Agama  

Jalan Keselamatan

Jalan Keselamatan

Oleh: Pater Steph Tupeng Witin SVD 
Yoh 10:1-10WARTA-NUSANTARA.COM– Hari ini Gereja merayakan hari Minggu Paskah IV atau Hari Minggu Gembala Baik yang sekaligus Hari Minggu Panggilan. Injil berkisah tentang gembala yang baik. Yesus menggunakan gambaran gembala yang menyatu dengan domba-dombanya. Gembala dan domba memiliki relasi intim dan saling mengenal satu sama lain.

Di pagi hari, ketika matahari terbit, gembala datang kepada penjaga untuk membuka pintu dan gembala memanggil domba-dombanya lalu domba-dombanya segera keluar dari kandang dan dituntunnya menuju ke padang rumput hijau karena sangat mengenal suaranya.

Gembala sejati masuk melalui pintu yang sama dengan domba-domba. Ia tidak perlu menggunakan cara yang tidak pantas untuk masuk seperti pencuri dan perampok.

Yesus memakai gambaran ini untuk menyatakan diri-Nya sebagai gembala sejati yang datang ke dunia dengan cara yang benar, memanggil domba-domba-Nya satu per satu, dan menuntun mereka keluar dari kegelapan menuju terang (Yoh 10:1-5).

Oplus_16908288

Ia berjalan di depan dan domba-domba-Nya mengikuti Dia karena mereka mengenal suara-Nya. Orang-orang Farisi yang tentu saja tidak memahami perumpamaan ini, Yesus memberikan penjelasan lain dengan bersabda,” Akulah pintu bagi domba-domba.

Semua orang yang datang sebelum Aku adalah pencuri dan perampok, tetapi domba-domba itu tidak mendengarkan mereka. Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan keluar masuk dan menemukan padang rumput” Yoh 10:7-9).

Yesus menegaskan bahwa Dialah jalan yang benar, satu-satunya jalan menuju keselamatan.
Tuhan dengan tegas membedakan diri-Nya dari gembala-gembala palsu. Ia menyebut mereka sebagai pencuri dan perampok yang tidak diikuti oleh domba-domba karena mereka orang asing.

Lukisan perihal “pencuri dan perampok” di sini adalah kaum Farisi pada zaman-Nya, yang memanfaatkan umat Israel demi kepentingan mereka sendiri. Gembala palsu merampas kehidupan melalui tipu daya dan kekerasan, tetapi gembala sejati merawat, melindungi, dan menyelamatkan kehidupan.

Pencuri dan perampok merampas hidup, tetapi Yesus berjanji memberikan hidup, dan Ia memberikannya dengan berlimpah. Maka Yesus berkata, “Pencuri datang hanya untuk mencuri, membunuh, dan membinasakan.

Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yohanes 10:10).

Sabda Yesus hari ini mendapatkan kekuatan makna yang lebih dalam karena kita sedang berada dalam masa Paskah. Kita telah merayakan wafat dan kebangkitan Yesus. Yesus harus mati terhadap diri-Nya sendiri untuk hidup dalam kehidupan yang baru.

Ia telah menunjukkan kepada kita bagaimana hidup sepenuhnya: mati terhadap diri sendiri agar bangkit kepada hidup yang baru (Hidup, 2026).

Yesus mengajarkan bahwa jalan menuju kebahagiaan bukanlah dengan memenuhi semua keinginan dan hasrat kita. Jalan menuju kebahagiaan justru terletak pada pilihan hidup yang melawan arus dunia: berkorban dan memikul salib bersama Yesus, serta menghadirkan kehidupan Yesus dalam hidup kita sendiri.

Maka Yesus berkata: “Akulah pintu. Barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat; ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput” (Yohanes 10:9); dan “Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yohanes 10:10).

Domba yang mengenal suara gembala tidak hanya mengikuti ketika dipanggil tetapi juga masuk melalui pintu yang dijaga gembala. Pintu itu menjadi tanda perlindungan dan keselamatan.

Malam hari domba-domba tidak berkeliaran sembarangan. Mereka masuk melalui pintu kendang karena aman dari serigala dan bahaya lainnya. Pintu itu bukan pembatas kebebasan melainkan jaminan keselamatan.

Paus Santo Yohanes Paulus II berkali-kali mendorong umat untuk menemukan hidup yang penuh dengan mengikuti Yesus. Ia berkata: “Jangan takut! Bukalah lebar-lebar pintu bagi Kristus!”

Beliau juga menetapkan Hari Minggu Paskah Ke-empat ini sebagai Hari Doa Sedunia untuk Panggilan. Santo Yohanes Paulus II menginspirasi kita dengan pilihan hidup dan panggilan masing-masing agar setia mengenal suara Tuhan melalui doa, sabda dan Ekaristi.

Di situlah kita belajar masuk melalui “pintu yang benar” yaitu Kristus. Orang yang akrab dengan suara Tuhan, tidak mudah tergoda oleh “suara-suara lain” yang mungkin lebih keras dan nikmat: godaan keuntungan cepat, kemarahan, jalan pintas yang tampaknya menyenangkan tapi sesungguhnya sangat berbahaya.

Ia tahu bahwa keselamatan tidak datang dari jalan pintas melainkan dari kesetiaan mengikuti Sang Gembala sebagaimana ditunjukkan dalam rahasia Paska: hanya melalui jalan salib, keselamatan itu menjadi sebuah kepastian.***

Exit mobile version