ADA YANG TIDAK BAIK-BAIK DENGAN ANAK-ANAK KITA Membaca Persoalan Kesehatan Mental dan Tragedi Kehilangan Nyawa pada Generasi Muda di Kabupaten Lembata Oleh: Yohanes Gabriel Rukep Keraf, S.Tr.Kes. Mahasiswa Magister Ilmu Kedokteran Tropis Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada Sebuah peristiwa, sebuah pertanyaan untuk kita semua WARTA-NUSANTARA.COM— Pada Selasa, 3 November 2026, masyarakat Kabupaten Lembata dikejutkan oleh berita tentang seorang pelajar SMP yang ditemukan meninggal dunia di rumahnya di wilayah Lewoleba. Media setempat memberitakan bahwa peristiwa tersebut masih dalam proses penyelidikan dan penyebab pastinya belum dapat dipastikan. Kabar seperti ini tentu menyisakan duka, terutama bagi keluarga yang kehilangan anggota keluarganya. Dalam situasi seperti ini, hal pertama yang perlu kita lakukan adalah menghormati keluarga, menjaga privasi, dan tidak ikut menyebarkan identitas maupun dugaan yang belum terverifikasi. Namun, di balik rasa prihatin itu, ada pertanyaan yang patut kita renungkan bersama: apakah anak-anak dan remaja di sekitar kita benar-benar baik-baik saja? Saya menulis ini bukan untuk menilai peristiwa yang sedang diselidiki, apalagi menyimpulkan penyebabnya. Saya juga tidak bermaksud mencari pihak yang harus disalahkan. Sebagai seseorang yang sedang belajar di bidang kesehatan, saya melihat kejadian ini sebagai pengingat bahwa kesehatan masyarakat tidak hanya berbicara tentang penyakit fisik. Kesehatan mental, rasa aman, hubungan sosial, dan dukungan dari lingkungan juga merupakan bagian penting dari kesehatan. Kesehatan mental anak bukan persoalan sepele Masa remaja adalah masa ketika banyak hal berubah dalam waktu yang bersamaan. Anak mulai mencari jati diri, membangun pertemanan, menghadapi tuntutan sekolah, dan ingin diterima oleh lingkungan. Di tengah proses itu, sebagian anak mungkin menghadapi tekanan keluarga, kesulitan ekonomi, perundungan, konflik pertemanan, rasa kesepian, atau tekanan dari media sosial. Masalahnya, tidak semua anak mudah bercerita. Ada yang memilih diam, menjauh dari teman, mudah marah, kehilangan minat, atau terlihat berbeda dari biasanya. Perubahan seperti itu tidak selalu berarti seorang anak sedang mengalami gangguan kesehatan mental. Namun, perubahan tersebut layak menjadi alasan bagi orang dewasa di sekitarnya untuk mendekat, bertanya, dan mendengarkan dengan lebih sabar. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar satu dari tujuh remaja berusia 10–19 tahun di dunia mengalami kondisi kesehatan mental. Angka ini menunjukkan bahwa persoalan kesehatan mental pada usia remaja bukan hal yang dapat dianggap sepele. WHO juga menekankan pentingnya lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat yang aman serta mendukung. Apa yang dapat kita pelajari dari penelitian di Indonesia? Persoalan kesehatan mental remaja juga terlihat dalam sejumlah penelitian di Indonesia. Penelitian Pham dan rekan-rekan yang diterbitkan dalam Journal of Adolescent Health pada 2024 melibatkan 2.161 remaja berusia 16–18 tahun di Jakarta dan Sulawesi Selatan. Pesertanya mencakup remaja yang masih bersekolah maupun yang sudah tidak bersekolah. Penelitian tersebut memperkirakan adanya tekanan psikologis pada 24,3% remaja yang masih bersekolah dan 23,7% remaja yang sudah tidak bersekolah. Gejala depresi ditemukan pada 12,6% kelompok yang masih bersekolah dan 23,5% kelompok yang sudah tidak bersekolah. Angka-angka ini tidak boleh langsung diterapkan untuk menggambarkan keadaan di Lembata, tetapi memberi gambaran bahwa kebutuhan dukungan psikologis pada remaja perlu diperhatikan. Penelitian Kurniawan dan rekan-rekan yang diterbitkan pada 2024 melibatkan 2.317 siswa SMA berusia 14–18 tahun dari empat provinsi di Pulau Jawa. Penelitian tersebut menemukan hubungan antara berbagai faktor psikososial dengan persoalan serius yang dialami remaja. Faktor yang dibahas antara lain depresi, kesepian, dukungan keluarga yang rendah, kepercayaan diri yang rendah, ketahanan menghadapi masalah yang rendah, dan perasaan kehilangan harapan. Menurut saya, salah satu hal penting dari temuan-temuan tersebut adalah bahwa keadaan seorang anak tidak dapat dipahami hanya dari nilai rapor, prestasi, atau perilakunya di sekolah. Kita juga perlu melihat bagaimana ia menjalani kehidupan sehari-hari, apakah ia merasa diterima, apakah memiliki tempat bercerita, dan apakah ada orang dewasa yang dapat dipercaya ketika ia sedang menghadapi kesulitan. Penelitian-penelitian tersebut dilakukan di wilayah dan kelompok responden yang berbeda dari Kabupaten Lembata. Karena itu, kita tidak boleh menganggap hasilnya sebagai gambaran langsung kondisi anak-anak Lembata. Namun, hasil penelitian itu cukup menjadi alasan untuk memperkuat perhatian, pengumpulan data, dan layanan yang sesuai dengan kebutuhan remaja di daerah kita. Lembata perlu memperkuat perhatian dan informasi Berdasarkan informasi Pemerintah Kabupaten Lembata mengenai Profil Kesehatan Kabupaten Lembata Tahun 2025, daerah ini memiliki sekitar 153.116 penduduk, tiga rumah sakit, dan 12 Puskesmas. Pelayanan kesehatan masyarakat juga didukung oleh 290 Posyandu Siklus Hidup Aktif. Keberadaan fasilitas kesehatan tersebut merupakan modal yang penting. Menurut saya, modal ini perlu terus dikembangkan agar pelayanan kesehatan tidak hanya berfokus pada pemeriksaan dan pengobatan penyakit fisik, tetapi juga memberi ruang bagi kebutuhan kesehatan mental anak dan remaja. Kita masih memerlukan informasi yang lebih terarah mengenai kondisi kesehatan mental anak dan remaja di Lembata, termasuk ketersediaan tenaga yang terlatih, layanan konseling, mekanisme deteksi dini, dan jalur rujukan. Data yang terbuka dan terpilah secara tepat dapat membantu pemerintah daerah serta pihak terkait menentukan program yang benar-benar dibutuhkan. Belum tersedianya informasi yang lengkap bukan berarti persoalan itu tidak ada. Justru, kondisi tersebut menjadi pengingat agar pencatatan, pemantauan, dan kajian kesehatan mental di tingkat daerah diperkuat. Langkah awal yang baik adalah mengetahui kebutuhan masyarakat secara lebih jelas, bukan membuat kesimpulan berdasarkan dugaan. Anak-anak membutuhkan ruang untuk didengarkan Menjaga kesehatan mental anak bukan tugas satu pihak. Keluarga, sekolah, masyarakat, tenaga kesehatan, dan pemerintah memiliki peran yang saling melengkapi. Tidak semua pihak harus menjadi ahli kesehatan mental, tetapi setiap orang dapat ikut menciptakan lingkungan yang lebih aman dan peduli. Di rumah, orang tua dapat memulai dari hal sederhana: menyediakan waktu untuk mendengarkan cerita anak tanpa langsung memarahi atau menghakimi. Pertanyaan seperti “Bagaimana harimu?” atau “Apakah ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan?” mungkin terdengar biasa, tetapi dapat membuka kesempatan bagi anak untuk bercerita. Yang tidak kalah penting, anak perlu merasa bahwa ia tetap dihargai meskipun sedang mengalami masalah atau melakukan kesalahan. Di sekolah, guru dan tenaga kependidikan tidak hanya berperan dalam pencapaian akademik. Mereka juga dapat membantu membangun suasana belajar yang aman, mencegah perundungan, dan memperhatikan perubahan perilaku siswa. Bila ada kekhawatiran, sekolah dapat berkomunikasi dengan keluarga dan mengarahkan anak untuk memperoleh bantuan yang sesuai. Di tingkat masyarakat, kita perlu berhenti menganggap remeh cerita tentang tekanan, kesedihan, atau kesulitan yang dialami anak. Puskesmas dapat menjadi salah satu pintu awal untuk memperoleh informasi, konsultasi, penilaian, dan rujukan apabila diperlukan. Pemerintah daerah dapat memperkuat kerja sama antara Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, sekolah, Puskesmas, rumah sakit, pemerintah desa, dan tokoh masyarakat. Jika seorang anak menyampaikan keinginan untuk menyakiti dirinya atau terlihat berada dalam keadaan sangat tertekan, tanggapi dengan serius. Dengarkan dengan tenang, jangan tinggalkan anak sendirian ketika ada risiko keselamatan yang segera, dan segera hubungi tenaga kesehatan atau bawa ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat. Meminta bantuan bukan tanda kelemahan, melainkan langkah untuk menjaga keselamatan. Jangan menunggu tragedi berikutnya untuk mulai peduli Ketika sebuah peristiwa menyedihkan terjadi, wajar jika masyarakat ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Namun, kita perlu membedakan antara informasi yang sudah terverifikasi dan dugaan. Kita tidak mengetahui seluruh keadaan yang dialami seseorang, sehingga tidak tepat menyimpulkan penyebab suatu peristiwa dari informasi yang terbatas. Kita juga perlu bijak dalam menggunakan media sosial. Menyebarkan identitas, foto, cerita pribadi, atau spekulasi tidak membantu keluarga yang sedang berduka. Sebaliknya, tindakan tersebut dapat menambah beban mereka. Kepedulian seharusnya ditunjukkan dengan menjaga privasi, menyampaikan informasi secara bertanggung jawab, dan memberi dukungan tanpa menghakimi. Sebagai mahasiswa yang sedang mempelajari kesehatan, saya semakin memahami bahwa upaya menjaga kesehatan masyarakat tidak selalu dimulai dari tindakan besar. Kadang-kadang, langkah awalnya adalah kesediaan untuk mendengarkan, memperhatikan perubahan, dan menghubungkan seseorang dengan bantuan yang tepat. Hal-hal sederhana seperti itu mungkin tidak langsung menyelesaikan semua persoalan, tetapi dapat membangun lingkungan yang lebih peduli. Kita tentu ingin anak-anak Lembata tumbuh menjadi generasi yang sehat, terdidik, dan mampu meraih cita-cita. Untuk itu, mereka tidak cukup hanya didorong agar berprestasi. Mereka juga perlu merasa aman, diterima, disayangi, dan memiliki tempat untuk bercerita ketika hidup terasa berat. Kita tidak perlu menunggu peristiwa menyedihkan berikutnya untuk mulai peduli. Mari lebih sering bertanya tentang keadaan anak-anak kita, lebih sabar mendengarkan, lebih peka terhadap perubahan, dan tidak ragu mencari bantuan ketika diperlukan. Menjaga kesehatan mental anak bukan hanya tentang mencegah tragedi, melainkan memastikan setiap anak memiliki kesempatan untuk tumbuh dengan harapan dan menjalani masa depan yang lebih baik. Daftar Pustaka World Health Organization. (2025). Mental health of adolescents. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/adolescent-mental-health Pham, M. D., Wulan, N. R., Sawyer, S. M., Agius, P. A., Fisher, J., Tran, T., Medise, B. E., Devaera, Y., Riyanti, A., Ansariadi, A., Cini, K., Kennedy, E., Wiweko, B., Luchters, S., Kaligis, F., Wiguna, T., & Azzopardi, P. S. (2024). Mental Health Problems Among Indonesian Adolescents: Findings of a Cross-Sectional Study Utilizing Validated Scales and Innovative Sampling Methods. Journal of Adolescent Health, 75(6), 929–938. https://doi.org/10.1016/j.jadohealth.2024.07.016 Kurniawan, D., Fitriawan, A. S., Susanti, B. A. D., et al. (2024). Predictors of suicidal behaviors among school-going adolescents: a cross sectional study in Indonesia. Middle East Current Psychiatry, 31, 39. https://doi.org/10.1186/s43045-024-00429-2 Pemerintah Kabupaten Lembata. (2026). Dinas Kesehatan Terbitkan Profil Kesehatan Kabupaten Lembata Tahun 2025. https://lembatakab.go.id/situs/berita/detail/dinas-kesehatan-terbitkan-profil-kesehatan-kabupaten-lembata-tahun-2025 Aksara News. (3 November 2026). Seorang Pelajar SMP di Lembata Ditemukan Meninggal Dunia di Rumah. https://aksaranews.net/2026/11/03/seorang-pelajar-smp-di-lembata-ditemukan-meninggal-dunia-di-rumah Catatan penulis: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mewakili pandangan resmi Universitas Gadjah Mada. Post Views: 38 Navigasi pos Soal SUKET Gibran, Putusan Kasasi Kualifikasi Non Executorial