Buka Seminar Gong Waning, Bupati Sikka Tekankan 4 Pilar Utama Pemajuan Kebudayaan dan Regenerasi Kaum Muda

​SIKKA : WARTA-NUSANTARA.COM—   Kabupaten Sikka terpilih menjadi salah satu dari 10 kabupaten/kota di Indonesia yang dipercaya Kementerian Kebudayaan untuk menyelenggarakan Seminar dan Diskusi Kebudayaan bertajuk “Gong Waning sebagai Identitas Budaya”. Kegiatan yang berlangsung di Aula Cherubim Center Maumere, Jumat (23/10/2026), dibuka secara resmi oleh Bupati Sikka Juventus Prima Yoris Kago.

​Dalam sambutannya Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago, menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Kementerian Kebudayaan RI, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, serta seluruh pemangku kepentingan yang terus berkomitmen memajukan kebudayaan di tanah Nian Tana Sikka.
​

“Gong Waning bukan sekadar bunyi atau musik tradisional, melainkan suara kebudayaan dan ingatan kolektif masyarakat Kabupaten Sikka. Di dalam dentumannya terkandung nilai-nilai sosial, persaudaraan, dan pembentuk karakter yang diwariskan antar-generasi. Kita tidak boleh membiarkan Gong Waning hanya tersimpan sebagai simbol budaya di pameran museum, tetapi harus terus dimainkan, dipelajari, dan dikembangkan,” tegas Bupati dalam pidatonya.

​Sebagai bagian dari Objek Pemajuan Kebudayaan yang tertuang dalam dokumen Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) Kabupaten Sikka, pelestarian musik tradisional ini dinilai menghadapi tantangan era globalisasi. Menjawab tantangan tersebut, Pemkab Sikka merumuskan 4 Langkah Strategis keberlanjutan Gong Waning:

1. ​Pemberdayaan dan Pewarisan Kebudayaan: Membangun kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan tokoh adat/maestro untuk mentransfer pengetahuan musik tradisional secara terstruktur.

2. ​Penguatan Peran Generasi Muda: Mendorong anak muda menjadi pelaku utama, bukan sekadar penonton, melalui sanggar seni, ekstrakurikuler sekolah, dan pertunjukan budaya.

3. ​Dokumentasi dan Pengembangan Pengetahuan: Mendorong riset akademis, kajian ilmiah, serta dokumentasi audiovisual agar tradisi lisan ini terdokumentasi dengan baik sebagai bahan pembelajaran masa depan.

4. ​Pengembangan Kreativitas dan Ekonomi Budaya: Membuka ruang inovasi melalui festival dan industri kreatif berbasis budaya tanpa menghilangkan nilai adat dan hak cipta masyarakat pemilik tradisi.

Bupati Sikka juga mengingatkan bahwa kemajuan daerah tidak hanya diukur dari pembangunan fisik dan ekonomi, tetapi dari ketahanan akar budayanya.

​Mengakhiri sambutannya, Pemkab Sikka mengimbau para akademisi, seniman, budayawan, tenaga pendidik, serta generasi muda untuk terus menjadikan Gong Waning sebagai sumber inspirasi dalam berkarya demi menjaga jati diri masyarakat Sikka di tengah dinamika zaman.

Seminar ini menghadirkan 3 nara sumber antara lain,

Nara sumber pertama Drs. Ansel Nuredae, S.Pd., M.A. , akan membawakan materi “Revitalisasi Musik Tradisional sebagai Identitas Budaya dan Sumber Pendidikan bagi Generasi Masa Depan”. Beliau memiliki pengalaman panjang dalam bidang pendidikan, penelitian, dan dokumentasi kebudayaan. Pengalamannya mencakup ritus adat, situs budaya, tradisi lisan, kearifan lokal, serta dinamika kebudayaan masyarakat di Flores.

Nara Sumber kedua, Yos Lasar, S.Pd., yang akan membawakan materi “Musik Tradisional sebagai Media Pendidikan Karakter dan Penguatan Identitas Budaya”. Beliau merupakan seorang komponis sekaligus praktisi pendidikan musik yang telah mengabdikan diri sebagai guru dan pengawas pendidikan musik di Kabupaten Sikka selama periode 1993 hingga 2025. Beliau juga melahirkan karya-karya musik liturgis bernuansa etnis, aktif mengembangkan musik dan pendidikan karakter

Nara Sumber ketiga, Kletus Beru, S.Pd., M.M. Beliau merupakan pegiat budaya dan pariwisata yang aktif dalam pelestarian musik dan tarian tradisional serta tenun ikat pewarna alam Flores. Di samping sebagai penggerak pelestarian wisata pemukiman, beliau juga dikenal sebagai Ketua Sanggar Blaut Tawa Tana.

Hadir dalam kesempatan ini, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sikka, Us Minggo. Kepala Dinas Kominfo, Ferdinand Evensius Edomeko, para peserta seminar, dan pegiat seni dan budaya daerah.  .***(Pelita Desa/WN-01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *