Robert Bala

LEMBATA DAN AKUN PALSU

Oleh: Robert Bala

(Penulis Buku INSPIRASI HIDUP: Pengalaman Kecil Sarat Makna, Penerbit Kanisius Yogyakarta)

WARTA-NUSANTARA.COM—  Ada kerinduan yang selalu menggebu saat merantau: kabar dari tanah kelahiran. Bagi saya, Lembata bukan sekadar deretan koordinat di peta NTT, melainkan sebuah lewo—kampung halaman yang hangat, tempat ingatan dan identitas bertaut. Alasan itulah yang mendorong saya bergabung ke beberapa grup Facebook lokal. Harapannya sederhana: mengobati rindu, melihat perkembangan daerah, dan merasakan kembali ikatan kebersamaan.

Sayangnya, rasa hangat itu perlahan berganti menjadi sesak.Layar ponsel yang mulanya diharapkan menjadi jendela informasi, justru berubah menjadi panggung topeng. Di berbagai grup media sosial Lembata, akun-akun tanpa wajah dan bernama rekaan bertebaran begitu masif. Jika dalam dunia literatur penulisan nama samaran sering dipakai untuk merendahkan hati atas sebuah karya besar, di Lembata hal itu terjadi sebaliknya. Identitas asli disembunyikan justru demi melempar cemooh, menguliti kekurangan sesama, menyebar gosip perselingkuhan, hingga merusak martabat orang lain tanpa rasa takut.

Saya tidak tahu apakah fenomena ini juga marak terjadi di kabupaten lain. Bisa saja ada. Namun, saya tidak bergabung ke grup mereka karena tidak memiliki ikatan emosional. Saya hanya ingin berada di tengah orang-orang selewo: Lembata. Sayangnya, yang saya temukan di hampir semua grup itu adalah fenomena “lempar mangga, sembunyi tangan.”

Ada kepuasan aneh ketika berhasil mengumbar aib orang lain, dan terutama rasa senang saat melihat sesama terpojok. Seolah ada bisikan keji: “Rasain!”—atau dalam bahasa Atadei biasa disebut “metenteng” atau “rupa ro”.

Melihat fenomena ini, sebuah pertanyaan besar mengusik nurani: Apakah ini cerminan orang Lamaholot? Secara khusus, apakah ini ciri ‘Ata Lembata’ yang selama ini kita banggakan?

Sejak kecil, kita mengenal karakter manusia Lamaholot sebagai sosok yang terbuka, jujur, open-minded, dan menjunjung tinggi keberanian bersikap. Kita bangga pada budaya dialog yang ksatria. Begitu pula ketika menyebut diri ‘Ata Lembata’ atau ‘Ata Lomblen’, ada kebanggaan terselubung untuk mengakui diri apa adanya: orang yang jujur, berani, dan tanpa tedeng aling-aling. Istilah dari bahasa Jawa ini berarti tanpa penutup, tanpa tameng, atau tanpa tirai tersembunyi. Jadi, mengaku sebagai orang Lembata berarti menjadi pribadi yang terang, blak-blakan, tanpa prasangka, tanpa rasa malu yang salah, dan tanpa takut. Itulah Ata Lamaholot, Ata Lembata, Ata Lomblen.

Lalu, apa yang terjadi hari ini? Kebiasaan bersembunyi di balik akun bodong saat mengkritik atau menghujat jelas berlawanan dengan jiwa Lamaholot. Menyembunyikan muka saat melempar batu bukanlah watak ksatria, melainkan bentuk ketakutan yang dibungkus dengan niat jahat.

Secara psikologis dan sosiologis, maraknya akun palsu ini bukanlah tanpa sebab. Pakar psikologi media menyebut fenomena ini sebagai Online Disinhibition Effect—sebuah kondisi ketika seseorang merasa bebas dari aturan, norma, dan empati karena identitas aslinya tersamarkan di dunia maya. Tanpa wajah dan nama asli, rasa malu merosot tajam, sementara rasa berani yang semu melonjak tinggi.

Di sisi lain, analisis sosiologis menunjukkan bahwa ruang publik di media sosial sering kali menjadi tempat pelampiasan kecemburuan sosial, dendam pribadi, atau konspirasi politik lokal yang tidak berani diselesaikan secara adat maupun hukum. Akun palsu menjadi alat pemuas impulsif untuk menjatuhkan lawan tanpa perlu bertanggung jawab atas dampak kerusakan yang ditimbulkannya.

Dampak dari fenomena ini sungguh tidak bisa dianggap remeh. Unggahan beracun dari akun-akun anonim lambat laun merobek tenun sosial di lewo. Hubungan kekeluargaan merenggang, rasa saling percaya mengikis, dan benih curiga antarwarga makin menebal.

Bagi korban yang aibnya diumbar, dampaknya bisa sangat berat. Meski terpukul dan malu, mungkin ada yang mencoba mengambil sisi positif untuk membenahi diri. Namun, patut kita pertanyakan dengan jujur: Apakah maraknya kasus bunuh diri di Lembata belakangan ini, sedikit banyak juga dipicu oleh rasa frustrasi akibat sisi gelapnya diumbar secara kejam oleh akun-akun palsu?

Sebagai manusia yang tak sempurna, ia bisa saja keliru. Karena punya daging dan darah, ia bia saja jatuh. Tetapi apakah ia tida diberi kesempatan untuk bangun dan berdiri sekali lagi? Di sinilah kekejaman dari akun palsu. Ia yang gembar mengumbar orang lain kalau ditelusuri apakah ia juga melakukan hal yang sama tetapi kini merasa disaingi dalam melakukan keburukan? Tetapi bagi para korban selalu ada usaha untuk berdiri.

Namun, hal yang jauh lebih memprihatinkan sebenarnya justru menimpa si pemilik akun palsu itu sendiri. Hidupnya menjadi tidak tenang (jika ia masih memiliki nurani). Lebih dari itu, ia tidak akan pernah mengalami kemajuan hidup yang berarti. Ia akan terus jalan di tempat, bahkan mundur, karena energinya habis untuk mengintai kejelekan orang lain ketimbang menata dirinya sendiri. Pada akhirnya, yang didapatkan si pemilik akun palsu adalah persis seperti ungkapan bijak orang Atadei: “keringkah mayak”—sebuah kesia-siaan yang kering dan tak berbuah.

Jika pemilik akun palsu tersebut adalah orang yang secara usia sudah dewasa, sebuah pertanyaan menggelitik patut dilayangkan: Pelajaran apa yang sedang kita wariskan kepada anak-anak kita?

Anak-anak dan remaja yang tumbuh menyaksikan pola interaksi buruk ini akan menganggap bahwa tindakan memfitnah, merundung (bullying), dan mengumbar aib orang lain adalah hal wajar selama tidak ketahuan. Kita sedang mewariskan budaya kepengecutan, bukan keberanian. Kita sedang mengajari mereka untuk mahir menghancurkan reputasi orang lain dari balik kegelapan, ketimbang berani menyampaikan gagasan dan kritik secara beradab di tempat terbuka.

Media sosial seharusnya menjadi jembatan yang mendekatkan yang jauh, menghubungkan anak perantauan dengan perkembangan lewo. Jangan biarkan media sosial justru berubah menjadi jurang pemisah yang merusak persaudaraan kita sendiri.

Sudah saatnya kita menyadari dan membenahi diri. Sikap kritis terhadap pembangunan atau dinamika di daerah adalah hal yang sangat baik dan diperlukan. Namun, sampaikanlah kritik itu dengan dada lapang, wajah tegak, dan identitas yang jelas. Kembalikan karakter asli orang Lamaholot yang jujur, berani, dan menjunjung tinggi kehormatan.

Sebab pada akhirnya, keindahan Lembata tidak hanya diukur dari pesona alamnya, tetapi juga dari kedewasaan dan keadaban warga serta para perantau dalam menjaga tutur kata. Jangan biarkan lewo yang kita cintai ini ternoda oleh topeng-topeng palsu yang lupa cara menghargai sesama. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *