Kolaborasi Menuju Episentrum Peradaban Islam Refleksi Pasca Reuni VII Diaspora Lamakera dan Munas II YAMALI Tahun 2026: Menuju Lamakera yang Berkemajuan Oleh : Ali Wahid, S. PdI “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11) WARTA-NUSANTARA.COM— Alhamdulillāh. Reuni VII Diaspora Lamakera dan Musyawarah Nasional (Munas) II Yayasan Amal Lamakera Indonesia (YAMALI) Tahun 2026 telah resmi ditutup. Namun, mari kita luruskan persepsi: yang berakhir hanyalah seremonial acaranya. Yang sesungguhnya baru dimulai adalah maraton panjang membangun masa depan Lamakera. Reuni kali ini bukan sekadar ajang pelepas rindu atau pesta pora nostalgia. Ia adalah momentum strategis untuk menyatukan hati, menyinkronkan langkah, dan memperbarui ikrar pengabdian. Dari berbagai penjuru Nusantara, putra-putri terbaik Lamakera pulang membawa bekal berharga: pengalaman, ilmu, jejaring luas, dan segudang harapan. Mereka pulang bukan hanya untuk mengenang masa lalu, tetapi untuk meneguhkan komitmen membangun Lamakera yang berkemajuan—sebuah entitas yang berakar kuat pada nilai-nilai Islam, kearifan budaya lokal, dan ikatan persaudaraan yang tak terputus. Reka’ Lamak: Simbol Persatuan di Teras Masjid Semangat kolaborasi tersebut menemukan simbol fisik yang indah dalam tradisi Reka’ Lamak. Hamparan tikar lamak di teras Masjid Al-Ijtihad bukan sekadar alas untuk menikmati hidangan bersama. Lebih dari itu, ia adalah ruang egaliter yang menghapus sekat-sekat sosial. Di atas tikar itu, jabatan, gelar, dan status ekonomi melebur. Yang tersisa hanyalah ukhuwah. Tradisi ini mengingatkan kita pada satu fakta fundamental: tidak ada peradaban besar yang lahir dari individu yang terisolasi. Peradaban lahir dari kebersamaan. Dari teras masjid inilah tumbuh keyakinan baru bahwa masjid bukan lagi sekadar tempat sujud, melainkan pusat pendidikan, ruang musyawarah strategis, pusat pemberdayaan umat, dan inkubator bagi gagasan-gagasan besar. Teras Masjid: Tempat Kopi Diseruput, Gagasan Dilahirkan Masya Allah, ternyata bukan hanya formalitas rapat yang melahirkan peradaban. Di teras Masjid Al-Ijtihad, secangkir kopi panas, kesegaran air kelapa muda, dan bahkan sebatang rokok yang dihisap santai pun bisa berubah menjadi “laboratorium pemikiran” yang luar biasa. Setiap selesai Maghrib hingga menjelang Isya, waktu-waktu tersebut bukan sekadar jeda menunggu salat berjamaah. Itu adalah momen turunnya “wahyu-wahyu sosial”—ide-ide besar yang lahir dari canda tawa yang penuh hikmah dan perbincangan ringan yang menguatkan sendi-sendi peradaban. Di sanalah, batas-batas kaku runtuh, dan kreativitas mengalir deras. Semoga Allah memberkahi setiap canda yang melahirkan makna dan setiap diskusi yang memperkuat fondasi umat. Estafet Empat Tokoh: Dari Tauhid hingga Karya Nyata Perjalanan menuju cita-cita “Episentrum Peradaban Islam” bukanlah proses instan. Ia adalah hasil estafet pengabdian para pendahulu yang patut kita hormati: 1. H. Ibrahim Dasi: Meletakkan fondasi paling dasar, yaitu tauhid, keberanian, dan persatuan umat. 2. H. Abdusy Syukur Ibrahim Dasi: Membangun jalan peradaban melalui institusi pendidikan dan kelembagaan Islam yang kokoh. 3. Ali Thaher Parasong: Memperluas cakrawala visi dengan gagasan besar menjadikan Lamakera sebagai Episentrum Peradaban Islam. 4. Ahmad Yohan: Menerjemahkan visi menjadi karya nyata melalui Mushollah Baburrahmah, Bayt Al-Qur’an, dan Rumah Baca sebagai ruang pembinaan iman, ilmu, dan literasi. Empat tokoh ini membuktikan rumus sederhana namun mendalam: Tauhid melahirkan persatuan, persatuan memungkinkan pendidikan, pendidikan melahirkan visi, dan visi mewujud dalam karya nyata. Kini, tongkat estafet itu berada di tangan generasi diaspora. Filosofi “Anak Kampung” dan Adab Peradaban Gagasan ini sejalan dengan pemikiran Dr. Anwar Abbas dalam bukunya, Respons Anak Kampung untuk Umat, Bangsa, dan Dunia. Beliau menegaskan bahwa kebesaran seseorang tidak ditentukan oleh ukuran kampung halamannya, melainkan oleh besarnya manfaat yang ia berikan. Lamakera mungkin terlihat kecil di peta geografis Indonesia, namun ia bisa menjadi raksasa dalam sejarah jika anak-anaknya menjadikan ilmu, akhlak, dan karya sebagai bentuk cinta tertinggi kepada tanah leluhur. Nilai-nilai ini berpijak teguh pada ajaran Islam. Allah SWT memerintahkan umat-Nya untuk berpegang teguh pada tali-Nya dan tidak bercerai-berai (QS. Ali ‘Imran: 103). Rasulullah ﷺ juga mengingatkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Maka, kesuksesan seorang diaspora Lamakera tidak diukur dari tinggi gelar atau besarnya jabatan, tetapi dari seberapa besar ia kembali memberi manfaat bagi masyarakatnya. Perspektif ini diperkaya oleh pemikir besar seperti Ibn Khaldun, yang menempatkan solidaritas sosial (ashabiyyah) sebagai mesin utama peradaban, serta Malik bin Nabi, yang menekankan bahwa kebangkitan umat terjadi ketika manusia, nilai, dan waktu dipersatukan oleh gagasan besar. Syed Muhammad Naquib al-Attas pun menambahkan dimensi krusial: inti peradaban adalah adab. Tanpa kemuliaan akhlak, kemajuan hanya akan menghasilkan bangunan fisik yang megah, tetapi manusia yang kosong. Bero Ele’ Papa Hena: Kekuatan Kolaborasi Di sinilah letak kedalaman kearifan lokal Lamakera. Ungkapan “Bero Ele’ Papa Hena, Bero Galikika; Ele’ Rua-pun Bisa Tenggelam” (Jika dayung dipegang sendiri-sendiri, meskipun dua dayung, perahu bisa tenggelam) adalah peringatan keras sekaligus panduan strategis. Ungkapan ini mengajarkan bahwa sebesar apa pun kekuatan individu, tanpa keseimbangan, kolaborasi, dan kebersamaan, semuanya akan kehilangan arah dan berpotensi hancur. Sebaliknya, ketika dayung-dayung itu digerakkan secara serempak dan harmonis, insya Allah bukan hanya dua atau tiga pulau kecil yang akan terlampaui, tetapi cita-cita besar menjadikan Lamakera sebagai episentrum peradaban akan semakin dekat dan nyata. Kolaborasi adalah kunci. Perbedaan profesi dan domisili bukanlah alasan untuk berjalan sendiri-sendiri. Justru, perbedaan itu adalah kekuatan untuk saling melengkapi, layaknya dayung-dayung yang bekerja sama menggerakkan perahu kehidupan menuju tujuan yang sama. Agenda Besar Dr. Alwan Suban: Wahyu, Ilmu, dan Ekonomi Dalam pidato pengukuhan Ketua YAMALI Masa Bakti 2026–2029, Dr. Alwan Suban, M.Ag., merumuskan dua agenda strategis yang menjadi kompas gerakan ke depan: 1. Penguatan Bayt Al-Qur’an: Menjadikannya pusat pembinaan generasi Qur’ani yang tidak hanya hafal ayat, tetapi juga beriman, berakhlak mulia, dan berwawasan ilmu. 2. Pemberdayaan Ekonomi & Pendidikan: Memberikan bantuan bagi mahasiswa Lamakera yang terkendala biaya, serta mengembangkan Koperasi YAMALI sebagai motor penggerak kemandirian ekonomi masyarakat. Dua agenda ini menunjukkan keseimbangan yang tepat: membangun peradaban harus dimulai dari pembangunan manusia (melalui wahyu dan ilmu) yang ditopang oleh kemandirian ekonomi. Penutup: Dari Canda Menjadi Karya Hari ini, pertanyaannya bukan lagi “Apa yang sudah diberikan Lamakera kepada saya?” Sebaliknya, tanyalah pada diri sendiri: “Apa yang dapat saya persembahkan untuk Lamakera?” Marilah kita pulang membawa solusi, bukan sekadar kenangan. Pulang untuk berkarya, bukan sekadar bercerita. Pulang dengan tekad menjadi pelayan masyarakat, bukan hanya bangga menjadi anak Lamakera. Hari ini kita menanam gagasan di teras masjid. Esok kita menumbuhkan gerakan dalam kolaborasi. Dan lusa, dengan izin Allah SWT, kita akan memetik buah sebuah peradaban. Semoga Allah SWT menghimpunkan langkah seluruh diaspora Lamakera dalam satu barisan pengabdian, menjadikan negeri ini bercahaya oleh tauhid, dimuliakan oleh ilmu, dipersatukan oleh ukhuwah, dan dikenal dunia sebagai Episentrum Peradaban Islam dari Timur Nusantara yang memberi manfaat bagi umat, bangsa, dan semesta. Wallahu a’lam bis-sawab. Tentang Penulis: Ali Wahid, S.Pd.I, Lahir di Lamakera, 1 Januari 1969. Saat ini menjabat sebagai ASN pada Kantor Kementerian Agama Kota Kupang dan Guru PAI dan Budi Pekertu di SMP Negeri 5 Kota Kupang. Aktif dalam Persatuan Keluarga Lamakera Solor (PKLS) Kota Kupang. Dapat dihubungi melalui Facebook: @Aliwahid atau @aliwahid66. Post Views: 14 Navigasi pos Suster Maria Evangelina, PRR : “Panggilan Hidup Membiara Bukan Kehebatan Saya, Tapi Semata Kasih Karunia Allah”