Agama  

DUNIA BERTERIAK, TUHAN BERBISIK

DUNIA BERTERIAK, TUHAN BERBISIK
Renungan Minggu 26 April 2026, terinspirasi dari Injil Yohanes 10:1–10

Oleh : Robert Bala

Coba jujur pada diri sendiri: sejak bangun pagi, suara apa yang pertama kali kita dengar… dan kita ikuti?

WARTA-NUSANTARA.COM–  Sering kali, bukan suara orang di rumah. Bukan juga suara hati. Tapi suara notifikasi. Bunyi kecil dari ponsel yang terasa mendesak: cek sekarang, jawab sekarang, lihat sekarang. Tanpa sadar, perhatian kita langsung tersedot. Bahkan orang yang ada di depan kita pun bisa “kalah” oleh suara kecil itu.

Dan itu baru permulaan. Ketika kita mulai beraktivitas, datang suara lain yang lebih keras: target, deadline, tuntutan untuk berhasil, ketakutan akan gagal, kecemasan mengecewakan orang lain.

Semua seperti berteriak dalam hidup kita. Tidak memberi ruang. Tidak memberi jeda. Lama-lama, suara-suara itu tidak hanya lewat di telinga, tetapi tinggal di dalam hati. Mereka mulai membentuk cara kita memandang diri sendiri.

Oplus_16908288

Dari situ, pelan-pelan bisa tumbuh rasa tidak cukup baik, tidak berharga, bahkan putus asa. Ada orang yang akhirnya merasa seolah-olah ada “suara” dalam dirinya yang mendorong pada keputusan-keputusan yang menyakitkan, bahkan fatal. Padahal sering kali itu bukan suara asing. Itu adalah gema luka batin yang lama tidak disembuhkan, diperkuat oleh bisingnya dunia yang terus menekan.

Bila orang akhirnya melakukan hal yang fatal maka mereka membayangkan bahwa ada suara dari luar yang meminta mereka melakukan hal yang tidak patut dicontohi. Lalu apakah itu suara dari luar? Tidak. Suara itu berasal dari kekecwaan, keputusasahan, dan kegalauan yang mereka pelihara dan lama-lama menggumpal menjadi suara dari luar. (Inilah temuan yang membuat saya terkejut saat menulis buku SEBELUM BUNUH DIRI: Fakta, Deteksi, dan Pencegahan Bunuh Diri Remaja, Penerbit Ledalero, Mei 2025 .).

Di tenga kegalauan akan aneka suara ini, hari ini kita mendengar hal yang sangat membuat kita tenang saat Tuhan Yesus berkata: “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku.” (Yohanes 10: 3).

Yesus tidak menyangkal bahwa hidup ini ramai. Ia tidak berkata dunia akan menjadi sunyi. Tetapi Ia menegaskan satu hal penting: mereka yang mengenal-Nya akan mengenali suara-Nya… dan memilih mengikuti-Nya.

Pertanyaannya: bagaimana mungkin kita bisa mendengar suara Tuhan di tengah dunia yang begitu bising? Jawabannya justru mengejutkan. Tuhan tidak bersaing dalam kebisingan itu. Ia tidak berteriak lebih keras dari dunia. Tuhan memilih cara yang berbeda: Ia berbisik.

Suara Tuhan itu lembut, tetapi jelas. Tenang, tetapi menuntun. Ia tidak memaksa, tetapi mengundang. Karena itu, untuk mendengarnya, kita perlu melakukan sesuatu yang jarang kita lakukan hari ini: berhenti sejenak… dan hening.

Masalahnya, kita sering takut hening. Begitu sepi sedikit, kita langsung mencari pengalihannya. Padahal justru dalam keheningan itulah suara Tuhan mulai terdengar.

Lalu bagaimana kita tahu itu sungguh suara Tuhan? Injil memberi kita kunci yang sangat praktis: suara Sang Gembala selalu membawa kehidupan. Artinya, kita bisa menguji suara-suara yang kita dengar setiap hari. Apakah suara itu membawa damai… atau justru kegelisahan? Apakah suara itu menumbuhkan harapan… atau memperbesar ketakutan? Apakah suara itu mendorong kita untuk mengasihi… atau menjauh dari sesama?

Jika sebuah suara mendorong kita untuk melakukan yang baik, yang menghidupkan, yang memulihkan—itu adalah arah dari Tuhan. Tetapi jika suara itu membuat kita semakin gelap, semakin putus asa, bahkan mendorong pada tindakan yang merusak diri sendiri atau orang lain—itu bukan suara Tuhan. Tuhan tidak pernah berbicara dengan cara seperti itu.

Suara Tuhan tidak pernah berkata bahwa hidup kita tidak berharga. Sebaliknya, Ia selalu mengingatkan bahwa kita berharga, dicintai, dan dipanggil untuk hidup—bukan sekadar bertahan, tetapi hidup dengan makna.

Sementara itu, banyak suara lain hanya membuat kita lelah: mengejar tanpa arah, membandingkan tanpa pernah merasa cukup, hidup dalam kecemasan yang tidak ada ujungnya. Jika itu yang kita alami, mungkin bukan Tuhan yang sedang kita dengarkan, tetapi gema dari dunia—atau bahkan suara dalam diri kita yang sudah terlalu lama dibentuk oleh kebisingan.

Karena itu, menjadi murid Kristus ternyata bukan pertama-tama soal melakukan banyak hal. Ini soal belajar mendengarkan. Memberi ruang bagi suara Tuhan di tengah hiruk-pikuk hidup. Dan itu bisa dimulai dari hal-hal sederhana: mematikan sejenak kebisingan digital, mengambil waktu hening walau hanya beberapa menit,
membaca Kitab Suci perlahan, atau duduk diam dan berkata, “Tuhan, aku mau mendengarkan Engkau.”

Sering kali bukan Tuhan yang diam. Kitalah yang tidak memberi ruang. Keheningan bukanlah kekosongan. Justru di sanalah kita mulai mengenali suara yang selama ini tertutup oleh kebisingan.

Hari ini, mari kita pulang dengan satu pertanyaan sederhana:
suara siapa yang paling saya ikuti? Dan mungkin, kita bisa mulai dengan satu langkah kecil: memberi ruang lebih besar bagi suara Tuhan. Karena di antara begitu banyak suara dalam hidup ini, hanya satu yang sungguh menuntun kita kepada kehidupan. Dan kabar baiknya: suara itu tidak pernah berhenti memanggil. Ia terus berbisik… menunggu kita untuk diam, mendengar, dan akhirnya—mengikuti.

Robert Bala. Penulis buku SEBELUM BUNUH DIRI: Fakta, Deteksi, dan Pencegahan Bunuh Diri Remaja, Penerbit Ledalero, Mei 2025.

Exit mobile version