Gubernur Melki Laka Lena Apresiasi Dinkes NTT, Pelayanan Kesehatan dan Pemberdayaan Ekonomi Berjalan Bersama Berkelanjutan Lifuleo – Kupang, 11 Agustus 2026 KUPANG : WARTA-NUSANTARA.COM— Pemberdayaan Ekonomi dan Pelayanan Kesehatan Melalui Program Intervensi Dinas Kesehatan Provinsi NTT di Desa Lifuleo Kabupaten Kupang. Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena menghadiri kegiatan Program Intervensi Perangkat Daerah yang digelar oleh Dinas Kesehatan Provinsi NTT bertempat di Pantai Oesina, Desa Lifuleo, Kecamatan Kupang Barat Kabupaten Kupang pada Selasa (11/8/2026) siang. Kegiatan ini mengangkat tema “Bersama Mewujudkan Masyarakat yang Sehat, Mandiri dan Berkualitas Melalui Kolaborasi Lintas Sektor”. Untuk diketahui, Program Intervensi Perangkat Daerah ini sebagai wujud nyata komitmen Pemerintah Provinsi NTT dalam memperkuat sinergi lintas sektor guna mendorong percepatan pembangunan desa, peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui penguatan sektor UMKM sebagai motor penggerak ekonomi masyarakat menuju desa yang mandiri dan produktif serta mendukung pelaksanaan program OVOP (one village one product). Dalam konteks ini, Dinas Kesehatan Provinsi NTT juga mendukung tercapainya Dasa Cita untuk yang menyentuh aspek kesehatan dengan selain mendukung pengembangan ekonomi lokal berupa produk selai kacang dan cookies juga terdapat sejumlah kegiatan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Gubernur Nusa Tenggara Timur Emanuel Melkiades Laka Lena memberikan apresiasi kepada Dinas Kesehatan Provinsi NTT yang tidak hanya menjalankan program di bidang kesehatan, tetapi juga mulai mengintegrasikan pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui pengembangan potensi dan produk lokal desa. Menurut Gubernur Melki, langkah Dinas Kesehatan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan kesehatan masyarakat dapat berjalan berdampingan dengan pemberdayaan ekonomi. Masyarakat yang sehat harus didorong menjadi masyarakat yang produktif, mandiri dan mampu memanfaatkan potensi yang tersedia di lingkungan mereka untuk menghasilkan nilai ekonomi. “Saya memberikan apresiasi kepada Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTT dan seluruh jajaran bersama masyarakat Desa Lifuleo karena kegiatan ini tidak hanya berbicara tentang kesehatan, tetapi juga bagaimana masyarakat diberdayakan. Hari ini kita melihat ibu-ibu di desa bisa menghasilkan produk sendiri berupa selai kacang dan kukis, dari olahan bahan baku yang ada di sekitar mereka menjadi produk yang memiliki nilai jual,” ujar Gubernur. Menurutnya, semakin banyak produk lokal yang diproduksi dan dibeli kembali oleh masyarakat NTT, semakin besar pula peluang kemandirian ekonomi masyarakat dan ada peningkatan pendapatan masyarakat. “Kita ingin produk kita ini diproduksi oleh kita dan dibeli kembali oleh masyarakat lokal sehingga perputara uang tetap ada di NTT dan menekan defisit neraca perdagangan kita,” jelasnya. “Jangan sampai pasar kita penuh dengan produk dari luar, sementara masyarakat kita sendiri punya bahan baku, punya tenaga, punya kemampuan, tetapi tidak memiliki pasar. Karena itu, kita harus mulai dari pasar kita sendiri,” ungkapnya. Ia berharap kolaborasi lintas sektor tersebut terus diperkuat sehingga program OVOP tidak berhenti pada peluncuran produk, tetapi berkembang menjadi gerakan ekonomi masyarakat di seluruh NTT. “Kalau kita ingin membangun NTT, kita harus mulai dari apa yang kita punya. Kita produksi sendiri, kita beli sendiri, kita gunakan sendiri, kemudian kita dorong agar produk kita bisa keluar NTT. Inilah salah satu cara kita menggerakkan ekonomi kerakyatan dan mengurangi defisit perdagangan NTT,” pungkasnya. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTT, Ruth Laiskodat, dalam laporannya menjelaskan bahwa intervensi OPD kesehatan di Desa Lifuleo merupakan bentuk kolaborasi berbagai pihak untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kemandirian masyarakat. “Ini merupakan bentuk kolaborasi lintas sektor untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kemandirian masyarakat, sekaligus mendukung pengembangan potensi desa melalui One Village One Product,” jelas Ruth. Menurutnya, program tersebut diarahkan agar masyarakat tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga memahami aspek legalitas, keamanan pangan, kemasan, pemasaran hingga strategi pengembangan usaha. Dalam pelaksanaannya, Dinas Kesehatan Provinsi NTT berkolaborasi dengan sejumlah pihak, termasuk Dinas Perindustrian, Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM), Poltekkes Kemenkes Kupang serta kelompok masyarakat dan UMKM di Desa Lifuleo. Pendampingan yang dilakukan antara lain mencakup edukasi mengenai izin edar, persyaratan kemasan, pelabelan, iklan produk pangan, legalitas usaha serta strategi pemasaran digital. Pendampingan tersebut diharapkan dapat membuat produk masyarakat memiliki daya saing yang lebih baik dan mampu menembus pasar yang lebih luas. Dari proses pemberdayaan tersebut, masyarakat telah menghasilkan sejumlah produk olahan pangan berbasis bahan lokal, antara lain kukis dan selai kacang yang dikembangkan oleh kelompok usaha masyarakat Desa Lifuleo. Ruth menjelaskan, produksi awal telah menghasilkan ratusan kemasan produk. Dengan dukungan modal yang diberikan, kelompok masyarakat masih memiliki bahan dan anggaran yang akan digunakan untuk melanjutkan produksi. Selain pengembangan UMKM, kegiatan intervensi juga memberikan perhatian terhadap peningkatan kualitas kesehatan masyarakat. Kampanye kesehatan telah dilakukan dengan melibatkan unsur pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, pemerintah desa, kelompok UMKM, kader, tokoh masyarakat dan unsur lainnya. Ruth menjelaskan, dalam rangkaian kegiatan tersebut, masyarakat mendapatkan pemeriksaan kesehatan gratis serta edukasi mengenai imunisasi, pemeriksaan kehamilan atau antenatal care, dan pemenuhan gizi. Pemerintah Provinsi NTT berkomitmen untuk terus memastikan bahwa setiap program dan intervensi pembangunan yang dilaksanakan oleh perangkat daerah di desa-desa tidak berhenti pada pelaksanaan kegiatan semata, tetapi memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat. Intervensi perangkat daerah di desa harus dipandang sebagai bagian dari satu gerakan pembangunan yang terintegrasi, terarah, dan berkelanjutan. Oleh karena itu, setelah program dilaksanakan, diperlukan pendampingan secara berkelanjutan oleh perangkat daerah terkait agar masyarakat desa mampu mengelola, mengembangkan, dan mempertahankan manfaat dari program tersebut secara mandiri. Melalui pendekatan tersebut, Pemerintah Provinsi NTT ingin memastikan bahwa pembangunan benar-benar hadir sampai ke tingkat desa, menghasilkan perubahan yang nyata, dan meninggalkan kapasitas serta kemandirian masyarakat sebagai warisan pembangunan. Dan ke depannya, Pemerintah Provinsi NTT juga mendorong agar setiap kementerian/lembaga terkait dapat mengidentifikasi program nasional yang relevan untuk diselaraskan dengan desa-desa dampingan di NTT. Program pusat dapat diarahkan untuk memperkuat rantai intervensi yang telah dimulai oleh pemerintah daerah, baik pada sektor pertanian, peternakan, perikanan, UMKM, pariwisata, kesehatan, pendidikan, infrastruktur, pemberdayaan masyarakat, maupun sektor strategis lainnya. Demikian siaran pers ini dibuat dan dipublikasikan. #IndonesiaTerang #AyoBangunNTT ***(Siaran Pers Biro Administrasi Pimpinan Setda Provinsi NTT, diterima Warta-nusantara.Com Penulis / Foto : Meldo Nailopo Video : Ady Hau) Post Views: 15 Navigasi pos Bupati Lembata Percepat Akses Kesehatan Masyarakat, Target Layanan Cuci Darah Hadir Oktober