Laut Lembata Krisis Ikan LEMBATA : WARTA-NUSANTARA.COM—Kondisi ekosistem laut di sekitar Pulau Lembata menunjukkan tanda-tanda yang mengkhawatirkan. Hasil survei oleh satu armada nelayan (Yos R dkk) dalam awal Agustus 2026 menggunakan alat pendeteksi bawah laut (Fish Fender) yang dipasang pada kapal nelayan untuk memantau keberadaan ikan dan kondisi terumbu karang, diperoleh gambaran data yang menunjukkan bahwa sekitar 70 persen kawasan yang diamati mengalami kelangkaan ikan, sementara kerusakan terumbu karang di sejumlah lokasi diperkirakan mencapai hampir 80 persen. Rekaman visual yang ditampilkan melalui monitor memperlihatkan kondisi berbeda-beda di sepanjang perairan Lembata. Pada jalur Lewoleba–Ile Ape (Pecah Pasir), ikan dasar masih ditemukan meski jumlahnya sedikit dan didominasi ukuran kecil. Kondisi terumbu karang relatif baik. Namun, memasuki perairan Ile Ape–Balauring, ikan semakin sulit ditemukan dan terumbu karang umumnya mengalami kerusakan. Kondisi serupa terlihat di kawasan Balauring–Wairiang. Ikan tergolong sulit ditemui, meskipun terumbu karang pada beberapa lokasi masih relatif baik. Kerusakan paling memprihatinkan terekam di jalur Wairiang–Tanjung Tobotani–Lepang Batang. Di kawasan ini ikan sulit ditemukan, sementara terumbu karang mengalami kehancuran parah. Kondisi serupa berlanjut dari Lepang Batang–Wowong hingga perairan Wade. Keberadaan ikan sangat terbatas dan terumbu karang tampak rusak berat. Memasuki kawasan Wade–Teluk Bobu, jumlah ikan mulai terlihat lebih baik. Namun, terumbu karang pada kawasan sekitar 100 meter dari garis pantai terekam hancur berkeping-keping. Situasi berbeda terlihat pada jalur Teluk Bobu–Waiteba–Tanjung Atadei, khususnya kawasan laut Waibura. Ikan dasar relatif melimpah. Akan tetapi, arus laut cukup kuat sehingga menyulitkan nelayan yang menggunakan kapal berukuran kecil. Di sisi lain, terumbu karang pada kawasan pesisir mengalami kerusakan. Dari Tanjung Atadei menuju Wulandoni, ikan tidak terlalu banyak, sementara terumbu karang relatif lebih baik meskipun kawasan dekat pantai mengalami kerusakan. Selanjutnya, pada jalur Wulandoni–Tanjung Naga, keberadaan ikan kembali sulit ditemukan dan kondisi terumbu karang cukup memprihatinkan. Gambaran tersebut menjadi peringatan serius mengenai kondisi sumber daya pesisir dan laut Lembata. Meski survei ini merupakan hasil pengamatan lapangan menggunakan perangkat pendeteksi bawah laut dan belum menggantikan kajian ilmiah dengan metode sampling terstandar, namun temuan visual tersebut layak menjadi dasar bagi pemerintah dan pemangku kepentingan untuk melakukan verifikasi dan pemantauan lebih lanjut. Patroli dan pengawasan laut secara rutin dinilai mendesak untuk mencegah aktivitas penangkapan yang merusak serta melindungi kawasan terumbu karang dan daerah pemijahan maupun pembesaran ikan. Laut Lembata bukan hanya sumber pangan dan penghidupan nelayan, tetapi juga modal penting bagi masa depan ekonomi daerah. Perlindungan sumber daya laut secara nyata akan memperkuat agenda pembangunan Kabupaten Lembata, termasuk program Nelayan, Tani, Ternak, sehingga kekayaan laut dapat terus memberikan manfaat bagi masyarakat dan generasi mendatang ***.Gerady Tukan) Post Views: 22 Navigasi pos Wagub Johni Asadoma Dampingi Menteri KKP Tinjau Pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih di Sulamu