Bukan Katanya, Tetapi Katamu Ide Homili Inspiratif Minggu Biasa ke XXI, 23 Agustus 2026 dari Bacaan Injil: Matius 16:13-20 Oleh : Robert Bala WARTA-NUSANTARA.COM— Di era media sosial saat ini, kita sangat akrab dengan istilah “review” atau “kata orang”. Sebelum membeli barang, memilih restoran, atau menonton film, apa yang biasanya kita lakukan pertama kali? Kita membuka ponsel dan melihat apa kata orang lain. Kita sering kali menilai sesuatu bukan berdasarkan pengalaman pribadi kita sendiri, melainkan berdasarkan opini, tren, dan komentar yang beredar di luar sana. Bupati Lembata, Kanis Tuaq dan Wakil Bupati, Muhamad Nasir mengucapkan Dirgahayu HUT RI Ke-81 Tetapi apakah kita tidak menyadari bahwa review kadang mengarahkan kita untuk mengikuti apa yang orang lain suka dan diharapkan juga agar kita terpengaruh dengan kesukaan mereka? Apakah kita tidak menyadari bahwa apa yang mereka suka sesuai dengan level ekonomi mereka apakah harus kita paksakan untuk diri kita sendiri? Di sinilah kemerdekaan diri kita terganggu. Kita akhirnya menyesuaikan kesukaan kita dengan orang lain, padahal kondisi kita bisa saja sangat berbeda dari mereka. Gaya hidup “kata orang” ini ternyata bukan hal yang baru. Dalam Injil Matius hari ini, ketika Yesus dan murid-murid-Nya tiba di daerah Kaisarea Filipi, Yesus mengajukan sebuah pertanyaan yang diawali persis dengan pola itu:”Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Para murid dengan cepat dan lancar menjawabnya. Mereka mengutip berbagai pendapat publik yang berkembang saat itu: “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada yang mengatakan: Elia, dan ada yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” Kalau di zaman now sekarang maka orang akan dengan mudah menggunakan HP untuk mencari jawaban yang pada umumnya tetapi bukan jawaban dari diri mereka. Jawaban para murid tidak ada yang salah. Mereka menyampaikan opini umum dengan sangat akurat. Semua tokoh yang disebutkan adalah orang-orang besar, nabi-nabi hebat, dan pahlawan iman.Namun, perhatikan apa yang terjadi selanjutnya. Yesus tidak berhenti di situ. Ia tidak puas hanya menjadi bahan pembicaraan umum atau sekadar figur populer yang dinilai dari “kata orang”. Tatapan-Nya kemudian tertuju langsung kepada mata para murid-Nya, dan Ia menanyakan pertanyaan yang jauh lebih menohok dan personal:”Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Dengan bertanya demikian, Yesus ingin agar para murid beralih dari opini kepada sebuah kesaksian pribadi. Di sini ada dua perbedaan yang sangat jelas antara apa kata orang dengan apa kata kita sendiri. Pertanyaan pertama—”Kata orang”—hanya membutuhkan ingatan, pendengaran, dan pengamatan akan lingkungan sekitar. Itu adalah jawaban yang berjarak, aman, dan tidak menuntut komitmen apa pun dari diri kita. Tetapi pertanyaan kedua—”Apa katamu”—menuntut hubungan, pengalaman pribadi, dan penyerahan diri. Yesus sedang menegaskan bahwa Ia tidak mencari pengamat sejarah, Ia tidak mencari kritikus agama, dan Ia tidak mencari orang-orang yang hanya ikut-ikutan. Yesus merindukan sebuah relasi yang personal dengan Anda dan saya. Di sinilah letak permenungan mendalam bagi kita hari ini.ering kali, iman kita sebagai orang Kristen terjebak dalam jebakan “kata orang”. Kita tahu Yesus adalah Juruselamat karena kata orang tua kita sejak kecil. Kita tahu Yesus itu baik karena kata pastor dalam homili. Kita rajin ke gereja setiap Minggu karena tradisi keluarga atau sekadar ikut-ikutan lingkungan sosial kita. Tetapi, bagaimana jika hari ini Yesus berdiri tepat di depan kita, menatap mata kita satu per satu, dan bertanya: “Di luar semua khotbah yang pernah kamu dengar, di luar tradisi keluargamu, di luar status Katolik di KTP-mu… apa katamu, siapakah Aku ini bagi hidupmu?” Lalu bagaimana kita menjawab pertanyaan Yesus untuk hari ini? Pertanyaan itu membutuhkan jawaban kesaksian diri sendiri, bukan teori. Apakah Yesus bagi kita hanya sekadar sosok sejarah yang hidup 2000 tahun lalu? Apakah Dia hanya seperti “Sinterklas pembuat mukjizat” yang baru kita cari dan panggil ketika kita sedang kepepet, sakit, atau mengalami krisis keuangan? Atau, seperti pengakuan iman Simon Petrus—”Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!”—apakah Yesus benar-benar menjadi Tuhan dan Penyelamat dalam realitas hidup kita sehari-hari? Mempercayai Yesus sebagai “Mesias dan Tuhan yang hidup” berarti: • Dalam Keputusan Harian: Apakah ajaran Yesus menjadi kompas saat kita mengambil keputusan dalam pekerjaan, bisnis, dan kejujuran kita, ataukah kita lebih memilih “kata dunia”? • Dalam Keluarga: Apakah kasih Kristus menjadi dasar saat kita belajar mengampuni pasangan dan mendidik anak-anak kita? • Dalam Pergumulan: Apakah kita tetap memegang tangan-Nya sebagai Tuhan yang berkuasa ketika doa-doa kita belum terjawab? Iman warisan memang memberi kita jalan masuk, tetapi hanya iman hasil perjumpaan pribadi yang akan membuat kita bertahan di tengah badai kehidupan. Hari ini, mari kita mengheningkan cipta sejenak di hadapan sakramen mahakudus. Mari kita tinggalkan sejenak kebisingan opini dunia, dan berani menjawab pertanyaan Kristus dengan jujur dari kedalaman hati kita masing-masing. Jangan biarkan iman kita berhenti pada “kata orang”. Biarlah dari mulut dan hidup kita terucap sebuah pengakuan yang lahir dari pengalaman kasih-Nya yang nyata: “Tuhan, Engkau adalah Penyelamatku, Pengampun dosa-dosaku, dan Pemegang kendali atas seluruh hidupku.” Semoga Tuhan memberkati kita semua. Amin. Robert Bala. Penulis buku RANCANG DIRI RAIH KARIER. Penerbit TAB Grafika, Februari 202 Post Views: 28 Navigasi pos ASN Katolik Lembata Perkuat Iman Perkawinan sebagai Jalan Kekudusan dan Integritas Pelayanan