Jagung Bose, Bisakah Dilirik MBG ?

Jagung Bose, Bisakah Dilirik MBG ?

Oleh: Melkianus Baok

Mahasiswa Program Studi Teknologi Pangan, Fakultas Sains dan Teknologi UNIKA Widya Mandira Kupang

WARTA-NUSANTARA.COM—  Program Makan Bergizi Gratis (MBG) membuka peluang besar bagi daerah untuk menghadirkan pangan lokal sebagai bagian dari solusi gizi nasional. Di tengah dominasi menu berbasis beras dan pangan instan, jagung bose, sebuah kuliner tradisional khas Nusa Tenggara Timur (NTT), layak dipertimbangkan sebagai salah satu menu MBG. Bukan sekadar makanan tradisional namun jagung bose menyimpan nilai gizi, budaya, dan ekonomi yang relevan dengan agenda ketahanan pangan Indonesia saat ini.

Pemerintah menargetkan jutaan penerima manfaat MBG sepanjang 2025, dengan sasaran jangka panjang mencapai puluhan juta anak sekolah, balita, serta ibu hamil dan menyusui. Besarnya skala program ini membutuhkan pasokan pangan yang beragam, bergizi, mudah diperoleh, dan berbasis potensi lokal. Dalam konteks itulah jagung bose memiliki peluang strategis.

Jagung bose berbahan dasar jagung putih kering yang direndam, ditumbuk untuk memisahkan kulit ari, lalu dimasak bersama kacang-kacangan seperti kacang merah, kacang nasi, atau kacang tanah. Setelah itu ditambahkan santan kelapa, sedikit garam, dan daun pandan. Proses ini bukan hanya teknik memasak, tetapi bagian dari pengetahuan tradisional masyarakat NTT yang diwariskan lintas generasi.

Secara ilmiah, komposisi jagung bose cukup menjanjikan sebagai pangan bergizi. Jagung mengandung karbohidrat kompleks dan serat yang memberi rasa kenyang lebih lama serta membantu menjaga kesehatan pencernaan. Kacang-kacangan menyumbang protein nabati, zat besi, dan mineral penting untuk pertumbuhan anak. Santan menyediakan lemak nabati sebagai sumber energi tambahan. Kombinasi ini membuat jagung bose memiliki komposisi gizi makro yang relatif lengkap yaitu karbohidrat, protein, dan lemak.

Hal yang menarik adalah bahwa pendekatan pangan lokal seperti jagung bose sejalan dengan semangat diversifikasi pangan nasional. Indonesia selama ini masih terlalu bergantung pada beras, padahal banyak daerah memiliki sumber pangan lokal bernilai tinggi. NTT sendiri secara historis merupakan wilayah konsumsi jagung. Karena itu, menghadirkan jagung bose dalam MBG bukan sekadar variasi menu, melainkan langkah konkret memperkuat kedaulatan pangan daerah.

Dampak ekonominya juga signifikan. Jika jagung bose masuk rantai pasok MBG, maka permintaan terhadap jagung lokal, kacang-kacangan, dan kelapa akan meningkat. Artinya, petani lokal memperoleh pasar yang lebih pasti dan berkelanjutan. Dengan anggaran MBG yang mencapai puluhan triliun rupiah, perputaran ekonomi pangan lokal sebenarnya dapat menjadi instrumen penggerak ekonomi desa.

Dari sisi sosial dan budaya, jagung bose juga memiliki nilai penting. Banyak pangan tradisional perlahan tersisih oleh makanan cepat saji yang tinggi gula, garam, dan lemak. Akibatnya, generasi muda semakin jauh dari identitas kuliner daerahnya sendiri. Padahal, sekolah bukan hanya tempat belajar akademik, tetapi juga ruang membangun karakter dan kebanggaan terhadap budaya lokal. Ketika anak-anak diperkenalkan kembali pada jagung bose melalui MBG, mereka tidak hanya menerima asupan gizi, tetapi juga mengenal warisan budaya daerahnya dan bangga mempertahankannya.

Tentu, penerapan jagung bose dalam MBG memerlukan sejumlah penyesuaian. Produksi harus memenuhi standar higienitas dan keamanan pangan karena skala MBG sangat besar. Evaluasi menu juga penting agar kandungan santan, garam, dan porsinya tetap sesuai kebutuhan gizi anak sekolah. Pengalaman awal MBG menunjukkan aspek keamanan pangan menjadi tantangan serius yang harus diperhatikan pemerintah. Karena itu, inovasi perlu dilakukan tanpa menghilangkan identitas rasa. Jagung bose dapat dipadukan dengan telur, ikan, tempe, atau sayuran lokal untuk meningkatkan kualitas protein dan mikronutrien. Proses pengolahan juga bisa dibuat lebih efisien melalui teknologi pangan sederhana sehingga tetap praktis diproduksi dalam jumlah besar.

Pada akhirnya, jagung bose bukan sekadar makanan tradisional kampung yang romantis dikenang. Ia adalah contoh nyata bahwa pangan lokal dapat menjawab kebutuhan gizi modern sekaligus menggerakkan ekonomi rakyat. Jika MBG ingin menjadi program yang bukan hanya mengenyangkan, tetapi juga membangun kemandirian pangan nasional, maka sudah saatnya jagung bose dilirik lebih serius***.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *