BERANI MELEPASKAN (Homili Inspiratif dari Matius 13:44-46, Minggu Biasa ke-17, 26 Juli 2026) Oleh : Robert Bala WARTA-NUSANTARA.COM— Kita awali permenungan hari ini dengan sebuah kisah sederhana. Sebuah kisah kecil yang hanya bisa kita pahami jika kita mau sejenak melangkah masuk ke dalam dunia anak-anak. Dunia yang polos, di mana nilai sesuatu bukan diukur dari isinya, melainkan dari apa yang sedang memikat pandangan matanya. Suatu hari, seorang saudagar kaya membawa sebuah batu permata yang sangat indah dan tak ternilai harganya. Ia ingin menghadiahkan permata itu kepada seorang anak kecil. Ketika saudagar itu membuka telapak tangannya, permata itu memancarkan kilau yang lembut dan anggun. Namun, pada saat yang hampir bersamaan, lewatlah seorang penjual mainan jalanan. Ia memutar sebuah kelereng kaca yang memantulkan cahaya, lengkap dengan mainan plastik berlampu warna-warni yang berkedip-kedip terang. Anak kecil itu menatap kedua tangan di hadapannya. Ia ragu-ragu. Namun, mata mungilnya perlahan berpaling. Ia justru terpana pada kerlap-kerlip lampu mainan plastik dan kilauan kelereng kaca yang menyilaukan mata. Warna-warnanya mencolok, menarik, dan begitu menggoda. Saudagar itu tersenyum lembut, lalu berkata dengan penuh kasih: “Anakku, lampu mainan itu akan padam nanti malam. Kelereng kaca itu akan tergores dan pecah besok pagi. Tetapi permata ini… kilaunya sejati, dan nilainya tidak akan pernah pudar sepanjang hidupmu.” Namun, sang anak menggelengkan kepala. Ia menolak permata mahal itu dan dengan gembira melangkah pulang membawa mainan plastik yang murahan. Ia pulang dengan tersenyum membawa hal yang sementara, tanpa pernah menyadari bahwa baru saja… ia kehilangan sebuah harta yang bernilai abadi. Kisah anak kecil tadi menjadi cermin yang sangat jernih bagi hidup kita. Cerita itu memunculkan sebuah pertanyaan reflektif: Untuk memperoleh Kerajaan Surga, apakah yang terpenting itu mengumpulkan syarat, atau justru berani melepaskan apa yang menjadi penghalang? Sering kali, kita hidup persis seperti anak kecil itu. Kita mati-matian menggenggam erat apa yang sebenarnya tidak penting, hanya karena mata rohani kita terkecoh oleh “kilauan palsu” dunia. Kita mudah terpesona oleh popularitas sekejap, kenyamanan semu, gengsi, atau ego diri yang ingin selalu diakui. Hal-hal itu tampak begitu berkilau dan menyilaukan mata (distraction), padahal nilainya murah dan kekalannya singkat sekali. Di sinilah letak keindahan pesan Injil hari ini. Yang dibutuhkan dari kita sebenarnya sangat sederhana, yaitu: Keberanian untuk Melepaskan. Mengapa penemu harta terpendam dan pedagang mutiara dalam Injil hari ini berani menjual seluruh milik mereka? Apakah mereka merasa rugi? Tidak! Mereka melepaskannya dengan penuh sukacita. Mengapa? Karena mereka memiliki mata iman yang tajam. Mereka bisa membedakan mana “hiasan kaca yang murah”, dan mana “Mutiara yang Berharga”. Ketika seseorang menemukan hal yang jauh lebih bernilai, melepaskan hal-hal yang lama tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan sebuah pembebasan. Mari sejenak kita bertanya kepada hati kita masing-masing: “Dalam perjalanan hidup sehari-hari, berapa sering kita berprilaku seperti anak kecil tadi? Berapa sering kita salah menaruh prioritas—sibuk menggenggam erat kelereng-kelereng kaca yang tak berguna, sampai-sampai jemari kita terlalu penuh untuk menerima permata rahmat yang Tuhan ulurkan?” Namun, Saudara-saudari, bagian paling indah dari kabar baik hari ini adalah ketika pemahaman kita dibalikkan secara luar biasa. Selama ini, kita sering berpikir bahwa kitalah pedagang yang sedang mencari mutiara. Kita merasa harus “membeli” Kerajaan Allah dengan tumpukan kebaikan, pelayanan, dan doa-doa kita. Hari ini, Injil membisikkan sebuah rahasia cinta yang mendalam:Kristuslah Sang Pedagang Agung itu, dan ANDA serta SAYA adalah Mutiara Berharga yang dicari-Nya! Lihatlah Betapa bernilainya diri Anda di mata Tuhan. Kristus rela “menjual” danmelepaskan segala kemuliaan Surga. Ia bahkan rela menyerahkan milik-Nya yang paling berharga—yakni nyawa-Nya sendiri di kayu salib—hanya demi satu hal: untuk memiliki dan memeluk kembali Anda dan saya. Jika Kristus telah begitu berani melepaskan segala-galanya karena begitu menghargai kita, tidakkah hari ini kita juga diundang untuk memiliki keberanian yang sama? Mari kita buka genggaman tangan kita. Lepaskan kepalsuan dunia, lepaskan rasa dendam, lepaskan kelekatan yang sia-sia, dan bersiaplah menerima Kasih Sejati yang tidak akan pernah pudar sepanjang masa. Tuhan memberkati. Robert Bala. Penulis buku INSPIRASI HIDUP, Pengalaman Kecil Sarat Makna. Penerbit Kanisius Yogyakarta, Cetakan ke-2. Post Views: 15 Navigasi pos Monumen Kemanusiaan Berharga