“Jangan Kau Campakkan Lamakera”: Sumpah Gadis Hukum di Tengah Terik Pelabuhan yang Sunyi FLORES TIMUR : WARTA-NUSANTARA.COM— Matahari siang itu di Pelabuhan Lamakera bukan sekadar panas; ia adalah hukuman yang menuntut upeti dari setiap kulit yang terpapar. Sinar mentari memantul dari aspal dermaga yang retak-retak, menciptakan ilusi uap air yang menari-nari di atas tanah kering. Angin laut yang seharusnya membawa kesejukan justru terasa seperti hembusan oven raksasa, membakar tenggorokan dalam hitungan detik. Di bawah terik yang menyengat dan keheningan yang mencekam itulah, Niya berdiri mematung, merasakan kekecewaan yang jauh lebih pedih daripada sengatan matahari. Namanya Fadhelatunnisa. Tapi bagi orang-orang di Lamahora Barat, Lewoleba Timur, Lembata, ia tetaplah Niya. Di Kampus Hukum Undana Kupang, teman-temannya memanggilnya Fadhel. Saat ditanya mana nama yang benar, ia selalu menjawab dengan senyum manis khasnya, “Kakak beta pung nama Fadhelatunnisa.” Namun, senyum itu kini luruh diterpa panas Pelabuhan Lamakera dan kenyataan pahit yang menyambut kedatangannya pada 3 Juli 2026. Rombongan PKLS (Persatuan Keluarga Lamakera Lembata) tiba pukul 10.45 WITA setelah menempuh perjalanan dua setengah jam dengan KM Cahaya Rahmat. Ekspektasi mereka tinggi: arak-arakan perahu motor kecil, pengalungan bunga, atau setidaknya satu wajah panitia yang tersenyum menyambut. Nyatanya, dermaga sepi. Hanya ada debur ombak dan panas yang tak kenal ampun. Tidak ada jemputan. Tidak ada sambutan. Bapak-bapak dan mama-mama dalam rombongan saling berpandang, wajah-wajah mereka keriput oleh kekecewaan yang sama beratnya dengan beban panas yang menekan pundak mereka. “Kakak tahu ko sonde?” bisik Niya pada awak media yang meliput, suaranya serak karena dehidrasi dan emosi yang tertahan. “Beta waktu itu kesal sama panitia dong. Katong sonde dijemput. Beta kira bakal ramai… nyatanya, sonde sama sekali.” Panas itu seolah menjadi metafora sempurna untuk perasaan mereka saat itu: terbakar oleh harapan yang tidak terpenuhi. Puncaknya terjadi ketika sang Ayah tidak bisa turun di dermaga utama. Anak buah kapal menolak menurunkan penumpang dengan alasan keselamatan teknis. Sang Ayah terpaksa turun di Waiwerang, lalu melanjutkan perjalanan darat yang melelahkan menuju Kawuta/Gorang, baru masuk Lamakera pada sore hari. Niya membayangkan ayahnya berjalan di jalan berbatu di tengah terik yang sama, sementara ia hanya bisa berdiri di pelabuhan yang sunyi, merasa gagal sebagai anak yang pulang kampung. Kekecewaan itu perlahan meleleh seiring berjalannya waktu, digantikan oleh kekaguman yang tulus saat Munas II YAMALI dimulai. Di dalam ruangan seminar yang sejuk, kontras dengan panas luar yang masih membakar, Niya mendengarkan para profesor, kandidat guru besar, doktor, dan magister berbicara tentang masa depan Lamakera. Ia menyadari bahwa kampung halamannya, hanya terdiri dari dua desa, Motonwutun dan Watobuku, telah melahirkan dinamisator yang menjual nama Lamakera ke seantero dunia. Keterbatasan geografis ternyata bukan kutukan, melainkan kawah candradimuka yang menempa jiwa-jiwa tangguh. “Di sini ada banyak hal inspiratif yang gemilang,” katanya dengan mata berbinar. “Beta harus belajar dari hal-hal kecil. Karena hal-hal yang terlihat biasa saja justru jadi luar biasa.” Namun, klimaks kisahnya bukan pada intelektualisme seminar, melainkan pada momen keheningan yang memecah kebisingan diskusi. Saat berbicara tentang cinta orang-orang Lamakera terhadap tanah leluhur, tentang bagaimana reuni selalu diisi dengan pertanyaan “bagaimana, darimana, dengan cara apa membangun Lamakera”—suara Niya mulai bergetar. Bulir-bulir air mata menetes di pipinya yang kemerahan, mungkin sisa-sisa sengatan matahari tadi, atau mungkin luapan emosi yang tak lagi bisa dibendung. “Ade Niya, kenapa menangis?” tanya awak media lembut. Dengan suara lirih namun penuh keyakinan, ia menjawab, “Beta Jatuh Cinta Lamakera. Ya… beta anak Lamakera.” Ia menyeka air matanya perlahan, lalu tunduk terdiam. Dalam keheningan itu, panas Pelabuhan Lamakera yang tadi menyiksa seolah berubah menjadi pelukan hangat nenek moyang yang selama ini ia rindukan. Kekecewaan di dermaga telah dimurnikan oleh api kecintaan yang sesungguhnya. Sebelum mengakhiri bincang-bincang, ia diminta memberikan lima kata untuk Lamakera. Tanpa ragu, dengan mata yang masih basah namun tatapan yang tajam, ia mengucapkan pesan yang mengguncang jiwa: “Jangan kau kecewakan dan campakkan Lamakera.” Kalimat itu bukan sekadar penutup wawancara. Ia adalah sumpah yang lahir dari pergulatan antara panas yang menyengat dan cinta yang membara. Kisah Niya mengingatkan kita bahwa pulang kampung bukanlah tentang kesempurnaan penyambutan, melainkan tentang keberanian untuk menerima ketidaksempurnaan itu, lalu memilih untuk tetap mencintai, memperbaiki, dan membangun, meski matahari terus menyengat dan pelabuhan terkadang sepi. Karena pada akhirnya, Lamakera tidak butuh kesempurnaan; ia butuh kehadiran hati-hati yang rela terbakar bersamanya. Dan sumpah gadis hukum di tengah terik pelabuhan yang sunyi itu adalah pengingat abadi: cinta kepada tanah leluhur bukan diberikan karena ia sempurna, tetapi diperjuangkan agar ia menjadi layak bagi generasi yang akan datang. #RAM Post Views: 52 Navigasi pos Setetes Embun Seribu Harapan: Refleksi Kebijaksanaan dan Tanggung Jawab dalam Musyawarah Yamali Nasional