangsa Israel meninggalkan Mesir, berjalan dari padang gurun Rafidim ke padang gurun Sinai (Kel.19:2). Sebuah ziarah dari kemapanan “Mesir” menuju ketidakpastian “tanah terjanji.” Pengembaraan tanpa ujung merupakan sebuah pengalaman baru. Di sana ada pengalaman terguncang, terkejut. Ada pengalaman hati yang merana, sulit bergerak, dari situasi kepastian kendati terperangkap menjadi “bangsa kuli” dan budak di negeri Mesir. Di tengah ketidakpastian padang gurun itu, Allah hadir dengan janji-Nya kepada bangsa Israel. Janji itu menguji komitmen, menggugat kesetiaan dan menantikan tanggapan harapan serta menantang optimisme iman. Mengubah diri dari mentalitas, sikap dan tindakan “sebagai budak” menjadi “bangsa pilihan” seperti diungkapan: “Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus” (Kel.19,6), bukanlah suatu perjalanan iman yang mudah. Baca Juga: Renungan 164: Kerinduan akan Jiwa-Jiwa Orang Berdosa Pergumulan bangsa Israel untuk menerima tawaran janji Allah dan menghidupinya juga menjadi pergumulan iman kita di masa kini. Mental hidup pragmatis dan instan sering menjebak pikiran, mengerdilkan hati dan menggiring kita untuk berhenti hanya pada titik-titik gelap dan kelam dari hidup pribadi dan hidup komunal-gereja kita. Diperlukan suatu keberanian untuk membaca masa lampau dan perjalanan hidup kita dalam kaca mata tindakan Allah dan rahmat-Nya yang terus menuntun kita (Hidup, 14/6/2026). Kesadaran akan karya Allah yang terus menyertai dan kesadaran akan identitas diri sebagai bangsa yang lemah dan kecil tetapi dipilih Allah, seharusnya menjadi dasar untuk menerima tawaran perjanjian kasih Allah. Namun dalam kenyataan bangsa terpilih bisa berulah menjadi bangsa yang “bersungut-sungut, yang “tegar tengkuk” suka memberontak dan selalu tidak puas dengan keadaan hidupnya (Kel. 17: 1-7). Seperti perjalanan iman bangsa Israel, kehidupan iman umat Kristiani pun bisa terjebak dalam kekosongan kesadaran dan tanpa rasa syukur atas karya penyelamatan Allah yang luar biasa di dalam diri Yesus Kristus. Janji baptis yang menjadi undangan jalan kesucian bisa terasa sebagai beban. Janji baptis yang dibarui dalam setiap perayaan Paskah bisa terasa hampa. Ada kekosongan yang mendasar di mana Allah sepertinya tidak bisa ditemukan dalam Gereja, dalam hati anggotanya dan absen dalam kehidupan keluarga. Rasul Paulus mengingatkan jemaat untuk menyadari bahwa “Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa” (Rm. 5,8). Ketika dibaptis kita pun menjadi bagian dari “umat pilihan” yang ditebus oleh Kristus, bukan karena jasa kita. Sebaliknya, kita yang adalah pendosa diajak bermegah dalam Allah oleh Yesus Kristus yang telah mendamaikan kita dengan Allah (Rm 5:11). Yesus dalam Injil hari ini memanggil keduabelas murid-Nya. Ia memanggil mereka di tengah situasi penderitaan yang mengerakkan hati-Nya. Yesus melihat orang banyak yang mengikuti-Nya “lelah dan terlantar seperti domba yang tidak mempunyai gembala” (Mat. 9, 36). Yesus memerintahkan mereka yang terpanggil itu untuk pergi kepada “domba-domba yang hilang dari Israel,” (Mat. 9:6). Di tengah situasi yang memprihatinkan, Yesus melibatkan para Rasul-Nya untuk tetap mewartakan Kerajaan Surga dengan kuasa dan janji penyertaaan Allah. Para Rasul diperintahkan dengan pesan, “Sembuhkanlah orang sakit, bangkitkanlah orang mati, sembuhkanlah orang kusta, usirlah setan- setan” (Mat. 10:8). Di tengah ketidakpastian dan penderitaan hidup, kita semua dipanggil untuk percaya akan janji kasih dan penyertaan Allah. Identitas sebagai “umat pilihan” mesti memampukan kita mewartakan kegembiraan iman sebagai kesaksian. Paus Leo XIV dalam perjalanan Apostoliknya di Spanyol mengunjungi penjara dan meneguhkan iman para tahanan. Menurutnya, kesalahan hidup tidak mendefinisikan identitas seseorang. Tuhan tidak akan pernah berhenti menunjukkan kasih-Nya kepada kita, yang melebihi segala kebaikan atau keburukan yang telah kita lakukan. Menjadi Kristen bukan berarti tidak pernah membuat kesalahan, tetapi lebih kepada bertumbuh dalam kemampuan untuk bertobat, memperbaiki kesalahan, dan, yang terpenting, untuk berdamai dan memaafkan. ” Paus Leo berkata, “Ketika Anda tergoda untuk merasa rendah diri dan berpikir tidak ada gunanya untuk melanjutkan hidup, angkatlah matamu kepada Dia yang, melalui kehadiran begitu banyak orang, tidak pernah berhenti menunjukkan kasih dan kedekatan-Nya kepadamu. Marilah kita membiarkan kasih-Nya membimbing kita. Marilah kita berpegang teguh pada Dia, yang terus-menerus mengajak kita untuk berharap karena Tuhan menunjukkan kepada kita cakrawala indah yang tidak dapat dihalangi oleh rintangan fisik apa pun untuk kita capai.”*** Post Views: 26 Navigasi pos TAKUT ITU MANUSIAWI