Kepala Desa Waimatan, Onesimus Sili : “SDI Hamahena Ileape Tidak Ada Persoalan” LEMBATA : WARTA-NUSANTARA.COM— Kepala Desa Waimatan, Kecamatan Ileape, Onesimus Sili dalam penjelasannya di Group Whatspp Ruang Baca Lembata, Senin, 21 September 2026 menjelaskan, untuk SDI Hamahena tidak ada Persoalan selama ini karena sekolah ini di bangun diatas tanah Warga Masyarakat Latanwutun yang dihibakan kepada Pemerintah Daerah Lembata. Kemudian, jelas Onesimus, Pemerintah Daerah memberikan ijin untuk Masyarakat. Pemerintah Desa Waimatan dan Pihak ketiga yakni Bank Mega untuk membangun SDI Hamahena, dan SDI Hamahena sampai saat ini berjalan aman berdasarkan Nomor Status Sekolah Sah dari Dinas pendidikan Lembata dan Kementrian Pendidikan Nasional. Menurut Onesimus Sili, Lembaga SDI Hamahena bukan baru terbentuk. Tapi Gedung yang baru dibangun atas dasar Proposal dari Desa dan Masyarakat Waimatan ke Pihak Bank Mega . Oleh karena bangunan SDI Hamahena hancur total tertimpa Bencana Banjir Bandang.. Jadi berita ini dari sumber yang tidak tahu proses pembangunan sekolah itu. Di berita ini sekolah Gedung SDI Hamahena dibangun oleh pemerintah. Ini salah,. Gedung Hamahena dibangun oleh Pihak Ketiga, Bank Mega atas Proposal dari masyarakat, Komite Sekolah dan Pihak Lembaga. Karena ditengah hiruk pikuknya suasana bencana tapi masyarakat Waimatan sangat antusias untuk menyelamatkan pendidikan itu lebih dahulu pulih untuk kenyamanan anak-anak. Jadi mohon maaf beritanya harus ada pendasaran yang baik dan jelas. “Lembaga Pendidikan SDI Hamahena punya status sekolah jelas. Memiliki gedung. Dibangun diatas tanah Pemda atas hibah dari masyarakat Larawutun ke Pemda Lembata, dan selama ini aman. Terimakasih mohon maaf kalau ada yang kurang dalam penjelasan ini. Saya Kepala Desa Waimatan salah satu sumber peroses Pembangunan sekolah ini. Salam hormat buatmu semua”, ungkap Kepala Desa Waimatan, Onesimus Sili mengakhiri penjelasannya di Ruang Baca Lembata. Wawancara Wartawan dengan Kades Waimatan, Onesimus Sili Dalam percakapan terpisah dengan Wartawan, Senin (21/9/2026) Onesimus Kepala Desa Waimatan, pembangunan sekolah tersebut bukan dibangun oleh pemerintah sebagaimana disebutkan Fransiskus. Pembangunan justru merupakan hasil kerja sama berbagai pihak, termasuk Pemerintah Desa Waimatan, masyarakat, Bank Mega dan pihak ketiga yang bergerak di bidang sosial dan pendidikan. Ia menjelaskan, Bank Mega awalnya datang menemui pemerintah desa dan masyarakat untuk melihat kondisi SD Inpres Hama Hena yang berada di kampung lama. Sekolah tersebut, kata Onesimus, sebenarnya sudah lama berdiri. Namun, beberapa bangunannya mengalami kerusakan akibat badai Seroja pada tahun 2021. “Pihak Bank Mega datang menemui kami. Kami menyampaikan keadaan sekolah Hama Hena yang ada di kampung lama. Sekolah ini sudah lama dibangun, hanya gedung yang rusak saat badai Seroja tahun 2021,” jelas Onesimus. Pihak Bank Mega kemudian melakukan identifikasi dan turun langsung melihat kondisi sekolah di kampung lama. Dalam perkembangan berikutnya, masyarakat Lamawolo direlokasi secara total ke kawasan Tanah Merah. Karena lokasi relokasi belum memiliki lahan sekolah, pemerintah desa kemudian berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Lembata pada masa Jabatan Bupati Marsianus Djawa. Menurut Onesimus, melalui dinas terkait, pemerintah daerah menunjukkan lokasi yang dapat digunakan untuk pembangunan sekolah di kawasan relokasi tersebut. Lahan itu merupakan bagian dari tanah yang telah dihibahkan pemiliknya kepada pemerintah daerah. “Pemda, lewat dinas terkait, menunjukkan lokasi sisa yang ada di perumahan Tanah Merah yang dihibasikan oleh pemilik lahan,” katanya. Ia mengakui kondisi lahan saat itu cukup miring. Oleh karena itu, pemerintah desa bersama masyarakat melakukan pembersihan dan penataan lahan secara swadaya. Selain menggalang dukungan dari berbagai pihak, masyarakat juga turut memberikan kontribusi untuk mempersiapkan lokasi pembangunan sekolah. Dalam proses selanjutnya, Bank Mega membangun SD Inpres Hama Hena di kawasan Tanah Merah. Libatkan Guru Bantuan Selama Lima Tahun Tidak hanya membangun fasilitas sekolah, Onesimus mengatakan Bank Mega juga bekerja sama dengan PT Arsa yang bergerak di bidang sosial dan pendidikan untuk mendukung tenaga pengajar. Melalui kerja sama tersebut, guru bantuan dan guru relawan ditempatkan di SD Inpres Hama Hena. Pembiayaan para guru tersebut ditanggung oleh pihak Bank Mega. Program tersebut, kata Onesimus, direncanakan berlangsung selama lima tahun dengan sistem pergantian guru. Saat ini program tersebut telah memasuki tahun keempat. “Sekarang memasuki tahun keempat. Guru yang dibiayai oleh Bank Mega dan PT Arsa itu masih ada di Desa Waimatan dengan sistem pergantian guru selama lima tahun,” jelasnya. Kades: Bukan Tanah Sengketa Onesimus menegaskan, pembangunan sekolah tersebut dilakukan di atas lahan milik pemerintah daerah dan bukan di atas tanah pertahanan. Ia juga berpendapat bahwa pembangunan sekolah tersebut merupakan pembangunan yang dilakukan pemerintah daerah. “Pembangunan yang disampaikan Fransiskus Gewura itu salah. Kami bangun di atas tanah Pemda, bukan tanah pelestarian,” tegas Onesimus. Menurut dia, Pemerintah Desa Waimatan justru menjadi salah satu pihak yang berhubungan langsung dengan Bank Mega dalam proses pembangunan sekolah tersebut. “Pak Wakil Ketua ini tidak tahu sumbernya. Kami yang berhubungan dengan Bank Mega,” ujarnya. Kades: Sekolah Tidak Bermasalah Onesimus juga menegaskan bahwa hingga saat ini kegiatan pendidikan di SD Inpres Hama Hena berjalan dengan baik. Ia menyebut sekolah tersebut memiliki status akreditasi A dan tidak sedang menghadapi persoalan sebagaimana disampaikan oleh Wakil Ketua DPRD Lembata. “Sampai dengan kondisi sekolah aman saat ini, dengan akreditasi A. Sekolah ini tidak ada persoalan,” ujarnya. Onesimus berharap persoalan tersebut tidak dibangun berdasarkan informasi yang tidak lengkap sehingga menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. ***(WN-01) Post Views: 3 Navigasi pos Kadis Pendidikan Lembata: Polemik SDI Tokojaeng dan SDI Hamahena Sudah Tuntas