Alwan Suban

 

Ikhtiar Mewujudkan Episentrum Peradaban Islam Lamakera Berkelanjutan

(Sebuah Gagasan Integrasi Tradisi, Iman, dan Sains)

0leh : Alwan Suban.

ABSTRAK

WARTA-NUSANTARA.COM—  Lamakera, sebuah kampung di pesisir Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, memiliki jejak panjang sebagai pusat penyebaran Islam di wilayah timur Indonesia. Sejarah mencatat Lamakera bukan hanya sebagai komunitas nelayan, tetapi juga sebagai simpul peradaban yang memadukan nilai Islam, kearifan lokal, dan semangat bahari. Artikel ini bertujuan untuk menarasikan dan merumuskan ikhtiar strategis dalam mewujudkan Lamakera sebagai episentrum peradaban Islam yang berkemajuan.

Konsep “episentrum” di sini dimaknai sebagai pusat getaran ilmu, iman, dan amal yang dampaknya menyebar ke wilayah sekitar. Dengan pendekatan kualitatif-deskriptif dan analisis berbasis Maqashid Syariah, artikel ini mengusulkan 3 pilar ikhtiar : penguatan iman yang mencerahkan, integrasi ilmu yang membumi, dan kemajuan yang beradab. Hasil gagasan ini diharapkan menjadi pijakan akademik dan praktis bagi pengembangan Lamakera sebagai model peradaban Islam kontemporer di kawasan 3T.

Kata Kunci: Episentrum Peradaban, Islam Berkemajuan, Lamakera, Integrasi Ilmu, Kearifan Lokal

PENDAHULUAN

Peradaban tidak dibangun oleh tembok dan menara, tetapi oleh manusia yang berpikir, beriman, dan beramal. Ibn Khaldun dalam Muqaddimah menegaskan bahwa tegaknya peradaban ditentukan oleh ‘ashabiyah dan kapasitas intelektual umatnya. Lamakera adalah salah satu bukti historis dari tesis tersebut. Sejak abad ke-17, Lamakera telah menjadi pusat dakwah dan pendidikan Islam di Nusa Tenggara Timur. Tradisi lisan, masjid tua, dan praktik lefa hukum adat berbasis syariah menjadi bukti bahwa Islam telah berakar dan membudaya.

Namun, tantangan zaman menuntut transformasi, Globalisasi, kemiskinan struktural, dan keterisolasian geografis membuat Lamakera berisiko menjadi “museum peradaban” bukan “pusat peradaban”. Oleh karena itu muncul gagasan bagaimana mengikhtiarkan Lamakera kembali sebagai Episentrum Peradaban Islam yang berkemajuan. Artikel ini menawarkan kerangka konseptual dan strategi ikhtiar tersebut.

TINJAUAN KONSEPTUAL

Episentrum Peradaban Islam
Istilah episentrum dipinjam dari seismologi: titik awal getaran yang energinya merambat. Dalam konteks peradaban, episentrum adalah komunitas yang menjadi sumber produksi gagasan, kader, dan model pemberdayaan yang direplikasi wilayah lain.

Dalam tradisi Islam, episentrum pernah diwakili oleh Baghdad pada masa Abbasiyah, Cordoba pada masa Andalusia, dan Ternate-Tidore di Nusantara Timur. Ciri utamanya: pusat ilmu, pusat ekonomi syariah, dan pusat akhlak.

2. Islam Berkemajuan
Konsep ini merujuk pada pemikiran Muhammadiyah dan Maqashid Syariah: Islam yang tidak hanya ritual, tetapi menghadirkan rahmatan lil ‘alamin. Berkemajuan berarti: memajukan akal, memakmurkan bumi, dan memuliakan manusia tanpa meninggalkan identitas keislaman.

3. Kearifan Lokal Lamakera
Nilai adat lefa, Rarang kame moi hala, Hope suban Nuru Rarang, Tale-tale rante-rante kera moring dore hala ,Solidaritas gong dan belis, serta tradisi berburu paus yang beretika adalah modal sosial. Ini bukan untuk dilestarikan secara kaku, tetapi untuk ditransformasikan menjadi sumber daya peradaban.

C. PEMBAHASAN TIGA PILAR IKHTIAR

Untuk mewujudkan Lamakera sebagai episentrum, diperlukan ikhtiar terstruktur pada 3 pilar:
Pilar Pertama: Iman yang Mencerahkan.
Tujuan : Mengembalikan masjid dan Mushallah, lembaga pendidikan dan Balai adat sebagai pusat peradaban.
Strategi:
a. Revitalisasi Pendidikan Diniyah: Pendidikan taman baca Al’quran berbasis hafalan Qur’an dan literasi digital.dan lembaga Pendidikan, Implementasinya Kolaborasi antara guru ngaji, orang tua, Masayarakat dan lembaga pendidikan (GURU) dibawah koordinasi Kepala sekolah tiap tingkatan.
b. Kaderisasi Tenaga pemikir-Intelektual ;
Mengirim putra-putri Lamakera kuliah di berbagai Perguruan Tinggi sesuai dengan Kebutuhan lalu kembali membangun Lamakera.
c. Dakwah Kultural:
Mengintegrasikan nilai Islam dalam seni, pantun adat, dan khutbah Jumat.
Hasil yang diharapkan: Lahirnya generasi yang hafidz Qur’an, Pemikir, dan mengusai Sains dan tehnologi digital
Pilar Kedua: Ilmu yang Membumi
Tujuan : Mengintegrasikan wahyu dan sains, tradisi dan teknologi.
Strategi:
a. Pusat Riset Bahari dan Etnobiologi: Mengkaji tradisi berburu ikan paus, ikan pari, dan ikan lainnya dari sisi biologi, etika, dan ekonomi berkelanjutan.
b. Ekonomi Kreatif Berbasis Kearifan lokal : Tenun ikat, garam, dan hasil laut dikelola dengan manajemen syariah.
c. Digitalisasi Masjid: Masjid dan Mushallah dan Rumah Al-quran sebagai community learning center dengan akses internet, pelatihan UMKM, dan bank data desa.
Ini adalah bentuk tauhid ilmu: tidak ada dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum dan Adat istiadat.
Pilar Ketiga: Kemajuan yang Beradab.
Tujuan: Membangun kesejahteraan tanpa mengorbankan nilai.
Strategi:
a. Tata Kelola Berbasis Maqashid: Pembangunan dari terjaganya agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.
b. Kepemimpinan Kolektif: Kolaborasi antara Imam, Kepala Desa, Tokoh Adat,/tujuh suku dan Akademisi/Guru dan Dosen.
c. Jejaring Episentrum: Menjalin kerjasama dengan berbagi Perguruan Tinggi, lembaga/intransi Pemerintah dan swasta. (UIN, Muhammadiyah, Pepabri, dan pesantren di Pulau jawa, di Sulawesi, dan NTT.
Kemajuan sejati adalah ketika indeks kebahagiaan naik bersamaan dengan indeks kesalehan sosial.

4. PENUTUP.

Lamakera memiliki 3 modal besar: sejarah, identitas, dan semangat. Yang dibutuhkan sekarang adalah ikhtiar sistematis untuk menyalakan kembali “getaran” itu.
Sebagaimana ayat Al Qur’an mengingatkan: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” QS. Ar-Ra’d: 11.
Epistentrum tidak jatuh dari langit. Ia dibangun oleh ikhtiar. Dan ikhtiar itu, hari ini, dimulai dari Lamakera.

Tentang Penulia:
Dr. Drs. Alwan Suban, M. Ag. Lahir di Lamakera, 12 Juli 1962, adalah ASN, Dosen UIN Alaudin-Makasar. Pascaserjana Universitas Muslim Indonesia (2022) Makasar, Kosentrasi Manajemen Pendidikan Islam. Ketua Umum Yamali Periode 2026-2029. Tinggal di Makasar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *