Sebuah Cermin Retak di Balik Layar Gawai yang Mengadili Manusia Oleh: Devi Nur Rahma Wati Devi Nur Rahma Wati Mahasiswi Prodi Sastra Universitas Sanata Dharma Yogjakarta Disclaimer: Tulisan ini berisi bocoran cerita (spoiler) dari film Budi Pekerti. WARTA-NUSANTARA.COM— Dalam kehidupan nyata, internet dan media sosial telah menjelma menjadi ruang pengadilan baru. Kita tidak lagi membutuhkan palu hakim untuk menghancurkan hidup seseorang; cukup dengan sebuah gawai, jempol yang tak terkendali, dan potongan video berdurasi beberapa detik yang disebarkan tanpa arah. Budi Pekerti, mahakarya sinematik yang sangat tajam dari sutradara visioner Wregas Bhanuteja, hadir memotret realitas mengerikan tersebut. Film ini bukan sekadar sebuah drama domestik tentang keretakan keluarga, melainkan sebuah film horor psikologis dan satir sosial yang mencekam tentang bagaimana “etika” sering kali disalahgunakan oleh massa digital untuk menindas sesama. “Apakah pantas seorang guru BK bersikap seperti itu?” Pertanyaan menghakimi itu menjadi pemantik badai yang meruntuhkan hidup Bu Prani, seorang guru Bimbingan Konseling yang dikenal sangat disiplin, berintegritas, dan berdedikasi tinggi di sekolahnya. Alur cerita dimulai dari sebuah kejadian yang sangat sepele di pasar tradisional. Bu Prani terlibat perselisihan kecil dengan seorang pengunjung karena masalah antrean kue putu. Tanpa disangka, momen tersebut direkam oleh orang asing menggunakan ponsel, diunggah ke media sosial, dan mendadak viral dengan narasi melenceng yang menuduhnya sebagai perempuan yang tidak beradab. Premis ini terasa begitu dekat dan nyata dengan dinamika budaya digital di Indonesia saat ini. Seiring cerita mengalir, penonton tidak diajak untuk melihat siapa yang benar atau salah di pasar, melainkan diajak menyaksikan bagaimana sebuah video viral bertransformasi menjadi lynch mob digital sebuah pengadilan massa daring yang haus akan darah “keadilan” sepihak, yang siap menguliti martabat manusia hingga ke akar-akarnya dalam sekejap mata. Ketika Budi Pekerti Menjadi Komoditas Amarah Netizen Bu Prani datang dari dunia pendidikan yang agung, tempat di mana nilai-nilai moral dan etika diajarkan secara teoritis. Namun, ketika gelombang persekusi digital itu datang, hidupnya mendadak berubah menjadi neraka. Dalam waktu singkat, ia terancam kehilangan pekerjaannya karena desakan wali murid, bisnis kuliner milik keluarganya dikosongkan oleh pelanggan, dan anak-anaknya ikut menanggung sanksi sosial di lingkungan mereka. Di sinilah letak ironi terbesar yang dibangun oleh naskah taktis Wregas Bhanuteja. Jargon “budi pekerti” dan “etika” yang diagung-agungkan netizen dieksploitasi bukan untuk memperbaiki moralitas, melainkan sekadar menjadi komoditas. Satir sosial paling pedih muncul melalui kehadiran para influencer dan media digital yang sibuk mengejar traffic serta angka engagement. Mereka berpura-pura menuntut “klarifikasi” dan menegakkan moral, padahal sebenarnya mereka sedang merayakan kehancuran psikologis sebuah keluarga demi jumlah pengikut dan klik gawai. Melalui karakter Bu Prani, film ini juga memberikan kritik gender yang sangat kuat dan mendalam. Sebagai seorang ibu, istri dari suami yang mengalami gangguan jiwa (bipolar), sekaligus seorang guru perempuan, Bu Prani memikul beban moral berlapis yang timpang di ruang publik. Ketika video tersebut viral, masyarakat digital tidak hanya menghakiminya sebagai individu yang salah paham di pasar, melainkan menyerang perannya sebagai perempuan: mempertanyakan kelayakannya sebagai seorang ibu dan kepantasannya dalam bertutur kata. Perempuan di ruang digital digambarkan jauh lebih rentan mengalami objektifikasi moral dan penghakiman domestik yang kejam dibandingkan laki-laki. Sunyi dan Mencekam dalam Dua Warna: Kuning dan Biru Kekuatan utama yang paling menonjol dari Budi Pekerti adalah kepekaan visual sutradara dalam menggunakan simbolisme warna (color palette). Wregas menghindari estetika yang artifisial dan memilih mendominasi pakaian Bu Prani serta elemen latar domestik dengan warna kuning kunyit atau lemon yang pekat. Warna ini sama sekali tidak memancarkan keceriaan; ia sengaja dipilih sebagai representasi visual dari rasa cemas, tanda peringatan (warning), dan rasa tidak nyaman yang konstan. Warna hangat yang menderita ini dikontraskan secara apik dengan warna biru dan hijau dingin yang memancar dari layar gawai, lampu ring light, serta ruang publik. Kontras palet warna ini secara visual mempertegas argumen film tentang alienasi atau keterasingan manusia, di mana karakter utama terjebak dalam kepungan dunia digital yang “sakit” dan dingin. Sinematografinya pun bekerja bagaikan perangkat yang mengurung penonton ke dalam kepanikan tokohnya. Melalui teknik blocking dan pembingkaian (framing) yang kaku dan sempit, kamera secara konsisten memojokkan Bu Prani di sudut-sudut ruangan yang klaustrofobik atau menghimpitnya dengan objek-objek di sekitarnya. Ini adalah metafora visual yang luar biasa tentang bagaimana ruang privat manusia telah diinvasi dan dihancurkan oleh persekusi daring. Ditambah dengan penggunaan lensa close-up yang intens pada wajah para tokoh, kita dipaksa untuk menyaksikan setiap getaran emosi, keputusasaan, dan ketakutan yang dialami korban secara intim. Kehebatan naskah film ini terbukti dari kemampuannya membangun tensi ketegangan yang merayap naik dan mencekam dari awal hingga akhir, tanpa perlu mengandalkan satu pun adegan kekerasan fisik. Semua kepedihan itu tersampaikan dengan sangat utuh melalui performa akting Sha Ine Febriyanti yang luar biasa kuat dan ekspresif. Dialog Pasif-Agresif yang Menusuk Sanubari Aspek dialog dalam film ini disusun dengan sangat taktis menggunakan perpaduan bahasa Jawa dan Indonesia yang terasa sangat realistis. Di satu sisi, dialog antar-tokoh mencerminkan kesopanan formal khas masyarakat Jawa yang penuh eufemisme. Namun, di sisi lain, kesopanan tersebut justru bermutasi menjadi senjata pasif-agresif yang sangat tajam untuk menyudutkan dan menghakimi korban secara perlahan. Keheningan dan kata-kata yang terukur di dalam rumah Bu Prani terasa lebih menyakitkan daripada makian kasar, menggambarkan bagaimana fondasi kepercayaan antaranggota keluarga perlahan retak di bawah tekanan sosial yang luar biasa. Meskipun film ini memiliki pencapaian estetika yang luar biasa, Budi Pekerti tetap memiliki celah kecil pada beberapa adegan simboliknya yang dirancang terlalu presisi. Bagi sebagian penonton yang terbiasa dengan gaya penceritaan realisme konvensional yang mengalir apa adanya, beberapa pengaturan barang atau gerakan teatrikal di dalam bingkai kamera mungkin akan terasa sedikit terlalu “terencana” (staged). Gaya penceritaan yang sarat akan seni simbolik ini juga berpotensi membuat penonton arus utama (mainstream) membutuhkan usaha serta waktu lebih untuk dapat menginternalisasi makna terdalam yang disembunyikan sutradara di setiap adegannya. Sebuah Refleksi untuk Jempol yang Tak Terkendali Pada akhirnya, Budi Pekerti adalah sebuah cermin retak bagi masyarakat digital Indonesia modern yang sering kali kehilangan empati dan melupakan esensi kemanusiaan demi sebuah validasi di dunia maya. Film ini berhasil menggeser definisi budi pekerti dari sekadar hafalan teori moral di bangku sekolah menjadi sebuah tindakan nyata tentang bagaimana kita harus bijak dan beretika dalam berselancar di internet. Didukung oleh ansambel akting lintas generasi yang luar biasa alamiah, film ini menjadi sebuah tontonan yang wajib disaksikan oleh para pendidik, orang tua, remaja, dan siapa saja yang aktif menggunakan media sosial. Budi Pekerti bukanlah sebuah hiburan yang menenangkan, melainkan sebuah elegi sunyi dan peringatan keras yang membisikkan sebuah pesan penting: bahwa di balik layar gawai yang kita genggam, ada jiwa manusia nyata yang bisa hancur berkeping-keping akibat ketidaksabaran jempol kita dalam menghakimi. *** Devi Nur Rahma Wati, Penulis adalah Mahasiswi Prodi Sastra Universitas Sanata Dharma Yogjakarta Post Views: 21 Navigasi pos Pemkab Lembata Perketat Distribusi Ayam dan Perkuat Peternak Lokal Wujudkan Kemandirian Daging