KATA UNTUK KATARINA (Sebuah Penghormatan untuk Mama, Oma Katarina Tuto Tolok) Oleh : Robert Bala Robert Bala WARTA-NUSANTARA.COM— Kami menyapanya ‘Kaka’ sesuai tradisi tempat kami. Dalam bahasa Indonesia formal, beliau seharusnya disapa ‘Tanta’. Ia benar-benar memerankan peran sebagai seorang Kaka tanpa ada jarak sedikit pun. Ia terlahir sebagai anak ke-5 dari 9 bersaudara (8 orang hidup dan 1 telah meninggal). Posisinya benar-benar di tengah: di atasnya ada 4 orang kakak dan di bawahnya ada 4 orang adik. Buku Karya Robert Bala Berada di posisi tengah tentu membawa dampak positif sekaligus negatif. Negatifnya, orang tua dengan anak yang begitu banyak tentu tidak bisa memberikan perhatian secara merata kepada semua anak. Demikian pula kakak laki-lakinya yang diharapkan bisa mengambil kendali membiayai adiknya bersekolah, saat itu belum mandiri. Karena alasan itulah pendidikannya hanya sampai jenjang SD, meskipun teman-teman sekelasnya adalah orang-orang hebat seperti Pater Andreas Mua, SVD. Adik-adiknya jauh lebih beruntung karena memiliki kesempatan untuk mengenyam pendidikan lebih tinggi dari SD. Namun, di balik itu ada hal positif yang tersirat. Ketika saudara laki-lakinya mengulurkan tangan untuk menyekolahkan adik-adiknya, hal tersebut berimbas pada tuntutan belis (mas kawin) yang lebih tinggi. Belis dikalkulasikan dengan biaya pengeluaran untuk kuliah. Di sinilah letak keberuntungannya. Suaminya suatu kali pernah berseloroh kepada adik iparnya yang mengambil istri adik dari mama Katarina. Ia lebih beruntung karena bisa dibiayai berskeolah lebih tinggi bahkan sampai kuliah: “Bo goen bu buta huruf ke tek no tuntuten rei-rei hi” (Istri saya buta huruf, jadi tidak ada tuntutan belis yang macam-macam). Yang ambil istri bersekolah tinggi ya harus bayar tinggi sementara Katarina itu hanya SD yang diidentikkan dengan ‘buta huruf’. Namun dengan posisinya sebagai anak ke-5 paling tengah, ia benar-benar menjalankan perannya sebagai penyatu dan perekat keluarga. Hal itu sangat kami rasakan sebagai keponakannya. Apa pun masalah atau urusan yang dihadapi pada keluarga kakak maupun adiknya, ‘Kaka Kete’—demikian kami menyapanya—selalu hadir di tengah-tengah untuk mengambil bagian. Kadang ada suara-suara sumbang yang entah dari mana asalnya. Jika ada urusan di keluarga besarnya (saudara-saudaranya), semua saudari perempuan dan suami pasti dilibatkan. Namun, jika ada masalah di rumah tangga mereka sendiri, itu dianggap sebagai urusan pribadi semata. Apalagi kadang saudaranya memberikan renungan rohani bahwa itu adalah salib yang harus dipikul sendiri (tetapi kalau urusan pada keluarga istri mereka, nasihat itu pura-pura tidak diignat). Soal uluran tangan, bagi Kaka Kete membantu bukan sekadar memberi uang melainkan juga menguras tenaga. Ia akan terlibat sampai tuntas dan memberikan segalanya tanpa memikirkan diri sendiri. Demi urusan saudaranya, ia rela mengesampingkan urusan keluarganya sendiri dan ‘berbakti’ tanpa batas. Hal itu makin terasa ketika ada duka kematian. Tahun 1995, ketika saudaranya (ayah saya Pius Kedang), jatuh dari pohon dan harus dirawat di Puskesmas Lerek, lalu dirujuk ke Lewoleba hingga akhirnya ke Lela, Kaka Kete selalu setia mendampingi. Ia merasa ini bukan sekadar saudara, melainkan sosok pengganti ayah, sehingga ia harus memberikan yang terbaik. Sayangnya, setibanya di Lela, saudaranya dipanggil Yang Kuasa dan langsung dipulangkan ke Lembata. Tahun 2019, istrinya alm Pius Kedang Tolok (mama Maria Gelole Henakin), harus dibawa ke Lewoleba karena kesehatannya menurun, kepada siapa lagi tempat berharap? Kaka Kete ada di Lewoleba dan ia merawatnya dengan tulus. Setelah keluar dari RS St. Damian, beliau dirawat di rumahnya. Kami yang berada di Jakarta berunding agar beliau dibawa ke Kupang, dan Kaka Kete sudah bersiap untuk mengantarnya. Sayangnya, baru sehari menginap di rumahnya di Walangkeam, kakak iparnya yang disapa “Inei” itu tak sadarkan diri hingga akhirnya wafat. Bahkan saat kami membawanya menggunakan kapal laut ke Kupang pun, beliau berada dalam kondisi tidak sadar hingga mengembuskan napas terakhir. Sosok yang Cerdas Kaka Kete, seperti yang saya singgung di awal, memiliki latar belakang pendidikan yang terbatas—hanya tamatan SD. Namun, seandainya ia memiliki kesempatan untuk sekolah lebih tinggi, saya yakin ia akan menjadi orang yang sangat pintar. Saya teringat masa kecil kami ketika berkunjung ke Lewoleba; anak-anaknya masih kecil, Titik, Teti, dan Tati masih duduk di bangku TK (Anwar dan Udin belum lahir). Saya sangat mengagumi caranya mendidik anak-anaknya yang masih TK untuk tampil percaya diri di depan umum menggunakan bahasa Indonesia seperti seorang guru TK profesional. Ia melatih anak-anaknya berbahasa Indonesia, dan ia sendiri pun membiasakan diri berbahasa Indonesia. Saya rasa inilah alasan mengapa hampir semua anaknya (kecuali Anwar) sangat mahir berbahasa Indonesia dan tidak pernah saya dengar menggunakan bahasa daerah. Beruntung ada Anwar yang sedikit ‘nakal’ dan berani menggunakan bahasa Lerek, dan kini Gani Watun juga diajarkan bahasa Lerek oleh ayahnya meski tinggal di Jakarta. Poin yang ingin saya sampaikan, keterbatasan pendidikan tidak pernah membuatnya menyerah. Ia adalah seorang pembelajar sejati. Setelah menikah dengan Bapak Maxi Laga Watun, kecerdasannya makin terpancar. Sebagai gadis Tolok, kadang dominan mendampingi suaminya sehingga dianggap polisi terutama bila tuak sudah melebihi porsi yang wajar. Tetapi pegnawasan seperti itu bukan hanya kaka Kete tatapi julukan yang negatif tidak saja untuk kk Kete tetapi untuk semua gadis Tolok yang kadang menempatkan diri sedikit dia tas suaminya hehe). Kalau ada istilaih ‘Suami-Suami Takut Istri’ maka julukan itu bagi orang Lerek pasti sudah tahu bahwa itu adalah Perempuan Tolok (hehe). Khusus kaka Kete, meski berpendidikan terbatas tetapi ia seorang pembelajar sejati. Di kampung di mana ditempatkan sebagai PNS, mereka aktif di gereja. Salah satu tugasnya adalah memberikan Kursus Persiapan Perkawinan dengan tema favorit adalah Ekonomi Rumah Tangga. Pada kesempatan ini, ‘Mama Katarina’ tampil memberikan ‘wejangan’ (kalau boleh disebut kuliah) karena pasangan mud aitu biasanya lulusan SMA, malah ada yang Perguruan Tinggi. Di situlah Kaka Kete membimbing orang-orang yang pendidikannya jauh lebih tinggi darinya. Mereka mendengarkan nasihat dari seorang ibu yang hanya tamatan SD, namun kaya akan kebijaksanaan dan tak pernah berhenti belajar. Rumah yang Selalu Terbuka untuk Anak-Anak Kaka Kete tidak hanya memiliki 5 orang anak kandung. Ia memiliki anak angkat yang jumlahnya jauh lebih banyak. Setelah menikah dan menetap di Lewoleba, rumahnya di Walangkeam selalu ramai oleh anak-anak sekolah yang menumpang tinggal. Ketika pindah tugas ke Pamakayo, rumah mereka sudah seperti asrama. Seingat saya, ada sekitar 5 orang anak yang menumpang di sana. Demikian juga ketika pindah ke Kalikasa. Rumahnya lagi-lagi dipenuhi anak-anak sekolah. Anak-anak dari Karangora yang menumpang di sana selalu berkisar lima atau enam orang setiap tahunnya. Hal serupa terjadi ketika ia pindah tugas terakhir sebagai Kepala Sekolah di SMP Tanjung Kelapa Lerek, terutama saat sekolah tersebut penegeriaannya diresmikan; anak-anak dari kampung tetangga, Lewokurang, turut tinggal bersamanya. Lalu ketika masa tua dan seharusnya istirahat, tetapi Panti Asuhan Eugene Schmit, SVD di Lewoleba akhirnya menjadi tugasnya. Kematian Br Dami Watun, SVD kakak iparnya meninggalkan tugas yang tetapi dilakukannya hingga menjelang wafatnya. Di rumahnya, mukjizat tentang makanan seolah tak pernah putus. Semua orang bisa makan dari ketelatenan Kaka Kete menyiapkan hidangan. Beras jatah PNS yang diterimanya 50 kg, dicampur dengan singkong, sehingga kami biasa menyantap nasi beraroma singkong. Itulah caranya agar porsi makanan cukup untuk menyokong semua orang. Rahasianya tentu ada pada pembagian kerja yang teratur. Saya ingat sewaktu SD, saat liburan tiba, kami berlomba-lomba pergi ke Lewoleba agar bisa menikmati suasana kota. Di sana, saya merasakan sendiri bagaimana Kaka Kete membagi tugas: kami pergi memotong bambu lalu memikulnya pulang ke rumah. Jaraknya cukup jauh di kali Bapa Kayun. Kami harus bekerja keras agar bisa makan. Ketika pulang dari liburan, ayah saya berkata: “Ama, bo noregamek mon dir koyo di” (Nak, kamu pergi liburan tapi badanmu malah kurus). Ayah tahu karena walau makan saya banyak, berat badan saya justru turun. Mendengar ucapan itu, saya langsung menangis karena teringat beratnya beban kerja di sana. Ya, jika berani liburan di rumah yang menampung banyak orang, kita harus siap berkontribusi agar bisa makan. Dari situlah saya belajar makna kerja keras untuk memperoleh sesuap nasi. Ungkapan Syukur Kepulangan Mama/Oma Katarina Tuto Tolok pada 16 September 2025 tentu meninggalkan duka mendalam bagi kami. Namun, di balik rasa kehilangan itu, terselip rasa syukur yang tak terhingga. Ungkapan syukur itu sempat kami rayakan bersama saat memperingati 50 tahun usia pernikahan mereka pada tahun 2022 lalu. Itu adalah momen yang sangat berkesan karena dapat dirayakan di tengah anak-anak yang telah dewasa. Sebagai keponakan, kami merasa telah menerima terlalu banyak kebaikan dari Kaka Kete dan Kaka Laga. Hadiah apa pun yang kami berikan tentu tak akan sanggup membalas seluruh jasa-jasanya. Saat itu, kesehatannya memang sudah mulai menurun, sehingga kami hanya bisa memberikan alat pemantau tensi sederhana untuk mengontrol kondisinya dari hari ke hari. Meski fisiknya melemah, semangatnya tak pernah padam. Pada tahun 2025, ketika saya pulang 2 kali ke Lembata di tengah jadwal kegiatan yang padat, saya selalu menyempatkan diri untuk mampir. Pada bulan Mei 2025, saya hanya bisa singgah sebentar. Ia sempat mengajak saya makan dan hendak menggorengkan ikan, tetapi karena ada janji lain, saya belum sempat makan bersama. Pada bulan Juli, saat saya pulang lagi untuk menghadiri acara pesta perak di Lerek, saya mampir dan kami bisa berbincang lebih lama. Kini, setiap kali kembali ke tanah kelahiran, ada sesuatu yang terasa hilang. Setelah Bapa dan Inei berpulang, beliau adalah sosok di Lewoleba yang selalu menyambut kedatangan kami dengan sapaan khasnya: “Ama, bo mi oligem jema pire”. Sebuah pertanyaan hangat yang membuat kami merasa selalu memiliki rumah tempat kembali dan saat mengenang kata-kata ini air mata mengalir tanpa terasa. Kini, saat kami pulang, kata-kata itu hanya tinggal gema di dalam ingatan—menciptakan haru sekaligus rasa bangga yang membuncah. Tidak ada kata-kata manis yang mampu melukiskan ungkapan syukur kami yang terdalam. Hidupmu telah engkau abdikan sepenuhnya untuk orang banyak, dan kini kami hanya bisa merangkai kata-kata untukmu, Katarina Tuto Tolok. Katarina adalah kata-kata yang selalu hidup karena yang ditinggalkan begitu membekas. “Kaka Kete, terima kasih bi… hebaye poe kame.” Robert Bala. Penulis buku MENGIRINGI KEMATIAN. 73 Renungan/Homili tentang Kematian. Penerbit Ledalero, Cetakan ke-4. Post Views: 22 Navigasi pos Eva Sidhu Batafor, Pelayan Kemanusiaan itu telah Pergi Selamanya