Gubernur NTT Melki Laka Lena Hadiri Syukuran Pesta Perak Kaul Monastik Dua Suster Benediktin Kupang, 7 Juli 2026 KUPANG : WARTA-NUSANTARA.COM— Gubernur Nusa Tenggara Timur Emanuel Melkiades Laka Lena, menghadiri Perayaan Syukur 25 Tahun Pesta Perak Kaul Monastik Sr. Maria Scolastika Nuwa OSB dan Sr. Maria Grazia Wona OSB di Komunitas Monastik Rubiah Benediktin Monastero Santa Maria Delle Grazie, Sikumana, Kupang, Selasa (7/7/2026) malam. Perayaan bertema “Mengutamakan Cinta Kristus di Atas Segala-galanya” diawali dengan Ekaristi yang dipimpin Uskup Agung Kupang, Mgr. Hironimus Pakaenoni, bersama para imam konselebran. Dalam sambutannya, Gubernur menyampaikan ucapan selamat dan terima kasih kepada kedua suster yang telah mengabdikan diri selama 25 tahun dalam hidup membiara. “Atas nama Pemerintah Provinsi dan masyarakat Nusa Tenggara Timur, saya mengucapkan selamat dan terima kasih atas kesetiaan kedua suster. Panggilan Tuhan tidak hanya diwujudkan melalui janji yang diucapkan, tetapi terutama melalui kesetiaan menjalani kehidupan doa, karya, keheningan, dan pelayanan dengan penuh kerendahan hati,” ujar Gubernur. Menurut Gubernur, di tengah berbagai perubahan yang terjadi saat ini, kehidupan membiara menjadi tanda harapan bahwa nilai-nilai iman, doa, pelayanan, dan kasih tetap menjadi fondasi kehidupan bersama. Karena itu, Pemerintah Provinsi NTT mengapresiasi Gereja Katolik yang selama ini menjadi mitra strategis pemerintah dalam membangun masyarakat melalui pelayanan di berbagai bidang. Ia juga memohon dukungan doa dari komunitas monastik bagi pemerintah dalam menjalankan amanah melayani masyarakat. “Kami semua mohon didoakan. Dukungan doa para suster sangat berarti bagi kami yang setiap hari menghadapi berbagai tantangan. Biara yang kontemplatif seperti ini juga menjadi oase yang menghadirkan ketenangan dan kekuatan bagi siapa saja yang datang,” ungkapnya. Mewakili para pesta perak, Sr. Maria Scolastika Nuwa OSB mengungkapkan rasa syukur atas penyertaan Tuhan yang membimbing perjalanan panggilan mereka hingga genap 25 tahun. Ia menyampaikan terima kasih kepada Uskup Agung Kupang, mengenang almarhum Uskup Petrus Turang yang mempercayakan pelayanan komunitas Benediktin di tempat tersebut, serta mengapresiasi kehadiran Gubernur NTT yang turut bersyukur bersama mereka. Ia mengenang masa-masa awal panggilan, termasuk tantangan mempelajari bahasa Italia ketika menjalani masa pembinaan. Berkat dukungan para suster pendahulu, berbagai kesulitan dapat dilalui hingga akhirnya mereka tetap teguh dalam panggilan. Sr. Maria Scolastika juga menceritakan awal kehadiran komunitas Benediktin di Indonesia pada tahun 2007. Saat itu, lokasi biara masih berupa lahan kosong yang hanya ditumbuhi sebatang pohon pepaya. Seiring berjalannya waktu, dengan penyelenggaraan Tuhan dan dukungan banyak pihak, komunitas tersebut berkembang menjadi rumah doa yang melayani Gereja dan masyarakat. Sebagai komunitas Benediktin, para suster menghidupi semangat Ora et Labora (Berdoa dan Bekerja) dengan menghayati nilai stabilitas, pertobatan yang terus-menerus, dan ketaatan. Selain mendoakan Gereja, bangsa, dan masyarakat, mereka juga berkarya, di antaranya menjahit kasula dan berbagai perlengkapan liturgi bagi para imam. Sementara itu, Uskup Agung Kupang, Mgr. Hironimus Pakaenoni, mengajak seluruh umat untuk mensyukuri perjalanan panggilan kedua suster yang telah setia mengabdikan hidupnya kepada Tuhan selama seperempat abad. “25 tahun adalah perjalanan rahmat, kesetiaan, doa, dan kasih yang terus dipersembahkan kepada Tuhan dan Gereja,” katanya. Mengutip semboyan Benediktin Ut in omnibus glorificetur Deus (Semoga dalam segala sesuatu Allah dimuliakan), Uskup mengajak umat menjadikan setiap pikiran, perkataan, doa, dan pergumulan hidup sebagai pujian kepada Allah. Menurutnya, kehidupan monastik menjadi kesaksian yang indah melalui kesederhanaan, doa, dan persaudaraan yang terus menghadirkan harapan bagi Gereja dan masyarakat. Dalam suasana penuh keakraban, Uskup juga mengenang bahwa menjelang perayaan 25 tahun imamatnya, ia pernah meminta para suster menjahit kasula yang dikenakannya. “Setelah itu saya menjadi uskup. Mungkin karena doa para suster yang menjahit kasula saya,” ujarnya yang disambut tawa dan tepuk tangan umat. Perayaan syukur ini menjadi ungkapan terima kasih atas kesetiaan dua suster Benediktin dalam menghidupi panggilan Tuhan, sekaligus menjadi pengingat bahwa doa, kesederhanaan, dan pelayanan yang dijalani dengan setia akan terus menjadi kekuatan bagi Gereja, masyarakat, dan pembangunan di Nusa Tenggara Timur. ***(Siaran Pers Biro Administrasi Pimpinan Setda Pemerintah Provinis NTT, diterima Warta-Nusantara.Com, Penulis : Oan Wutun Foto : Dio Ceunfin Vdeo : Ady Hau) Post Views: 19 Navigasi pos Gubernur NTT Ajak OMK Bangun Literasi, Jadi Penggerak Ekonomi, dan Terlibat dalam Politik pada Penutupan Nusra Youth Day III di Maumere