Menyingkap Keterasingan Subjek: Analisis Alienasi Marxis dalam Rara Mendut Oleh : Agustina Dwi Purwaningsih Mahasiswa Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma Jogjakarta Pendahuluan WARTA-NUSANTARA.COM— Dalam kerangka teori kritik sastra Marxis, konsep alienasi atau keterasingan menggambarkan kondisi psikologis dan sosial ketika individu terpisah dari hakikat kemanusiaannya, kebebasannya, hasil karyanya, serta lingkungan sosial asalnya. Alienasi tercipta ketika manusia diturunkan derajatnya menjadi sekadar objek atau komoditas di tengah tatanan kekuasaan yang represif dan hierarkis. Dalam novel Rara Mendut karya Y.B. Mangunwijaya, alienasi menjadi tema sentral yang dialami oleh tokoh utama akibat pergeseran ruang sosial dari masyarakat pantai yang bebas menuju pusat kekuasaan feodal Kerajaan Mataram. Pembacaan Marxis membongkar bagaimana alienasi tersebut dibentuk oleh struktur kekuasaan, sekaligus melihat bagaimana subjek berusaha melawan keterasingan demi merebut kembali kedaulatan dirinya. Perpindahan Ruang Sosial dan Proses Alienasi Proses keterasingan Rara Mendut berakar dari perpindahan dan perebutan ruang sosial yang dipaksakan oleh struktur feodal. Di pesisir Telukcikal, Mendut tumbuh di tengah masyarakat nelayan yang terikat erat dengan alam laut serta memiliki struktur sosial yang setara dan terbuka. Lingkungan pantai tersebut memberi Mendut kebebasan bergerak, berpendapat, dan menentukan pilihan hidupnya sendiri. Namun, setelah Pati ditaklukkan oleh Mataram, Mendut diboyong ke pusat kerajaan sebagai boyongan atau tawanan perang. Di lingkungan istana yang tertutup dan serba diatur oleh norma feodal, Mendut berada di ruang sosial yang sangat asing baginya. Ia diawasi, dikontrol, dan dicabut dari kebebasan dasarnya. Perpindahan ruang sosial ini melahirkan kondisi alienasi yang tragis, sebab Rara Mendut secara fisik berada di tengah pusat kekuasaan, namun ia sama sekali tidak memiliki kekuasaan atau kontrol atas dirinya sendiri. Dimensi Keterasingan Subjek Berdasarkan struktur teks dan realitas sosial dalam cerita, keterasingan yang dialami oleh Rara Mendut mewujud secara nyata dalam empat bentuk utama: Alienasi Sosial: Rara Mendut menjadi asing terhadap lingkungan sosial barunya yang kaku, teratur, dan penuh dengan sekat-sekat hierarki feodal. Alienasi Kebebasan: Ia dicabut dari hak dasarnya sebagai manusia dan tidak bebas menentukan arah jalan hidup serta masa depannya. Alienasi Relasi: Mendut terpisah secara paksa dari ikatan sosial, keluarga, maupun ikatan emosional yang ia pilih secara sukarela. Alienasi Ruang Hidup: Ia terisolasi di dalam ruang sosial istana yang tertutup dan bertolak belakang dengan latar belakang pesisirnya yang bebas Pertama, ia mengalami alienasi ruang hidup karena dicabut dari lingkungan pantai yang dinamis dan dipindahkan secara paksa ke ruang keraton yang kaku dan represif. Kedua, Mendut diasingkan dari hak dasarnya untuk menentukan jalan hidup, pasangan, dan masa depannya sendiri. Tubuh, kecantikan, dan perikatan perkawinannya diobjektifikasi menjadi instrumen politik serta simbol status kekuasaan Tumenggung Wiraguna. Ketiga, ia mengalami alienasi relasi sosial karena dipisahkan secara paksa dari komunitas dan keluarga asalnya di pantai. Di lingkungan barunya, ia dikelilingi oleh tatanan feodal yang memandangnya bukan sebagai manusia yang merdeka, melainkan sekadar barang rampasan perang. Keempat, Mendut mengalami alienasi ruang hidup karena terisolasi di dalam lingkungan istana yang kaku, bertolak belakang dengan latar belakang dunia pesisirnya yang bebas. Perlawanan Subjek terhadap Alienasi Meskipun mengalami keterasingan yang mendalam di pusat kekuasaan, Rara Mendut menolak untuk terasing dari kesadaran kritisnya. Dalam perspektif Marxis, upaya Mendut untuk keluar dari jebakan alienasi diwujudkan melalui aksi resistensi yang gigih. Mendut secara tegas menolak tunduk pada tawaran menjadi selir Tumenggung Wiraguna. Penolakan ini menandakan kemampuannya menjaga kesadaran diri agar tidak terinternalisasi oleh ideologi feodal yang menindasnya. Di samping itu, ketika dibebani denda pajak harian atau pajak pati yang sengaja dirancang untuk memeras dan meruntuhkan pertahanannya, Mendut tidak menyerah pada keputusasaan. Ia mengambil keputusan berani untuk berjualan rokok lintingan di pasar rakyat. Melalui aktivitas pasar dan kemandirian ekonomi tersebut, Mendut bertindak sebagai pelaku ekonomi yang mandiri untuk membiayai kebebasannya, sekaligus merebut kembali kontrol atas tubuh, pilihan, dan kedaulatan dirinya yang sempat terasingkan. Pasar sebagai Ruang Perebutan Kedaulatan Keberadaan pasar sebagai ruang interaksi ekonomi rakyat menjadi arena penting bagi Rara Mendut untuk mendefinisikan ulang posisinya. Di pasar, rokok bekas hisapan dan lintingannya dijual dengan harga mahal, memanfaatkan daya tarik dan nilai tukar kultural yang ia miliki. Strategi ini tidak hanya memungkinkannya melunasi denda pajak harian kepada istana, tetapi juga membuktikan bahwa ia mampu berdiri di luar ketergantungan pada fasilitas maupun kedermawanan pihak penguasa. Melalui tindakan berdagang ini, Mendut meruntuhkan klaim bahwa seorang perempuan tawanan perang sepenuhnya tidak berdaya. Ia membuktikan bahwa subjek yang berusaha dialienasikan oleh sistem masih dapat menemukan celah perlawanan dan menegaskan kembali eksistensinya sebagai manusia yang otonom Kesimpulan Melalui analisis alienasi Marxis, novel Rara Mendut karya Y.B. Mangunwijaya memperlihatkan secara jelas bagaimana tatanan masyarakat feodal merampas kebebasan dan memisahkan individu dari lingkungan sosial asalnya. Tatanan yang berakar pada dominasi kelas dan ketimpangan struktur ini berusaha mengikis kedaulatan individu demi kepentingan elite kekuasaan. Namun, perjalanan Rara Mendut juga memberikan pembuktian bahwa keterasingan tidak selalu berujung pada kepatuhan buta atau penyerahan diri. Keberanian Mendut untuk menolak menjadi komoditas feodal menunjukkan perjuangan gigih seorang subjek dalam menentang alienasi demi mempertahankan kedaulatan, martabat, dan hakikat kemanusiaannya Post Views: 23 Navigasi pos Analisis Alienasi Marxis dalam Cerpen Kukila “Perahu Kertas dengan Huruf-Huruf Kanji” Nelson Mandela: 27 Tahun yang Mengubah Seorang Manusia