Uskup Larantuka Mgr. Yohanes Hans Monteiro : “Pater Niko Strawn,SVD Serahkan Jiwa Raga di Tanah Misi Lembata” LEMBATA : WARTA-NUSANTARA.COM— Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro mengatakan, Pater Nicholaus Yoseph Strawn, SVD sungguh setia dan mulia hatinya menyerahkan jiwa raganya secara total menjadi misionaris unuk berkarya, mengabdi dan melayani umat di Tanah Misi Dekenat Lembata, Keuskupan Larantuka. Betapa tidak. Selama 62 tahun Pater Niko memuliakan Tuhan dan menyelamatkan iman umat khususnya di Paroki Lerek dan Paroki Boto. Uskup Larantuka, Mgr Yohanes Hans Monteiro mengungkapkan perasaan hatinya dalam Homili ketika memimpin Misa Pemakaman Pater Noko Strawn di Gereja Sta Maria Banneux Lewoleba, Kamis, 6 Agustus 2026. Misa Requiem yang dipimpin Uskup Hans tersebut, didampingi puluhan Imam Conselebran dan dihadiri ribuan umat dari berbagai paroki di Dekenat Lembata. Hadir pula, Sekda Lembata, Paskalis Ola Tapo Bali mewakili Bupati Lembata, Anggota DPRD Lembata dan Pejabat Pemkab Lembata. Umat ikut Misa Pemakaman Pater Niko Strawn, SVD “Hari ini kita semua hadir mengelilingi peti jenazah Pater Niko yang terkenal disapa “Niko Konok” oleh umat Paroki Lerek dan Paroki Boto. Kita semua sungguh merasa kehilangan seorang misionaris, gembala sederhana dan rendah hati dan senantiasa menebarkan senyum kepada umatnya. Ia secara total menjadi gembala yang setia bagi umatnya ditengah tantangan kemiskinan. Bahkan ia rela meninggalkan negeri asalnya Amerika, negeri makmur dengan berbagai kemapanan hidup untuk berkarya misi di Tanah Lembata selama lebih dari 60 tahun. Ia mengorbankan jiwa dan raga memuliakan Tuhan dan melayani umat Allah di Tanah Lepan Batan ini”, ungkap Uskup Hans Monteiro. Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro ketika sambutan Sekda Lembata, Paskalis Ola Tapo Bali menyerahkan Akte Kematian Pater Niko Strawn, SVD kepada Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro Menurut Uskup Hans, ketika pater Niko melayani umat di stasi-stasi ia rela jalan kaki ataupu berkuda.Ia membawa diri seutuhnya sebagai persembahan hidup bagi umatnya. Ia mewartakan Sabda Tuhan dalam kotbah yang sederhana dan tak terlampau rumit. Tetapi lebih dari itu, ia menunjukan keteladanan hidup sederhana dan bukan memamer kekayaan. Kedekatan hati dengan umat sungguh terasa. Ia duduk bersama umat di kebun kacang. Ia bersama umat duduk dilantai bambu, duduk di dapur Alam dan bahkan duduk bersama umat di pantai pasir Waiteba. Ia suka minum tuak kelapa di tempurung kelapa (Konok). Suasana kersaman dengan umat terjalin penuh kasih tank terhingga. Selama 6 dekade, tutur Uskup Hans, ia membawa pelita hati menerangi umat ditengah lilitan kemiskinan dan pelbagai kesulitan umat yang diayaninya. Meski pelayanan karya pstoral berjalan ditengah tantangan dan keterbatasan, namun lewat senyuman Pater Niko kegelisahan umat menjadi sirna. Ia sungguh melayani umat secara total hingga menghembuskan nafas terakhir di Tanah Misi Lembata. “Kini, Pater Niko telah tiada. Ia pergi untuk selama-lamanya. Ia meninggalkan kita semua umat dengan iringan derai air mata. Namun ia meninggalkan kasih pelayanan, jasa, dan keteladanan hidup tetap terkenang lesti dihati kita. Selamat jalan Pater Niko ke rumah bapa di Surga dan mengikuti perjamuan dengan piala abadi bukan lagi dengan ‘Konok”. Doakan kami yang masih berziara di bumi ini”, , ungkap Uskup Hans Monteiro mengakhiri Homili. Sambutan Pelepasan Jenazah Pater Niko Strawn,SVD Usai Perayaan Ekaristi, Uskup Larantuka, Hans Monteiro kembali didaulat menyampaikan sambutan. Secara singkat Uskup Hans menuturkan, setelah dua minggu ditabiskan menjadi Uskup Larantuka, dalam kunjungan perdana ke Dekenat Lembata, sempat menjenguk Pater Niko yang yang lagi terbaring sakit di Rumah Sakit Bukit Lewoleba. ” Pater Niko tidak bisa bangun. Ia hanya terbaring di tempat tidur. Namun kami bisa berkomunikasi dengan baik. Kami berdua malah berkomunikasi dengan bahasa Inggris dalam pertemua singgkat itu. Kemudian ia meminta saya memberikan berkat kepadanya”, tutur Uskup Hans. Dalam kunjungan kerja perdana, Uskup Hans ke Paroki Lerek. Disana seluruh kisah rekam jejak pelayanannya bersama umat tetap terkenang. Pengabdian dan dedikasi Pater Niko sangat tulus sampai habis di Tanah Misi Lembata. Tidak ada lagi Misionaris putih (barat0 yang berkarya misi di Tanah Lembata. Kini, ungkap Uskup Hans, tinggal misionaris lokal yang melanjutkan karya pelayanan pastoral. Terima kasih kepada Provinsial SVD Ende yang telah memberikan seorang misionaris Sejati, Pater Niko Strawn, SVD yang secara total, jiwa raga melayani umat di tanah ini. Sekretaris Daerah (Sekda) Lembata, Paskalis Ola Tapo Bali, mewakili Bupati Lembata, Kanis Tuaq mengatakan, Pemerintah Kabupaten Lembata menyampaikan turut berduka yang mendalam atas kehilangan seorang gembala umat Allah. Sekda Lembata, Paskalis Ola Tapo Bali “Sebagai seorang gembala, bukan saja mengabdi dan melayani gereja. Tetapi juga melayani seluruh umat di Dekenat Lembata. Ia menjadi misionaris dan menjadikan Lembata sebagai rumahnya sendiri.Pater Niko seorang gembala sederhana dan menjadi teladan dalam pelayanan bagi umatnya”, ungkap Sekda Tapo Bali. Menurut Tapo Bali, berkat dukungan berbagai komunitas gerejani dan umat dan didukung kematangan emosional Pater Niko, ia mampu menghadapi berbagai tantangan dalam karya pstoral. Ia bukan saja membangun iman umat, tapi juga membangun karakter dan mental umat secara baik penuh kasih setia. Sekarang kita berpisah secara raga. Namun, kisah kasih dan jasanya tetap terkenang dihati umat. Warisan iman, spiritualitas dan moral tetap lestari. Kini ia menuju Surga dan mendoakan kita. Sedangkan Provinsial SVD Ende,Pater Yosef Emanuel Embu, SVD dalam sambutannya mengatakan, Pater Niko telah diserahka Serikat Sabda Allah (SVD) ke Tanah Misi Lembata. Karya misinya bagi umat disini dilakukannya dengan tulus dan hati mulia. Penuh pengorbanan jiwa raga. Bayangkan saja selama 62 tahun hidup dan berkarya misi bagi umat khususnya di Paroki Lerek dan Paroki Boto. Bahkan ia menjadi misionaris terakhir setelah Pater Eugene Smith dan Pater Arnodus Dupont. Provinsial SVD Ende, Pater Yosef Emanuel Embu, SVD Menurut Pater Eman Embu, suatu waktu ia mengunjungi Pater Niko yang lagi berobat di RS Sint Carolus Kupang. saya menyampaikan bahwa SProvinsial SVD Ende menyiapkan rumah istirahat bagi imam yang purna tugas di Ritapiret. Namun Pater Niko tak pernah mengeluarkan sepata katapun. Ia hanya terdiam saja. Sepertinya ia tetap bersikukuh untuk tetap menjadikan Lembata rumahnya. Menurut Pater Eman Embu, Pater Niko sangat mencintai umat di Tanah Lembata. Karena itu, ia menyatakan tetap bersama umat hingga akhir hayatnya. Ia sudah menyatu dengan umat. Hidup sederhana bersama, makan apa adanya bersama umat, ubi , kacang, pisang dan jagung. Namun ia seorang pendoa dan senantiasa beradorasi sebelum merayakan ekaristi. “Sikap hidup dan keteladanannya menjadi warisan sangat berharga ketia ia pergi untuk selamanya. Justeru di Paroki tempat ia berkarya, banyak orang terpanggil menjadi biarawan dan biarawati. Pater Niko milik gereja lokal, milik Keuskupan Larantuka dan Dekenat Lembata. Di Tanah misi inilah rumah abadi Pater Niko. Terima kasih untuk semua pihak baik pemerintah Kabupaten Lembata, para imam, frater, suster, bruder dan umat yang telah mendukung karya misi pater Niko Strawn, SVD mewartakan Sabda Tuhan”, ungkap Pater Eman Embu. Ribuan Umat mengantar Jenazah Pater Niko Strawn, SVD Usai Perayaan Ekaristi, dilakukan penutupan Peti Jenazah Pater Niko dengan memaku peti diawali Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro. Selanjutnya, oleh Sekda Lembata, Paskalis Ola Tapo Bali, dan Ketua DPP Paroki Sta Maria Banneux Lewoleba, Fransiskus Limawai Koban. Selanjutnya, ribuan umat mengantar jenazah pater Niko Strawn, SVD dimakamkan di Tempat Pemakaman RS Damian Lewoleba. ***(Karel Burin) Post Views: 36 Navigasi pos ANTARA KAKI DAN MATA