Memberi Hati Oleh : Pater Steph Tupeng Within, SVD Mat 22: 15-21 WARTA-NUSANTARA.COM— Ada dua kelompok yang sesungguhnya sangat berlawanan dalam prinsip: Orang Farisi dan kaum Herodian tapi bersatu dalam jebakan kepada Yesus perihal membayar pajak kepada Kaisar Romawi. Orang-orang Farisi sangat anti Pemerintahan Romawi. Mereka tidak mengakui hak Pemerintah Romawi memungut pajak “kensos” (Yunani) yang berarti pajak bagi penduduk. Seluruh negeri masuk dalam wilayah kedaulatan Romawi. Bagi orang Farisi, membayar pajak berarti mengakui kekuasaan Romawi atas Tanah Suci yang merupakan anugerah Allah yang tidak bisa diganggu gugat. Pengutan pajak berlawanan dengan ajaran agama leluhur. Kaum Herodian adalah pendukung Raja Herodes Antipas, penguasa wilayah Galilea di bagian utara Tanah Suci dan pendukung Pemerintahan Romawi. Herodes mengikuti politik Romawi dan berhak memungut pajak bagi penduduk di wilayahnya. Pajak itu bukan untuk pemerintahan Romawi tapi kas politik di wilayah Yudea dan Yerusalem yang dipimpin Pontius Pilatus. Kedua kelompok ini bersatu dalam sebuah persekongkolan jahat. Pujian dan pertanyaan sarat jebakan. Orang-orang Farisi dan Herodian bertanya, “Bolehkah membayar pajak kepada Kaisar?” Pajak yang dimaksud lebih kepada “pajak tanah.” Andaikan Yesus menjawab “boleh” maka Ia akan dimusuhi oleh orang-orang Yahudi yang memiliki keyakinan teguh bahwa tanah mereka adalah milik Allah. Maka tidak perlu dibayar. Kaisar yang dimaksud adalah pemimpin pemerintahan bangsa Romawi yang sedang menjajah bangsa Yahudi kala itu. Mengapa kita harus membayar tanah yang merupakan milik sah kita bangsa Yahudi? Jika Tuhan menjawab tegas, “Kalian harus bayar!” maka orang Farisi akan menyebut Yesus sebagai pendukung kolonialisme Romawi, dan pengkhianat bangsa Yahudi karena Yesus seorang Yahudi. Tuhan akan dituduh antek Romawi, boneka Romawi dan mesti jadi musuh bersama seluruh bangsa Yahudi. Sebaliknya, ketika Yesus menjawab tegas, “Tidak perlu membayar!” maka Dia akan dituduh sebagai pengkhianat bangsa Romawi yang sedang berkuasa atas tanah Palestina. Bahkan Yesus bisa dituduh sebagai provokator yang menggalang dukungan untuk menggelorakan pemberontakan terhadap penjajah Romawi. Jadi, jawaban apa pun yang orang Farisi dan Herodian ingin disampaikan Yesus tidak ada yang benar. Keduanya berpotensi menggalang dukungan kebencian kepada Yesus yang bisa membawa Yesus menghadapi tuduhan dan tuntutan hukuman mati. Tuhan sangat tahu hal mendasar: bagaimanakah relasi antara orang-orang yang bertanya dengan masalah yang dihadapi. Ia menemukan bahwa selama ini mereka justru mengambil manfaat dari sarana, fasilitas, infrastruktur yang disediakan oleh pemerintahan Romawi yang mereka benci. Dia hendak menghadapkan mereka dengan konsekuensinya: jangan mengambjl manfaat tanpa memberi imbalan. Masalah pajak bukanlah masalah apakah setuju dengan suatu pemerintahan, melainkan apakah menggunakan fasilitas yang disediakan pemerintah. Yang ikut menikmati harus ikut menanggung. Maka Ia pun menjawab, “Berikanlah milik kaisar kepada kaisar dan milik Allah kepada Allah.” Tuhan mengajarkan kita “tata-pola kehidupan yang seimbang.” Memikirkan hal-hal duniawi (seperti membayar pajak kepada pemerintah) sekaligus hal spiritual (seperti memberi persembahan kepada Tuhan). Keduanya tidak boleh saling meniadakan melainkan selaras dan saling mendukung. Tuhan menggugat kits “Apa yang wajib kita berikan kepada Allah?” Kita persembahkan hati, diri dan hidup kita secara murni kepada-Nya. Kita menempatkan Tuhan di atas segala sesuatu. Yesus mengajak kita masuk lebih dalam lagi: Bagaimana pun, “memberi kepada Allah” harus mengubah, bahkan mentransformasi cara kita “memberi kepada Kaisar” apa yang menjadi haknya. Pelayanan kita kepada kaum miskin, perjuangan kita untuk karya kemanusiaan, keterlibatan dalam karya sosial-karitatif dan banyak karya lain merupakan kekuatan yang mampu mentransformasi wajah dunia. “Memberi kepada Kaisar” bukanlah sekadar membayar pajak dengan bersungut-sungut, tetapi secara aktif berupaya membangun kerajaan Allah sudah sejak di bumi ini. Keterlibatan itu menyasar dalam banyak dimensi hidup di ruang-ruang publik. Tuhan ajarkan kita bahwa ukuran keselamatan bukanlah aktivitas spiritual yang privat melainkan tindakan belas kasih kepada sesama sebagai ungkapan dari kesalehan sosial, bukan sekadar kesalehan personal. *** Post Views: 22 Navigasi pos Resmikan Gedung GMIT Golgota Alak, Wagub NTT Ajak Gereja Jadi Pusat Pemberdayaan Masyarakat