Robert Bala, dan Cover Buku, Berbuah di Usia Senja

KASIH ITU BERBUAH

Oleh : Robert Bala

“Aku telah memilih kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap.” (Yohanes 15:16)

WARTA-NUSANTARA.COM—  Banyak orang mengira bahwa menjadi orang Kristen berarti menjadi orang baik. Memang benar, kekristenan mengajarkan kebaikan. Namun Injil hari ini mengajak kita melangkah lebih jauh. Yesus tidak hanya memanggil kita untuk menjadi baik, tetapi juga untuk berbuah.

Sebuah pohon tidak dinilai dari tinggi batangnya, lebat daunnya, atau kuat akarnya. Pada akhirnya, pohon dinilai dari buah yang dihasilkannya. Pohon mangga yang sehat akan menghasilkan mangga, bukan sekadar daun yang hijau. Demikian pula seorang murid Kristus. Iman tidak cukup hanya tampak dalam doa yang panjang, pengetahuan Kitab Suci yang luas, atau kesetiaan menghadiri ibadah. Iman yang sejati selalu menghasilkan buah yang dapat dinikmati oleh orang lain.

Yesus berkata, “Aku memilih kamu supaya kamu pergi dan menghasilkan buah.” Perhatikan bahwa Yesus tidak berkata, “supaya kamu merasa nyaman” atau “supaya kamu dikenal sebagai orang saleh.” Sebaliknya, Ia mengutus para murid untuk menghadirkan buah-buah kasih di tengah dunia. Pilihan Allah selalu mengandung sebuah misi. Kita dipilih bukan untuk menjadi penonton, melainkan pelaku kasih.

Lalu, seperti apakah buah yang diharapkan Tuhan? Buah kasih pertama tampak dalam karakter yang semakin lembut. Orang yang hidup di dalam kasih Kristus tidak mudah dikuasai amarah, dendam, atau kebencian. Ia belajar sabar ketika disakiti, tetap rendah hati ketika dipuji, dan tetap tenang ketika menghadapi persoalan. Semakin dekat seseorang dengan Kristus, semakin tampak kelembutan hati dalam tutur kata dan tindakannya.

Buah kasih juga terlihat dalam keluarga yang semakin damai. Rumah tangga bukanlah tempat orang-orang yang sempurna berkumpul, melainkan tempat orang-orang yang terus belajar saling mengasihi dan mengampuni. Kasih membuat suami dan istri lebih mudah meminta maaf, orang tua lebih sabar mendampingi anak-anaknya, dan anak-anak lebih menghormati orang tuanya. Kehadiran Kristus mengubah rumah menjadi tempat bertumbuhnya kasih, bukan arena pertengkaran.

Di tempat kerja, kasih menghasilkan kejujuran dan integritas. Dunia mungkin menganggap bahwa kejujuran sering kali merugikan. Namun orang yang hidup dalam kasih Kristus tahu bahwa kejujuran adalah bentuk penghormatan kepada Allah dan sesama. Ia menolak korupsi, manipulasi, dan kebohongan, sekalipun harus membayar harga yang tidak murah. Kasih selalu berjalan beriringan dengan kebenaran.

Di sekolah, kasih melahirkan budaya saling menghargai. Guru yang mengasihi akan mendidik dengan kesabaran, bukan dengan kemarahan. Murid yang hidup dalam kasih akan menghormati guru dan menerima teman-temannya tanpa membeda-bedakan. Sekolah bukan hanya tempat mengejar prestasi akademik, tetapi juga tempat membentuk manusia yang mampu mengasihi.

Dalam kehidupan bermasyarakat, kasih menghasilkan semangat saling melayani. Dunia semakin dipenuhi sikap individualistis. Banyak orang lebih sibuk bertanya, “Apa yang saya dapat?” daripada “Apa yang dapat saya berikan?” Padahal kasih selalu mendorong seseorang keluar dari dirinya sendiri. Orang yang mengasihi akan peka terhadap penderitaan tetangganya, peduli kepada mereka yang lemah, dan bersedia menjadi bagian dari solusi, bukan menambah persoalan.

Kasih sejati tidak pernah berhenti sebagai perasaan. Kasih selalu berubah menjadi tindakan yang menghadirkan kehidupan. Santo Agustinus pernah mengatakan, “Ukuran kasih adalah mengasihi tanpa ukuran.” Sementara itu, Mother Teresa mengingatkan bahwa “Bukan seberapa banyak yang kita lakukan, melainkan seberapa besar kasih yang kita letakkan dalam setiap tindakan.” Kasih selalu dapat dikenali melalui buah yang dihasilkannya.

Karena itu, Injil hari ini mengundang setiap kita untuk melakukan pemeriksaan batin yang sederhana tetapi sangat mendalam. Seandainya Tuhan datang hari ini dan memetik buah dari pohon kehidupan kita, apakah yang akan Ia temukan? Apakah Ia akan menemukan kasih, kesabaran, pengampunan, kejujuran, kerendahan hati, dan kepedulian? Ataukah pohon hidup kita hanya dipenuhi daun-daun kesibukan tanpa buah yang dapat dinikmati sesama?

Kiranya pertanyaan itu tidak membuat kita takut, melainkan mendorong kita untuk terus tinggal di dalam Kristus. Sebab hanya ranting yang melekat pada pokok anggur yang mampu menghasilkan buah. Semakin kita tinggal dalam kasih-Nya, semakin hidup kita akan menjadi berkat bagi keluarga, Gereja, tempat kerja, sekolah, dan masyarakat.

Pada akhirnya, dunia tidak terutama membutuhkan lebih banyak orang yang pandai berbicara tentang kasih. Dunia membutuhkan lebih banyak orang yang menghasilkan buah kasih. Sebab buah itulah yang menjadi kesaksian paling nyata bahwa Kristus sungguh hidup di dalam diri kita.

Robert Bala. Penulis buku BERBUAH DI USIA SENJA. Penerbit Kanisius Jogjakarta Cetakan ke-3.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *