PESONA RASULULLAH SAW DALAM PANDANGAN ORIENTALIS: Antara Fakta Faktual dan Sikap Antipati dalam Telaah Historis Oleh: Dr. Umar Sulaiman Bethan, M. Ag. WARTA-NUSANTARA.COM— Karen Armstrong, salah seorang mantan biarawati selama tujuh tahun di istana Kepausan Italia, dan akhirnya menjadi seorang ilmuwan yang menulis buku “The History of God”, ia mencoba memahami Islam dengan meneliti tokoh utamanya, Nabi Muhammad SAW. Ia melaporkan hasil penelitiannya dalam Muhammad: A Western Attempt to Understand Islam. Ketika melaporkan kehidupan Paulus, mantan biarawati Khatolik itu menggambarkan Paulus seperti seorang kritikus. Ketika melaporkan Muhammad, ia menjadi seorang pembela yang luar biasa. Dengan gigih ia menjelaskan kekeliruan pandandan Barat tentang Rasulullah SAW. Ia membela kehormatan Nabi yang lebih tajam dan lebih jernih dari Haikal. Lebih lanjut dikatakan bahwa Muhammad adalah seorang figur yang berhasil menciptakan masyarakat Madinah yang kuat dan lepas dari kekacuan di sekitarnya. Kelompok kabilah lainnya mulai bergabung, walaupun tidak seluruhnya komit dengan visi keagamaannya. Supaya tetap hidup, umat harus kuat dan perkasa, tetapi tujuan Muhammad bukan kekuatan politik melainkan menciptakan masyarakat yang lebih baik. Penilaian obyektif dan apresiasi yang sangat tulus dari mantan biarawati terhadap figur Nabi Muhammad SAW bukannya tanpa alasan. Muhammad SAW bukan sekedar Nabi, melainkan juga tokoh duniawi yang berjuang keras agar ajaran-ajaran yang ia bawa bukan sekedar sebuah dogma yang bersifat dogmatis melainkan sebuah agama universal yang dapat menyelamatkan manusia dari kesesatan teologi yang bersifat pagan, animis dan keyakinan palsu. Ia adalah seorang rasul akhir zaman, telah datang sesuai dengan janji Allah SWT. Kebenarannya dapat dibuktikan dalam segala segi. Sejarah ada bukti yang utama. Riwayat hidupnya, perkataannya dan amalannya dipelihara baik-baik, bahkan sudah sampai 14 abad keterangannya dalam sejarah sangat terang benderang dan lengkap, bagaikan kita melihatnya dengan mata kepala sendiri. Tidak pernah terdapat suatu riwayat hidup dalam gelanggang sejarah yang lebih lengkap dari biografi Muhammad. Dalam segala langkah hidupnya kita banyak mengambil pelajaran penting darinya. Sebab itu tidak perlu ada lagi nabi yang datang sesudah Nabi Muhammad SAW. Ketokohan Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-hari mendapat apresiasi dan penghargaan yang sangat obyektif dari berbagai kalangan. Seorang penulis terkenal Emile Dermenghem dalam sebuah analisis tentang keteladanan Nabi Muhammad SAW, beliau berkata: “Sesungguhnya Muhammad di dalam sebagian besar sejarah hidupnya telah memperlihatkan keluhuran budi pekerti yang menarik perhatian. Di dalam kemenangan perang terakhirnya, dia telah menampakkan kebesaran jiwa yang hampir-hampir tidak terdapat contoh dalam sejarah, tatkala dia menyuruh memaafkan orang-orang yang lemah, orang tua, anak-anak dan wanita. Dia pun telah melarang tentaranya untuk meruntuhkan rumah atau menggugurkan buah-buahan, menebang pohon yang sedang berbuah dan tidak membolehkan mereka menghunus pedang kecuali dalam keadaan darurat dan sangat terpaksa. Bahkan dia telah mencela panglimanya yang ceroboh dan memperbaiki kekeliruan mereka dengan tindakan tegas sambil berkata kepada mereka: “sesungguhnya menyelamatkan satu jiwa lebih utama daripada penaklukan beberapa negeri” Nabi Muhammad SAW kini telah tiada dan ajaran-ajarannya yang ia wariskan kepada umatnya telah berjalan selama 15 abad. Gelombang pengaruhnya menggemuruh yang ditimbulkan oleh gerak laju dinamika perkembangan Islam semakin terdengar di pojok-pojok belahan dunia. Merasakan denyut-denyut kesejarahan yang menghanyut dan dihentakkan oleh dinamika Islam ini, Goerge Bernard Shaw dengan penuh keyakinan mengatakan, “The Future religion for the educated, enlightened and cultured people will be Islam,” (agama di masa depan bagi orang-orang yang berpendidikan, berilmu dan berbudaya adalah Islam). Sejarah telah memberikan pengakuan terhadap Nabi Muhammad SAW. Beliau dengan agamanya selalu mendapat sambutan dan penghormatan yang luar biasa atas karya-karya monumentalnya, di antarnya dari kelompok orientalis. Dalam konteks ini, Prof. W.C. Smith berkata: no other religion in the world has been no succesful as Islam in eleciting a confenssional pride in its adherents (tidak ada agama lain di dunia yang telah demikian berhasil sebagai Islam yang menimbulkan kebanggaan agama di antara pengikutnya). Dalam kapasitasnya sebagai manusia, Nabi Muhammad SAW memiliki keluhuran budi dan ketinggian moral yang mendapat simpati serta kekaguman yang sangat luar biasa, sehingga seorang semacam Michael H. Hart, dalam karya “The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History” (Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh di dalam Sejarah) menetapkan dan menempatkan Nabi Muhammad sebagai manusia yang berada pada ranking pertama yang paling berpengaruh di pentas sejarah, kemudian disusul secara berturut-turut oleh Issac Newton, Yesus Kristus (Nabi Isa), Buddha dan seterusnya. Ketika menetapkan 100 tokoh yang paling berpengaruh di pentas sejarah itu, Hart memakai kriteria-kriteria obyektif yang bisa diterima oleh logika dan akal sehat, yaitu: (1) orangnya benar-benar pernah ada dan tidak hanya hidup dalam dongeng-dongeng, (2) ia mempunyai pengaruh terhadap generasi sekarang dan yang akan datang, (3) prestasinya mempunyai pengaruh terhadap generasi yang akan datang dan terhadap peristiwa-peristiwa yang akan terjadi, dan (4) karya, ide dan cita-citanya merupakan hasil individual dan buah pikiran kolektif. Atas dasar pertimbangan dan kriteria-kriteria tersebut, akhirnya Hart berpendapat dan menempatkan Nabi Muhammad sebagai tokoh dan pribadi yang berada pada urutan pertama yang paling berpengaruh dalam sejarah. Hart juga menyimpulkan dan mengomentari sosok pribadi Nabi Muhammad, dengan ungkapan yang jujur, sebagai berikut: he was the only man in history who was supremely succesful on both the religious and secular level’s (bahwa dialah (Muhammad) satu-satunya manusia dalam sejarah yang berhasil dengan luar biasa baik yang menyangkut bidang keagamaan maupun kedunian. Mungkin timbul sebuah pertanyaan, mengapa Hart memilih Muhammad dan bukan Yesus yang memiliki umat paling banyak di dunia ini, yang dua kali lipat lebih dari pengikut Islam dan menguasai hampir dua pertiga dunia? Alasannya menurut Faisal Ismail, ialah : Pertama, Muhammad merupakan penerjemah tunggal Al-Qur’an, kalimat Tuhan yang diterimanya, sementara Yesus walaupun merupakan penanggungjawab etika Kristen, tetapi St Paullah yang menjadi pengembang teologi Kristen, yang memasukkan hal-hal prinsip dan penulis Perjanjian Baru yang kemudian hari sangat berperan. Hal lain, karena pikiran Muhammad tersangat genius dan selalu up to date. Kata Hart: no such detailed compilation of the teaching of Christ has survived (tidak ada himpunan ajaran Kristen yang begitu detail dan awet bertahan). Selanjutnya, Hart mengatakan bahwa agama Kristen tidak seperti Islam, karena Kristen tidak ditemukan oleh satu orang, melainkan dua orang, yaitu Yesus dan St. Paul, karenanya “kehormatan” harus dibagi dua di antara mereka. Kedua, Muhammad adalah pemimpin yang tidak hanya di bidang agama, tetapi juga di bidang politik. Sejarah mencatat bahwa penaklukan dunia oleh bangsa Arab, lokomotif utamanya adalah Muhammad. Akhirnya, setelah dengan pelbagai pertimbangan dan kriteria, Hart, menilai dan menyimpulkan “its is the combination of secular and religious influence which I feel entitles Muhammad to be considered the most influential single figure in human history (pengaruhnya di bidang dunia dan ukhrowi sekaligus, menyebabkan Muhammad harus ditempatkan sebagai sosok pribadi yang paling berpengaruh dalam sejarah). Dalam kaitan dengan proteksi terhadap lingkungan sekitarnya dan seluruh sumber daya alam yang terkandung di dalamnya, Nabi Muhammad juga memliki visi lingkungan yang mendapat apresiasi luar biasa dari para pakar lingkungan. R. Bosworth Smith, misalnya menyatakan bahwa Nabi Muhammad penjamin nyata atas pembebasan binatang. Lebih lanjut dikatakan bahwa Nabi Muhammad merupakan sosok yang telah meletakkan dasar-dasar etis perlindungan terhadap binatang dan orang-orang lemah. Smith selanjutnya menyatakan: there is no religion which has taken a higher view in its authoritative documents of animal life and none where in the precept has been so much s honored by its practical observance. Pendapat senada juga dilontarkan D. S. Margoliouth yang memuji perlakuan Islam tentang perlakuannya pada binatang. Dia menyatakan bahwa visi Nabi Muhammad pada binatang sangat jelas, sifat kemanusiannya bahkan telah menjangkau ke makhluk yang lebih rendah. Beliau melarang memperlakukan burung-burung hidup sebagai sasaran tembak para penembak dan melarang para pengikutnya membakar sarang semut agar hilang. Dalam konteks yang berbeda Peter Singh mengamati cara yang lebih manusiawi di dalam Islam dalam aturan menyembelih binatang. Aspek kehalalan dalam Islam dianggap oleh Singh telah memenuhi cara-cara higienis dan ekologis. Keberhasilan yang begitu prestitius sebagaimana digambarkan di atas juga merambah masuk dalam dunia politik dengan keberhasilannya menetapkan pilar-pilar pembangunan masyarakat madani di kota Madinah Menurut Harun Nasution, di kota Madinah Nabi Muhammad bukan hanya mempunyai sifat Rasul, tetapi juga mempunyai sifat sebagai kepala negara. Sementara itu D. B. Macdonald juga menyatakan di sini (Madinah) dibangun negara Islam yang pertama dan diletakkan prinsip-prinsip utama undang-undang Islam, sebagaimana terdapat dalam Mitsaqan Madinah (Piagam Madinah) sebanyak 47 butir. Pesona dan visualisasi Negara Madinah itu, kata Thomas W. Arnold, dalam waktu yang bersamaan adalah seorang kepala agama dan kepala negara. Dengan demikian, Madinah adalah sebuah embrio negara atau bahkan negara itu sendiri. Nabi Muhammad adalah seorang pemimpin besar. Sebagai seorang politikus yang memimpin negara, dia sukses mendirikan entitas politik pertama di kawasan Arab. Dalam entitas baru itu, masyarakat Arab dari berbagai suku dan klan, bisa dipersatukan: sebuah prestasi besar yang belum pernah dicapai oleh pemimpin sebelum Nabi Muhammad. Sebagaimana konstantin sebelumnya, dia menjadikan Islam sebagai “semen” peradaban yang mengikat masyarakat Arab dan juga non Arab pada tahap selanjutnya. Atas dasar keberhasilannya inilah khalifah Abdul Hakim sampai pada sebuah tesis: Muhammad adalah seorang raja-filsuf yang diimpikan Plato, ia adalah seorang manusia dengan cita-cita keadilan yang tinggi, pada waktu yang sama memiliki karakter dan kekuasaan untuk menterjemahkan ke dalam praktek dan melihat hasilnya dengan mata kepalanya sendiri semasa hidupnya. Satu hal yang perlu diperhatikan bahwa kebesaran, ketinggian, keluhuran dan keberhasilan yang ditorehkan oleh Nabi Muhammad SAW selama hidupnya, tidak serta merta membuat umatnya harus memposisikan dirinya (baca: mengkultuskan) dirinya sehingga keberadaannya menjadi obyek sembahan yang dapat merusak kemurnian akidah. Karena bagaimana pun juga di balik ketokohan dan kebesarannya, Nabi Muhammad juga adalah manusia biasa yang tidak sepantasnya untuk disembah dan dipuja oleh umatnya yang melebihi Tuhannya. Dengan demikian, setiap memperingati hari kelahirannya (Maulid Nabi Muhammad SAW) diharapkan kita mampu mengambil dan mengikuti keteladanannya sehingga kita mampu bermetamorfosis menjadi manusia seutuhnya. Untuk itu perayaan yang bersifar seremonial yang dapat mengurangi kesyahduan dan kesakralan harus dikurangi, sembari menghayati makna-makna ritual yang terkandung di dalamnya. Sebab peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW selama ini banyak bermuara pada maksimalisasi eksistensi ritus dengan mengesampingkan kedalaman esensinya. Tentang Penulis: Dr. Umar Sulaiman Bethan, M. Ag, Lahir di Lamakera, 31 Desember 1972. Adalah ASN, Dosen Politeknik Negeri Kupang – NTT, Pendidikan Pasca Serjana pada Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta pada 2017, kosentrasi “Pemikiran Islam” Penulis buku: 1) Islam Kosmopolit: Ikhtiar Pembumian Nilai-nilai Transenden-Humanis di Ruang Publik. 2) Korupsi dan Dialektika Kebahagiaan: Sebuah Analisis dengan Pendekatan Falsafah Akhlak Miskawaih. Penulis dapat dihubungi melalui IG @TantoMaleng Post Views: 19 Navigasi pos Dua Kasus Kematian Anak Muncul Beruntun di Mandailing Natal, Sekretaris DPC GMNI Pertanyakan Respons Pemerintah