Robert Bala

Melampaui Ingatan Fisik

Renungan Inspiratif Senin 31 Agustus 2026 dari Lukas 4:16-30, Momen Presentasi Dokumen Hamba Allah Di Dikasteri Santo/Santa Vatikan.

Oleh : Robert Bala

WARTA-NUSANTARA.COM—   Sudah 58 tahun berlalu sejak Mgr. Gabriel Manek, SVD meninggalkan bumi Indonesia menuju Amerika Serikat. Teparnya pada Desember 1968. Waktu terus bergulir, dan secara manusiawi, generasi yang pernah bertatap muka atau merasakan kehangatan jabat tangannya tentu makin berkurang.

Bagi kaum muda di bawah usia 37 tahun, sosok beliau di Denver hingga wafatnya pada 20 November 1989 mungkin hanyalah serangkaian kisah samar yang didengar dari cerita orang tua atau lembaran catatan sejarah.

Namun, sebuah pertanyaan berbisik lembut di relung hati kita: Apakah hanya mereka yang pernah bertemu langsung yang berhak meyakini kesucian sang uskup—imam pionir SVD pribumi ini? Apakah kita yang tidak pernah memandang wajahnya memiliki pengalaman iman yang lebih dangkal? Jawabannya: Sama sekali tidak.

Kisah Yesus yang membacakan Kitab Yesaya di rumah ibadat Nazaret memberikan jawaban yang sangat menguatkan. Yesus mengajarkan bahwa hal terpenting bukanlah memelihara nostalgia masa lalu tentang pengurapan yang pernah diterima Yesaya. Yang jauh lebih utama adalah bagaimana apa yang telah dimulai di masa lalu menemukan kepenuhannya saat Sabda itu didengar, dihidupi, dan dirasakan hari ini.

Bila dikaitkan dengan Mgr. Gabriel Manek, ukuran utamanya bukanlah seberapa sering kita pernah berjumpa dengannya secara fisik. Ukuran sejati adalah sejauh mana visi dan nyala api kasih sang pendiri terus tergenapi di era sekarang. Sehingga dengan penuh keyakinan kita dapat menyerukan: “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.” (Lukas 4:21).

Lantas, apa yang sebenarnya tengah tergenapi pada hari ini, 31 Agustus 2026, ketika dokumen proses kanonisasi Hamba Allah Mgr. Gabriel Manek secara resmi bergulir di Dikasteri untuk Penyebab Santo-Santa di Vatikan? Ada tiga hal mendasar yang sedang tergenapi di hadapan kita:

Pertama, Kasih yang Terbaca Nyata. Meskipun sebagian besar dari kita tidak pernah mengenalnya secara pribadi, denyut kasih Mgr. Manek hadir secara nyata melalui karya sosial, pendidikan, dan pastoral—khususnya lewat Yayasan Gabriel Manek. Wajah Kristus yang penuh belaskasih dirasakan langsung oleh mereka yang miskin, papa, dan terpinggirkan. Ketika kaum tersingkir dipulihkan hatinya, di situlah kita berbisik penuh syukur: “Hari ini, genaplah Sabda itu.”

Kedua, Pelayanan dalam Kerapuhan Manusiawi. Kerinduan kasih Mgr. Gabriel Manek kini mengalir melalui dedikasi hampir 500 Suster Puteri Reinha Rosari (PRR) yang berkarya dari pelosok Nusantara hingga Afrika Timur, Eropa, dan Amerika. Apakah para suster PRR adalah sosok-sosok yang sempurna? Tidak. Mereka adalah manusia biasa terbuat dari darah dan daging, lengkap dengan keterbatasan. Namun justru di balik kerapuhan itu, mereka menyerahkan diri seutuhnya untuk diperbarui oleh rahmat Allah setiap hari. Setiap orang kudus memiliki masa lalu, tetapi kesediaan untuk dibaharui terus-menerus itulah yang membuat Sabda Allah menjadi hidup.

Ketiga, Pengakuan Gereja Universal atas Karya Roh Kudus. Karya besar ini berjalan bukan karena ambisi manusia, melainkan karena “Roh Tuhan ada pada-Ku, sebab Ia telah mengurapi Aku untuk memberitakan Kabar Baik kepada orang-orang miskin. ” Melalui perarakan dokumen Hamba Allah di Vatikan hari ini, terbukti bahwa Roh Kudus bekerja tanpa batas geografis. Keharuman kesucian tidak hanya lahir dari Eropa atau Amerika, tetapi juga memancar dari rahim bumi Indonesia bagi Gereja Katolik Universal.

Kita akhiri renungan ini dengan sebuah kisah sederhana. Ada sebuah kisah legendaris tentang seorang pendoa tua di sebuah desa terpencil. Setiap malam, ia berjalan menelusuri lorong desa yang gelap gulita sambil membawa sebuah lentera kecil di tangannya. Suatu ketika, seorang pemuda menahannya dan bertanya dengan heran,

“Bapa, orang yang membuat dan menyalakan api pertama pada lentera itu sudah lama meninggal puluhan tahun lalu. Mengapa Bapa masih terus berjalan membawa lenteranya di tengah kegelapan malam?”

Orang tua itu tersenyum lembut dan menjawab, “Anakku, aku memang tidak pernah mengenal orang yang pertama kali membuat lentera ini. Tetapi aku tidak membutuhkan ingatan tentang wajahnya untuk bersyukur. Yang kubutuhkan adalah nyala apinya. Selama api ini masih sanggup menerangi jalan bagi orang-orang yang tersesat di kegelapan, maka orang yang menyalakannya pertama kali tidak pernah benar-benar mati.”

Hari ini, kita tidak sedang meratapi masa lalu yang hilang, tidak pula sekadar membanggakan sejarah. Kita diundang untuk menjaga agar api lentera kasih Mgr. Gabriel Manek tetap menyala. Saat dokumen beliau diperiksa di Vatikan dan belaskasihnya terus kita wujudkan bagi sesama yang menderita, di situlah kita dengan dada lapang dan hati yang bergetar menyerukan:

“Hari ini, genaplah apa yang dituliskan Kitab Suci ini saat kamu mendengarnya.”
Amin.

Robert Bala (Penulis buku “INSPIRASI HIDUP: Pengalaman Kecil Sarat Makna”, Penerbit Kanisius)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *