Analisis Segitiga Kekerasan Johan Galtung dalam Film Pangku Karya Reza Rahadian Oleh : Monica Natashya Agatha Hehakaya (244114005) Mahasiswi Prodi Sastra Universitas Sanata Dharma Yogjakarta WARTA-NUSANTARA.COM— Perbincangan mengenai kekerasan perempuan, ketimpangan gender dalam ruang sosial terus berputar sebagai isu yang krusial dan belum menemukan titik terang. Di era sekarang yang mengagungkan kesetaraan, justru realitasnya sering kali menunjukkan hal sebaliknya. Perempuan masih saja menjadi kelompok yang paling rentan mengalami penindasan, baik dalam lingkup domestik maupun lingkup publik. Ketimpangan gender ini tidak jarang menempatkan peran bahkan tubuh perempuan sebagai objek eksploitasi. Keadaan itu memaksa mereka berada dalam posisi-posisi ekstrem hingga mengorbankan martabat, harga dirinya sebagai perempuan. Potret memilukan mengenai ketimpangan gender hingga membuat hilangnya harga diri seorang perempuan direkam secara sinematik oleh Reza Rahadian melalui filmnya yang berjudul Pangku. Bercerita tentang perjuangan ibu tunggal bernama Sartika yang sedang mengandung harus mempertaruhkan harga dirinya menjadi seorang pelayan di sebuah warung kopi tempat para sopir truk singgah, bahkan ketika anaknya sudah lahir, ia tetap melakukan pekerjaan itu demi menafkahi anaknya. Keputusan moral yang diambil oleh Sartika dalam film ini menjadi cerminan nyata bahwa manusia sering kali tidak memiliki pilihan bebas ketika berhadapan dengan tuntutan hidup. Analisis ini dibuat untuk membongkar lapis demi lapis penindasan yang dialami oleh tokoh utama dalam film Pangku, menggunakan teori Segitiga Kekerasan (Violence Triangle) yang dirumuskan oleh Johan Galtung. Melalui teori Johan Galtung, penderitaan yang dihadapi oleh tokoh utama tidak lagi dipandang sebelah mata, penderitaan yang dihadapi oleh Sartika termasuk dalam kekerasan struktural berupa kemiskinan yang membelenggu serta kekerasan kultural yang mewajarkan situasi tersebut. Berdasarkan pemikiran tersebut, analisis ini akan menguliti bagaimana manifestasi ketiga dimensi kekerasan dalam teori Johan Galtung direpresentasikan melalui simbol visual film Pangku. Representasi Kekerasan Langsung (Direct Violence) Dalam teori Johan Galtung, kekerasan langsung bersifat tidak terlalu terlihat dan langsung mengenai psikologis Sartika. Kekerasan ini dapat dilihat melalui pekerjaan yang dijalani oleh tokoh utama, di mana ia harus melayani pelanggan laki-laki dengan cara duduk di pangkuan mereka demi mendapatkan uang. Tindakan objektifikasi tubuh ini merupakan bentuk kekerasan langsung yang mengeksploitasi fisik perempuan secara terus-menerus. Efek psikologis dari kekerasan langsung ini juga terwujud dalam ruang domestik yakni melalui konflik batin dengan Putranya, Bayu. Anaknya secara langsung menyatakan kalau ia tidak menyukai ibunya harus dipangku oleh laki-laki lain. Bentuk diskriminasi lainnya dilihat dari penolakan dokumen pendaftaran sekolah Bayu, dokumen tersebut ditolak karena nama ayah kandung dan data kependudukan mereka yang nihil. Akibat masalah tersebut, stabilitas psikologis ibu dan anak tersebut terganggu. Jeratan Kekerasan Struktural (Structural Violence) Kekerasan struktural terjadi tanpa disadari melalui sistem sosial dan ekonomi yang membatasi kapasitas seseorang untuk hidup layak. Reza Rahadian menempatkan latar cerita di jalur Pantura dan dialog salah satu tokoh yang menyatakan, “Pabrik sudah banyak yang tutup. Lagi krismon gini susah cari kerja,” penonton disuguhkan realitas runtuhnya struktur ekonomi negara yang berdampak langsung pada kelas bawah. Kekerasan struktural inilah yang merenggut alternatif hidup pilihan Sartika. Sebagai ibu tunggal yang bermigrasi tanpa modal, minimnya lapangan pekerjaan memaksa Sartika masuk ke pekerjaan yang tidak mempunyai perlindungan hukum, pendapatan upah yang sangat rendah bahkan tanpa jaminan sosial. Struktur ketimpangan ini membelenggu Sartika dalam lingkaran utang budi kepada Bu Maya (orang yang memberinya tempat tinggal dan pekerjaan), hal ini membuktikan bahwa mereka terperangkap dalam siklus kemiskinan yang berakibat menjadi mesin penindas yang memaksa perempuan menukar martabatnya demi bertahan hidup. Legitimasi Tradisi dalam Kekerasan Struktural (Cultural Violence) Kekerasan kultural adalah aspek dalam segitiga Johan Galtung yang berfungsi melegitimasi atau membenarkan kekerasan langsung dan struktural melalui nilai budaya, tradisi, atau pola pikir kolektif masyarakat. Di dalam film Pangku, kelanggengan bisnis kopi pangku di Pantura merupakan produk dari kekerasan kultural berbasis patriarki. Bu Maya berperan sebagai kepanjangan tangan dari budaya ini ketika ia merayu Sartika dengan dalih rasionalisasi, dilihat dari kutipan berikut “Kalau mau kerja di warung, Cuma bikin kopi, duduk-duduk, gampang kan?” Pernyataan ini menormalisasikan eksploitasi seksual terselubung sebagai bentuk pekerjaan yang biasa bagi perempuan miskin. Lebih jauh, budaya patriarki di masyarakat mewajarkan stigma “nomor dua” bagi perempuan sekaligus menuntut pengorbanan sesuatu yang berharga dari seorang ibu demi anaknya. Istilah “pangku” beralih rupa menjadi simbol yang mengejek, karena kebudayaan masyarakat melegitimasi bahwa kodrat perempuan memiliki tugas “memangku” untuk memenuhi kebutuhan nafsu laki-laki, dan memikul rasa malu sosial sendirian. Penutup Melalui analisis menggunakan Segitiga Kekerasan Johan Galtung, film Pangku karya Reza Rahadian membuktikan bahwa penderitaan perempuan kelas bawah merupakan muara dari sistem sosial yang korosif. Ketiga dimensi kekerasan Galtung bekerja secara bersamaan dalam mengunci kehidupan Sartika. Akar masalah dimulai dari kekerasan struktural berupa krisisi ekonomi yang merenggut martabat Sartika. Struktur yang timpang ini kemudian dilegitimasi oleh kekerasan kultural patriarki melalui normalisasi lingkungan warung kopi pangku yang mengemas eksploitasi tubuh perempuan sebagai hal lumrah demi pengorbanan seorang ibu. Bersekutunya kultur dan struktur tersebut pada akhirnya memicu kekerasan langsung permukaan yang tidak terlihat. Manifestasi ini tidak hanya berupa objektifikasi fisik yang dialami Sartika sehari-hari, tetapi juga menyerang ranah psikologis lewat konflik batin dengan putranya, Bayu, hingga penolakan institusional pada hak pendidikan sang anak. Pada akhirnya, film ini memberikan kritik visual yang tajam bahwa agensi seorang perempuan dipaksa runtuh oleh tembok penindasan, dan pemulihan terhadap isu ini tidak akan pernah selesai jika masyarakat hanya sibuk menghakimi moralitas korban tanpa membongkar akar struktur yang mengikatnya. *** Monica Natashya Agatha Hehakaya (244114005), Penulis adalah Mahasiswi Prodi Sastra Universitas Sanata Dharma Yogjakarta Post Views: 20 Navigasi pos Kekerasan yang Tak Boleh Disaksikan: Analisis Cerpen Saksi Karya Seno Gumira Ajidar Johan Galtung Mata madalam Perspektif Teori Kekerasan Representasi Kapitalisme Dalam Novel Pabrik Karya Putu Wijaya : Kajian Formalisme Rusia