Kekerasan Yang Tak Kasatmata : Tanda-Tanda Kekerasan Kultural dan Struktural Dalam Cerpen “Senja di Pulau Tanpa Nama” Karya Seno Gumira Ajidarma Oleh: Joan Delanoue Denting Sanitia Merdu Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma Pendahuluan WARTA-NUSANTARA.COM— Ketika kata “kekerasan” diucapkan, yang segera terbayang dalam benak kita umumnya adalah peristiwa-peristiwa yang kasatmata seperti pukulan yang melayang, teriakan yang menyakitkan, atau darah yang tumpah dalam sebuah konflik. Namun, sosiolog perdamaian asal Norwegia, Johan Galtung, mengajak kita untuk melihat kekerasan dengan cara yang jauh lebih luas. Bagi Galtung, kekerasan adalah setiap kondisi fisik, emosional, verbal, institusional, struktural, atau spiritual, juga perilaku, sikap, kebijakan, atau kondisi yang melemahkan, mendominasi, atau menghancurkan diri kita sendiri dan orang lain (Galtung, 2004). Definisi yang luas ini membuka kemungkinan bagi kita untuk melihat kekerasan bukan hanya sebagai tindakan, melainkan juga sebagai struktur dan kebudayaan dalam sesuatu yang dapat “berdiam” dalam sistem sosial (kekerasan struktural) maupun dalam ranah simbolik seperti bahasa, agama, dan seni (kekerasan kultural). Esai ini berupaya membongkar tanda-tanda kekerasan yang “berdiam” dalam cerpen Senja di Pulau Tanpa Nama karya Seno Gumira Ajidarma (SGA) melalui kerangka semiotika kekerasan Johan Galtung. Pilihan kerangka ini mungkin terdengar tidak lazim, sebab sepintas cerpen ini sama sekali tidak menampilkan kekerasan dalam pengertian konvensional. Tidak ada pukulan, tidak ada teriakan, tidak ada darah. Cerpen ini, alih-alih, adalah sebuah monolog liris seorang narator “aku” yang melaju dengan perahu motor menuju sebuah pulau tanpa nama pada saat senja, membayangkan seorang perempuan berkulit tembaga yang menantinya di tepi pantai dan yang pada akhirnya menyimpulkan bahwa perempuan itu, pulau itu, senja itu, cinta itu, bahkan dirinya sendiri, “tidak pernah ada.” Justru pada titik kesunyian, ketidakhadiran, kalimat penutup yang dingin, “Tiada cerita” yang menjadikan esai ini menemukan pijakannya. Sekilas Cerpen “Senja di Pulau Tanpa Nama” Cerpen “Senja di Pulau Tanpa Nama” dibuka dengan kalimat yang langsung menetapkan nada keseluruhan cerita: “Seperti Kawabata, aku mencintai seorang perempuan yang tidak pernah ada.” Rujukan kepada Yasunari Kawabata, sastrawan Jepang peraih Hadiah Nobel Sastra yang dikenal dengan tema cinta, kerinduan, dan keindahan yang melankolis (estetika mono no aware, kefanaan yang menyentuh), segera menempatkan cerpen ini dalam tradisi sastra yang mengagungkan perempuan sebagai objek perasaan, kerinduan, dan kontemplasi laki-laki, alih-alih sebagai subjek yang berdiri sendiri. Sepanjang cerpen, narator “aku” digambarkan melaju dengan perahu motor menuju sebuah “pulau tanpa nama” pada saat senja, dengan harapan dapat melihat seorang perempuan berkulit tembaga, berambut kecoklatan, mengenakan “kain sebatas dada,” yang konon menantinya di tepi pantai. Namun, sepanjang perjalanan itu pula, narator terus-menerus meragukan dan mempertanyakan keberadaan perempuan tersebut; apakah ia benar-benar ada, ataukah hanya bayangan yang diciptakan oleh ingatan akan pemandangan-pemandangan serupa yang “sudah terlalu sering” dilihatnya. Narator bahkan membayangkan adanya pihak ketiga yang memintanya untuk “menjemput” perempuan itu sebelum senja berubah gelap, sebuah permohonan yang sendirinya diragukan keberadaannya: “Mungkinkah aku membayangkan diriku sendiri untuk sebuah adegan yang tidak akan pernah ada?” Gaya bahasa SGA dalam cerpen ini sangat khas: repetisi kata “tentunya,” penggunaan kata pengandaian seperti “jika,” “mungkin,” “seandainya,” dan “barangkali,” serta kalimat-kalimat panjang yang berputar pada dirinya sendiri, menciptakan sebuah ambiguitas ontologis yang konsisten; antara ada dan tiada, antara nyata dan bayangan, antara kehadiran dan ketidakhadiran. Pada akhirnya, narasi ditutup dengan sebuah negasi total: “Tidak pernah ada seorang perempuan… Tidak ada pulau dan tidak ada pantai. Tidak ada lautan dan tidak ada senja. Tidak ada cinta dan tidak ada diriku. Tiada cerita.” Pembacaan permukaan akan menyimpulkan bahwa cerpen ini adalah sebuah eksperimen metafiksi tentang ketidakpastian eksistensial sebuah permainan filosofis tentang ada dan tiada yang khas sastra postmodern. Namun, dengan meminjam kerangka Galtung, pembacaan yang lebih kritis dapat menemukan bahwa di balik permainan filosofis itu, terdapat tanda-tanda representasi yang tidak netral mengenai representasi tentang siapa yang diberi (atau tidak diberi) nama, suara, ruang, dan eksistensi. Analisis Teori Segitiga Kekerasan dalam “Senja di Pulau Tanpa Nama” Tubuh Perempuan sebagai Objek Estetis Dalam cerpen SGA, tokoh perempuan tidak pernah diberi nama; ia hanya hadir sebagai tanda visual: “perempuan berkulit tembaga,” “kain sebatas dada,” “rambut tergerai kecoklat-coklatan,” dan “jejak telapak kakinya yang mungil.” Ia hadir hanya sebagai “siluet”, sebuah bentuk tanpa kedalaman, tanpa wajah yang dapat dikenali, tanpa suara yang dapat didengar. Sepanjang cerita, perempuan ini tidak pernah berbicara, tidak pernah bertindak atas kehendaknya sendiri, dan bahkan tidak pernah dipastikan keberadaannya oleh narator sendiri, “ia bisa ada, bisa tidak ada, aku tidak bisa memastikannya.” Jika kita meminjam istilah Galtung tentang kekerasan kultural sebagai sikap dan keyakinan yang “berada pada lingkungan simbolik” dan berfungsi melegitimasi kekerasan lain (Galtung, 1990), maka representasi semacam ini menjadikan perempuan sebagai objek visual tanpa nama, suara, dan subjektivitas dan diartikan sebagai salah satu wujud paling halus dari kekerasan kultural tersebut. Tradisi sastra yang mengagungkan keindahan melankolis (seperti estetika mono no aware yang dirujuk melalui tokoh Kawabata) menormalisasi ketiadaan perempuan sebagai subjek yang berdaulat. Perempuan di sini hanya menjadi “layar” bagi proyeksi perasaan laki-laki, sebuah objek estetis yang dianggap elok justru karena ia tidak memiliki suara atau nama. Hal ini sejalan dengan pandangan feminis yang didukung Galtung, bahwa patriarki sering kali menjadikan tubuh perempuan sebagai objek utama penindasan melalui dikotomi peran yang timpang. Penting untuk dicatat bahwa kekerasan kultural di sini tidak bekerja melalui kata-kata kasar atau citra yang vulgar, namun justru sebaliknya, ia bekerja melalui keindahan, melalui kata-kata yang puitis dan penuh kelembutan (“kulit tembaga… keemas-emasan,” “jejak yang panjang di pasir basah,” “rambut… berkibaran”). Keindahan bahasa inilah yang, dalam kerangka Galtung, menjadi “selubung” yang membuat kekerasan kultural sulit dikenali sebagai kekerasan karena ia tidak menyakiti secara langsung, tidak meninggalkan bekas, tetapi ia menormalisasi sebuah cara memandang, bahwa perempuan dapat menjadi objek estetis yang sah untuk tidak memiliki nama, suara, atau kepastian eksistensi, asalkan ia “indah” untuk dipandang. Ruang dan Marginalisasi: Geografi Kekerasan Struktural Selain tubuh perempuan, tanda penting kedua dalam cerpen ini adalah ruang: “pulau tanpa nama.” Cerpen ini secara berulang-ulang menegaskan ketidaktahuan dan ketidakpedulian atas nama pulau tersebut: “sebuah pulau tanpa nama yang memang tak bernama tak pernah punya nama tak perlu punya nama tak usah punya nama untuk apa jika pulau itu memang tidak membutuhkan nama.” Narator bahkan menambahkan bahwa “hampir semua pulau di balik cakrawala itu tidak bernama, atau pernah punya nama tetapi tiada seorang pun di antara para nelayan yang merasa ingat nama-nama tersebut.” Galtung menjelaskan marginalisasi sebagai upaya menjaga kelompok lemah tetap berada di luar batas yang ditetapkan oleh pusat. Konteks penulisan “Makassar–Jakarta” memperkuat pembacaan ini, di mana wilayah di luar pusat kekuasaan (Jakarta) sering kali diperlakukan sebagai “pinggiran” yang eksotis namun tidak dianggap penting untuk diberi identitas yang setara. Selain itu, terdapat tanda fragmentasi sebagai upaya menjaga agar korban tetap berjauhan yang terlihat dari jarak struktural antara narator dan perempuan tersebut yang dirancang agar tidak pernah benar-benar bertemu “aku memang akan terlambat“; “tentunya aku akan terlambat,” “aku memang akan terlambat, senja telah lama menghitam dan menggelap.” Setiap kali narator hampir tiba, senja dan dengan demikian, kemungkinan pertemuan, telah berlalu. Jarak ini bukan sekadar jarak geografis atau temporal yang netral; ia adalah jarak struktural yang terus-menerus direproduksi oleh narasi itu sendiri, seolah-olah pertemuan antara “pusat” (narator, yang melaju dari luar pulau, membawa “perahu motor” yang menjadi simbol teknologi dan mobilitas yang berasal dari “luar”) dan “pinggiran” (perempuan dan pulau tanpa nama) memang dirancang untuk tidak pernah benar-benar terjadi. “Tiada Cerita”: Penghapusan sebagai Bentuk Kekerasan Tertinggi Jika kekerasan kultural bekerja melalui representasi yang menjadikan perempuan sebagai objek tanpa nama dan suara, dan kekerasan struktural bekerja melalui marginalisasi dan fragmentasi ruang pinggiran, maka kalimat penutup cerpen ini—“Tiada cerita”—dapat dibaca sebagai titik kulminasi dari kedua jenis kekerasan tersebut: penghapusan total atas eksistensi. Sepanjang cerpen, perempuan yang dirindukan narator memang tidak pernah memiliki nama atau suara, tetapi setidaknya ia “ada” sebagai objek imajinasi, sebagai kemungkinan, sebagai sesuatu yang dirindukan dan dicari. Namun pada paragraf penutup, bahkan kemungkinan eksistensi itu pun dicabut: “Tidak pernah ada seorang perempuan yang berjalan dengan kaki telanjang… Tidak ada pulau dan tidak ada pantai. Tidak ada lautan dan tidak ada senja. Tidak ada cinta dan tidak ada diriku. Tiada cerita.” Perempuan itu, yang sejak awal hanya hadir sebagai tanda, sebagai citra, sebagai proyeksi, kini bahkan dicabut statusnya sebagai tanda. Ia tidak lagi “ada-sebagai-objek”; ia “tidak-pernah-ada” sama sekali. Analogis untuk membaca kekerasan simbolik dalam cerpen ini ada saat penghapusan perempuan dalam cerpen yang terjadi bukan dalam satu pukulan, melainkan secara “perlahan” melalui akumulasi keraguan, pengandaian, dan negasi yang terus-menerus diulang sepanjang teks, hingga akhirnya mencapai titik penghapusan total. Tidak ada “pembunuhan” yang tampak; yang ada hanyalah sebuah proses penghapusan eksistensial yang berlangsung secara gradual dan, karena dibungkus dalam keindahan bahasa, terasa seperti sebuah perenungan filosofis biasa, bukan sebagai sebuah tindak kekerasan. Penutup Cerpen “Senja di Pulau Tanpa Nama” karya Seno Gumira Ajidarma, pada pembacaan pertama, adalah sebuah meditasi liris tentang cinta, kerinduan, dan ketidakpastian eksistensial dimana ada sebuah permainan filosofis antara ada dan tiada yang khas sastra postmodern. Namun, melalui kerangka semiotika kekerasan Johan Galtung, cerpen ini dapat dibaca ulang sebagai sebuah teks yang—di balik keindahan bahasanya—menyimpan dan mereproduksi tanda-tanda kekerasan kultural dan struktural yang tidak kasatmata: representasi perempuan sebagai tubuh tanpa nama, suara, dan subjektivitas; ruang pinggiran (“pulau tanpa nama”) yang termarginalkan dan terfragmentasi dari pusat; dan, pada akhirnya, penghapusan total atas eksistensi keduanya melalui kalimat penutup “Tiada cerita.” Pembacaan semacam ini tidak dimaksudkan untuk mengurangi nilai estetis cerpen SGA, melainkan untuk menunjukkan bahwa keindahan dan kekerasan tidak selalu berada di kutub yang berlawanan. Sebagaimana diingatkan oleh Galtung, kekerasan yang paling berbahaya sering kali adalah kekerasan yang tidak kelihatan atau kekerasan yang telah dinormalisasi sedemikian rupa sehingga ia tampil sebagai keindahan, sebagai kewajaran, atau bahkan sebagai “ketiadaan” itu sendiri. Membaca tanda-tanda kekerasan semacam ini dalam karya sastra adalah salah satu cara untuk, dengan meminjam istilah Galtung, mencari “struktur alternatif”—cara pandang dan cara menulis yang memberi nama, suara, dan eksistensi yang setara kepada semua pihak, termasuk kepada perempuan dan ruang-ruang yang selama ini dibiarkan “tanpa nama.” *** Joan Delanoue Denting Sanitia Merdu, Penulis adalah Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma Post Views: 47 Navigasi pos Membaca Kekerasan Dalam Cerita Rakyat Sangkuriang Legenda Tangkuban Perahu Analisis Puisi Duka-Mu Abadi Dalam Perspektif Formalisme Rusia