Monumen Kemanusiaan Berharga Hari Orangtua, Kakek dan Nenek Sedunia , Pesta St. Joakim dan Sta. Anna, Orangtua SP Maria Oleh Pater Steph Tupeng Witin, SVD Mat 13: 44-52 (Mat 13:44-46) WARTA-NUSANTARA.COM— Yesus banyak berbicara tentang Kerajaan Surga. Ciri utama Kerajaan Surga adalah cinta dan damai. Injil hari ini, Kerajaan Surga diibaratkan sebagai “harta terpendam di ladang” yang mendesak siapapun untuk memilikinya. Kerajaan Surga diumpamakan pula sebagai “mutiara indah” yang menggerakkan si pedagang untuk mendapatkannya. Namun selalu ada hal yang wajib dilepaskan untuk memeroleh harta terpendam dan mutiara berharga. Ini tak berarti bahwa yang patut dijual atau dilepaskan itu tidak bernilai atau tak berguna. Tetapi bahwa hati manusia telah “Penuh sukacita untuk memeroleh harta terpendam dan mutiara indah itu (Mat 13:44). Begitu seseorang menyadari apa yang sungguh bernilai, ia tidak ragu menyerahkan atau melepaskan “yang lain” demi hal itu. Gereja: kaum religius dan awam, dengan berbagai status, kedudukan, atau jabatan dipanggil untuk dengan sabar, penuh harapan dan sukacita mencari “harta terpendam” dan “mutiara berharga” itu. Kita mesti mencari untuk menemukannya dengan cara-cara elegan, bercitra Katolik dan manusiawi. Bukan meraihnya dengan jalan kekerasan, ujaran kebencian, pencurian, tipu muslihat, bila perlu dengan melumpuhkan dan mengenyahkan, menyingkirkan orang yang dianggap musuh atau lawan. Orang tidak mau berkorban dengan menjual segala milik untuk membeli ladang dimana terdapat harta terpendam, tetapi hanya “main serobot” dengan merampas ladang itu. Bukannya menjual seluruh milik untuk membeli mutiara itu, pedagang itu malah berulah jadi perampok mutiara. Kerajaan surga menantang kita untuk melepaskan prinsip, isi, cara berpikir dan cara merasa lama yang justru menghilangkan cinta dan damai. Rasul Paulus mengingatkan bahwa sejak awal Allah sudah memanggil setiap orang menurut rencana-Nya, yaitu mendatangkan kebaikan. Panggilan ini diberikan Allah lebih dulu, bukan hasil usaha kita. Justru karena sudah dipanggil sejak semula, hidup kita sehari-hari menjadi proses yang terus berjalan. Kita diajak terus mendengar, menimbang, memilah, lalu memilih arah yang sejalan dengan rencana Allah. Ini bukan keputusan besar yang cukup diambil sekali saja, melainkan kepekaan yang terus dilatih dari hari ke hari. Raja Salomo meminta harta indah dari Tuhan: “hati yang sanggup menimbang perkara” agar kearifannya saat menghakimi boleh menghadirkan kebenaran, keadilan, cinta dan damai bagi Israel. Hikmat bertumbuh seiring bertambahnya usia, melalui pengalaman hidup yang panjang dan permenungan mendalam. Orangtua, kakek dan nenek adalah lumbung hikmat, saksi sejarah keluarga dan masyarakat yang menghadirkan pengalaman berharga masa lalu. Melalui kasih dan pengorbanan selama bertahun-tahun, mereka selalu menjadi “harta terpendam” dan “mutiara berharga” dalam keluarga. Mereka mewariskan niai-nilai luhur, tradisi dan fondasi iman yang kukuh kepada generasi selanjutnya. Mari kita berjuang agar tetap terbilang sebagai “ikan-ikan yang baik yang dikumpulkan dalam pasu” (Mat 13:48). Orientasi hidup Injili, hidup dalam bingkai Kerajaan Surga hendaknya tetap menjadi dasar, kekuatan, sukacita dan harapan kita. Kita menghargai dan mendengarkan dengan penuh perhatian kisah dan nasihat orangtua, kakek dan nenek kita. Mereka adalah jembatan antara masa lalu dan masa kini, pembawa kasih dan kebijaksanaan yang tak ternilai harganya. Kehadiran mereka adalah anugerah yang patut kita syukuri dan rahmat yang mesti kita rawat. Kita dengarkan, belajar dan kasihi mereka karena diri mereka adalah monumen warisan rohani dan kemanusiaan yang berharga. Karakter hidup Kristiani yang sehat ini pasti “tidak menggiring” kita menuju akhir zaman dengan alamat: “dapur api dengan suasana ratapan dan kertak gigi” (Mat 13:50). *** Post Views: 34 Navigasi pos JANGAN CABUT DULU !!!