JANGAN CABUT DULU !!! Ide inspiratif Homili Minggu Biasa ke XVI, 19 Juli 2029. Bacaan Injil Matius Matius 13:24–43 Oleh : Robert Bala “Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai.” (Matius 13:30) WARTA-NUSANTARA.COM— Kita hidup di zaman yang serba cepat. Segala sesuatu diharapkan berubah seketika. Ketika sebuah aplikasi lambat beberapa detik saja, kita mulai kesal. Ketika makanan datang terlambat beberapa menit, kita mengeluh. Tanpa sadar, budaya serba instan itu juga memengaruhi cara kita memperlakukan sesama. Kita ingin anak-anak segera berubah menjadi penurut. Kita berharap pasangan langsung memahami apa yang kita inginkan tanpa perlu banyak penjelasan. Kita menginginkan murid-murid segera disiplin setelah sekali dinasihati. Kita berharap bawahan langsung bekerja sempurna tanpa kesalahan. Bahkan dalam hidup rohani, kita ingin doa segera dijawab dan pertobatan segera terlihat. Ketika kenyataan tidak sesuai harapan, kita menjadi kecewa. Kita mulai memberi label kepada orang lain: “Anak ini memang nakal.” “Dia memang tidak bisa berubah.” “Orang itu tidak akan pernah menjadi baik.” Tanpa sadar, kita telah menjadi hakim atas perjalanan hidup seseorang. Namun Yesus memberikan sebuah cara pandang yang sangat berbeda melalui perumpamaan tentang gandum dan lalang. Ketika para hamba ingin segera mencabut lalang yang tumbuh di tengah gandum, sang tuan justru berkata, “Jangan dulu. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai.” Jawaban itu mungkin terdengar aneh. Bukankah lalang harus segera disingkirkan? Bukankah kejahatan harus segera diberantas? Tentu Allah tidak pernah membenarkan kejahatan. Namun Allah juga mengetahui sesuatu yang sering tidak kita pahami: manusia masih bisa berubah. Di balik kesalahan hari ini, masih ada kemungkinan pertobatan esok hari. Di balik kegagalan seseorang, masih tersimpan masa depan yang belum terlihat. Allah lebih sabar daripada manusia. Kita melihat keadaan seseorang hari ini. Allah melihat seluruh perjalanan hidupnya. Kita melihat kesalahannya. Allah melihat potensinya. Kita melihat masa lalunya. Allah melihat masa depannya. Karena itulah Allah memberi waktu. Kesabaran-Nya bukan tanda kelemahan, melainkan ungkapan kasih yang membuka ruang bagi pertobatan. Lihatlah kisah banyak orang kudus. Dahulu mereka bukan pribadi yang sempurna. Ada yang pernah menganiaya Gereja, hidup dalam dosa, atau tenggelam dalam ambisi duniawi. Namun karena Allah tidak terburu-buru “mencabut mereka”, mereka akhirnya bertumbuh menjadi gandum yang menghasilkan buah berlimpah. Andaikan Allah menghakimi mereka hanya berdasarkan masa lalu, dunia mungkin tidak pernah mengenal kesaksian hidup mereka. Bukankah kita sendiri juga mengalami hal yang sama? Betapa sering kita jatuh, gagal, mengecewakan orang lain, bahkan mengecewakan Tuhan. Namun setiap kali kita bertobat, Tuhan tidak berkata, “Sudah terlambat.” Sebaliknya, Dia selalu memberi kesempatan baru. Kesabaran Allah terhadap kita seharusnya menjadi alasan mengapa kita juga belajar bersabar terhadap sesama. Renungan ini juga menjadi cermin bagi para orang tua, guru, pemimpin, dan siapa pun yang dipercaya membimbing orang lain. Mendidik manusia bukan seperti memperbaiki mesin yang rusak. Manusia bertumbuh melalui proses. Karakter dibangun sedikit demi sedikit. Kebiasaan baik lahir dari latihan yang terus-menerus. Karena itu, kesabaran bukan berarti membiarkan kesalahan, melainkan mendampingi seseorang agar memiliki kesempatan untuk berubah. Mungkin hari ini ada seseorang yang sedang membuat kita kecewa. Mungkin ada anak yang sulit diatur, murid yang belum menunjukkan perubahan, rekan kerja yang sering melakukan kesalahan, atau anggota keluarga yang belum menjadi seperti yang kita harapkan. Injil hari ini mengajak kita untuk tidak tergesa-gesa memberi cap atau memutuskan harapan. Selama Tuhan masih memberi waktu, selalu ada kemungkinan bagi seseorang untuk bertumbuh. Barangkali orang yang hari ini tampak seperti “lalang” justru sedang dipersiapkan Tuhan untuk menjadi “gandum” yang menghasilkan panen berlimpah. Dan mungkin, tanpa kita sadari, kita sendiri pernah menjadi “lalang” yang diselamatkan oleh kesabaran Allah. Marilah kita belajar memiliki hati yang menyerupai hati Tuhan: tegas terhadap dosa, tetapi penuh belas kasih kepada pendosa; berani menegur, tetapi tidak kehilangan harapan; sabar mendampingi, karena kita percaya bahwa kasih Allah mampu mengubah siapa pun. Sebab pada akhirnya, tugas kita bukan terburu-buru mencabut lalang, melainkan setia menumbuhkan gandum. Penghakiman adalah milik Tuhan, tetapi kasih dan kesabaran adalah panggilan kita. Robert Bala. Penulis buku INSPIRASI HIDUP: Pengalaman Sederhana Sarat Makna. Penerbit Kanisius Yogyakarta. Post Views: 23 Navigasi pos Evaluasi Kinerja Penyuluh Agama Katolik di Lembata: Refleksi, Profesionalisme, dan Pelayanan Bermakna