Digitalisasi Sekolah Tanpa Perbaikan Nasib Guru: Hanya Lompatan Teknologi atau Lompatan Kualitas?

Digitalisasi Sekolah Tanpa Perbaikan Nasib Guru: Hanya Lompatan Teknologi atau Lompatan Kualitas?

Oleh: Muh. Sulaiman Rifai Aprianus Mukin, M. Pd. CPIM

WARTA-NUSANTARA.COM—  Pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto sedang gencar-gencarnya mendorong digitalisasi pembelajaran sebagai fondasi utama akselerasi pendidikan nasional. Target ambisius pun dilontarkan: 288 ribu sekolah akan menerima papan interaktif digital (IFP) sebelum awal 2026. Materi dari pengajar terbaik pun direncanakan disiarkan dari studio terpusat, agar siswa di seluruh Indonesia bisa belajar dari ahlinya langsung.

Namun, di balik gemerlap teknologi dan janji lompatan kemajuan, satu pertanyaan menganga lebar: Mampukah digitalisasi meningkatkan kualitas pendidikan, jika guru yang menjadi porosnya masih terperangkap dalam beban sistemik yang tak kunjung usai?

Teknologi Halah Alat, Gurulah Penentu

Benar bahwa papan interaktif, aplikasi pembelajaran, dan pelatihan teknologi dapat membuat proses belajar lebih menarik. Video, animasi, dan kuis digital mampu mengurangi kebosanan siswa. Peran guru pun bertransformasi dari satu-satunya sumber informasi menjadi fasilitator antara siswa dan dunia digital.

Tapi mari jujur: sehebat apa pun IFP yang terpasang di dinding kelas, ia hanyalah benda mati. Kualitas pendidikan tidak ditentukan oleh mewahnya alat, melainkan oleh kompetensi, kesejahteraan, dan ketenangan batin guru dalam mendidik.

Persoalannya saat ini justru krusial dan nyata:

1. Beban Mental yang Mencekik Nurani
Guru hari ini berada dalam dilema akut. Di satu sisi, mereka diajarkan kejujuran dan profesionalisme. Di sisi lain, sistem memaksa mereka untuk mengabaikan realitas—siswa yang belum layak naik kelas atau lulus tetap harus dinyatakan memenuhi standar minimal. Isian rapor sering kali bukan lagi cerminan capaian belajar, melainkan kepatuhan terhadap aturan yang tak manusiawi. Akibatnya, nurani guru terluka setiap akhir semester.
2. Gaji Tak Layak, Hidup Terjepit
Bagaimana mungkin guru dituntut serius mendidik generasi bangsa, sementara penghidupan mereka sendiri masih jauh dari kata layak? Di tengah harga kebutuhan yang meroket, banyak guru honorer maupun guru ASN di daerah masih bergulat dengan gaji yang pas-pasan. Semangat mengajar tidak bisa terus-menerus dipompa jika perut dan keluarga di rumah terbengkalai.
3. Kesenjangan Akses yang Tak Terhindarkan
Indonesia bukanlah Singapura atau Finlandia. Wilayahnya membentang dari Sabang hingga Merauke, dengan kontur geografis yang sangat beragam. Jaringan internet tidak merata. Listrik pun di beberapa daerah terpencil belum stabil. Memaksakan digitalisasi seragam tanpa solusi infrastruktur yang memadai hanya akan memperlebar jurang kualitas antara sekolah di kota besar dan sekolah di pelosok.

Lompatan Teknologi atau Lompatan Kualitas?

Presiden menyebut akan menciptakan lompatan kemajuan. Tapi tanpa perbaikan mendasar pada kesejahteraan dan beban kerja guru, lompatan itu hanya ilusi. Alat digital bisa mempercepat distribusi materi, tetapi tidak akan pernah menggantikan ketulusan seorang guru yang hadir dengan hati tenang, bukan dengan hati yang terbelah antara kebijakan dan kebenaran.

Digitalisasi guru—dengan pelatihan, adaptasi teknologi, dan perubahan peran menjadi fasilitator—hanya akan bermakna jika guru sendiri merasa dihargai, dilindungi, dan diberi ruang untuk menjadi pendidik sejati. Bukan sekadar pelapor nilai yang menyenangkan semua pihak.

Kesimpulan: Jangan Terbalik Prioritas

Program digitalisasi pembelajaran patut diapresiasi sebagai langkah modernisasi. Tapi jika pemerintah serius meningkatkan kualitas pendidikan, maka perbaikan utama bukanlah pada benda, melainkan pada manusia penggeraknya: guru.

· Beri guru gaji yang layak, sehingga mereka bisa fokus mengajar tanpa tekanan ekonomi.
· Bebaskan guru dari sistem nilai yang memaksakan, kembalikan fungsi evaluasi sebagai alat perbaikan, bukan pelengkap administrasi.
· Selesaikan kesenjangan infrastruktur sebelum memaksakan teknologi seragam di seluruh negeri.

Tanpa itu, papan interaktif hanyalah pajangan mahal di dinding kelas. Dan digitalisasi hanya akan menjadi cerita manis tentang lompatan yang gagal meninggalkan tanah. Sementara guru-guru terbaik terus kehilangan idealismenya, satu per satu.

Biografi Penulis:
Muh. Sulaiman Rifai Aprianus Mukin, lahir di Ende, 27 April 1970, adalah ASN di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lembata, NTT, dalam jabatannya sebagai Pengawas Sekolah Ahli Madya Tingkat Menengah. Menyelesaikan S1 di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Muhammdiyah Kupang di tahun 1995. Meraih gelar S2 Magister Pendidikan Agama Islam dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada tahun 2025 dan memiliki sertifikasi nonakademik Certified Planning and Inventory Management (CPIM) di tahun yang sama. Sedang merintis Taman Baca Savana Iqra (TBSIq) dan aktif berperan sebagai “Penakar Literasi” di dalam Komunitas Penulis Lembata. Penulis yang produktif dengan karya meliputi: 1 Buku Solo bertema pendidikan karakter (2025). 3 Buku Antologi Cerpen fiksi (2022–2023). 4 Buku Antologi Akademik terkait literasi, pendidikan, dan moderasi beragama (2024–2025). Penulis aktif menulis opini/ headline di berbagai media online. Penulis dapat dihubungi melalui Facebook (@RifaiAprian) dan Instagram (@Rifai_mukin).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *