Membongkar Dekonstruksi Oposisi Biner pada Cerpen Senja Hitam Putih Karya Seno Gumira Ajidarma Menggunakan Teori Jacques Derrida Oleh Febrian Sakukut Mahasiswa Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta WARTA-NUSANTARA.COM— Karya sastra merupakan ruang yang memungkinkan pembaca mempertanyakan makna, kebenaran, dan pandangan yang dianggap wajar dalam kehidupan. Melalui penggunaan bahasa, simbol, dan konflik, pengarang dapat memperlihatkan bahwa kenyataan tidak selalu dapat dipahami melalui satu sudut pandang. Salah satu karya yang menarik untuk dikaji melalui perspektif tersebut adalah cerpen Senja Hitam Putih karya Seno Gumira Ajidarma. Cerpen ini menggambarkan tokoh “aku” yang mengalami perubahan aneh ketika dunia yang sebelumnya berwarna tiba-tiba menjadi hitam putih. Perubahan tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai kenyataan yang dialami tokoh, terutama ketika orang-orang di sekitarnya menganggap keadaan itu sebagai sesuatu yang biasa. Cerpen ini membongkar dekonstruksi oposisi biner menggunakan teori dekonstruksi Jacques Derrida, khususnya melalui konsep instabilitas bahasa, logosentrisme, dan fonosentrisme. Ketiga konsep tersebut membantu memahami bahwa makna tidak selalu bersifat tetap, kebenaran tidak selalu memiliki otoritas tunggal, dan bahasa tidak selalu mampu menjamin kesesuaian antara perkataan dengan kenyataan. Oposisi biner hitam dan putih menjadi bagian penting karena keduanya menghadirkan pertentangan yang kemudian dipersoalkan melalui kemunculan warna abu-abu dan ingatan tokoh terhadap dunia yang berwarna. Instabilitas Bahasa: Ketidakpastian Makna Hitam dan Putih Dalam pemikiran Derrida, instabilitas bahasa menunjukkan bahwa makna tidak pernah sepenuhnya tetap dan dapat dipahami secara tunggal. Sebuah kata memperoleh makna melalui hubungannya dengan kata lain serta konteks penggunaannya. Oleh karena itu, bahasa tidak selalu mampu menghadirkan kenyataan secara utuh. Makna dapat berubah ketika suatu tanda ditempatkan dalam hubungan yang berbeda dengan tanda-tanda lainnya. Konsep ini terlihat melalui penggunaan simbol hitam dan putih dalam cerpen Senja Hitam Putih. Pada awalnya, tokoh “aku” mengenal dunia sebagai ruang yang memiliki beragam warna. Senja dipahami melalui cahaya kemerahan, kekuningan, dan keemasan. Namun, ketika dunia tiba-tiba berubah menjadi hitam putih, pengalaman tokoh tersebut bertentangan dengan kenyataan yang diterima oleh orang-orang di sekitarnya. Mereka tidak menganggap perubahan itu sebagai sesuatu yang aneh karena dunia hitam putih merupakan keadaan yang mereka kenal. Pertentangan tersebut memperlihatkan bahwa makna warna tidak hanya berkaitan dengan objek yang dilihat, tetapi juga dengan pengalaman dan pengetahuan seseorang. Bagi tokoh “aku”, hitam putih menandai perubahan dan kehilangan, sedangkan bagi orang-orang di sekitarnya, keadaan itu merupakan kenyataan yang normal. Dengan demikian, sesuatu yang dianggap benar oleh satu tokoh belum tentu memiliki makna yang sama bagi tokoh lainnya. Ketidakstabilan makna semakin terlihat melalui kehadiran warna abu-abu. Warna ini menempati posisi di antara hitam dan putih sehingga mengganggu pembagian yang seolah-olah hanya menyediakan dua kemungkinan. Hitam dan putih tidak lagi menjadi dua kategori yang sepenuhnya terpisah karena terdapat warna lain yang menghubungkan keduanya. Keberadaan abu-abu menunjukkan bahwa pertentangan biner tidak selalu mampu menjelaskan seluruh kenyataan. Melalui pembacaan dekonstruktif, hitam tidak harus selalu dimaknai sebagai keburukan dan putih sebagai kebaikan. Keduanya dapat memiliki arti berbeda bergantung pada pengalaman tokoh dan konteks cerita. Cerpen ini memperlihatkan bahwa makna dibentuk melalui hubungan antartanda dan pengalaman, bukan melalui pengertian yang sepenuhnya mutlak. Oleh sebab itu, perubahan dunia menjadi hitam putih dapat dibaca sebagai gambaran ketidakstabilan makna sekaligus kritik terhadap kecenderungan manusia menganggap satu pemahaman sebagai satu-satunya kebenaran. Logosentrisme: Stabilitas dan Otoritas Kebenaran Logosentrisme merupakan kecenderungan pemikiran untuk menempatkan suatu pusat makna atau kebenaran sebagai dasar yang dianggap stabil dan dapat dipercaya. Dalam tradisi pemikiran Barat yang dikritik Derrida, makna sering dipahami seolah-olah memiliki pusat yang menjamin kebenaran dan mengakhiri kemungkinan penafsiran lain. Dekonstruksi berusaha mempertanyakan anggapan bahwa pusat tersebut selalu mutlak dan bebas dari pertentangan. Dalam cerpen Senja Hitam Putih, persoalan ini dapat dilihat melalui perbedaan antara pengalaman tokoh “aku” dan pandangan masyarakat di sekitarnya. Tokoh “aku” meyakini bahwa dunia sebelumnya memiliki beragam warna, sedangkan orang-orang yang ditemuinya menyatakan bahwa dunia memang selalu hitam putih. Perbedaan tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai siapa yang berhak menentukan kenyataan: pengalaman pribadi tokoh “aku” atau keyakinan bersama yang diterima oleh masyarakat. Masyarakat dalam cerpen secara tidak langsung menempati posisi sebagai pemegang otoritas pengetahuan. Karena mereka sepakat bahwa dunia hanya memiliki warna hitam dan putih, pandangan tersebut tampak memperoleh legitimasi melalui penerimaan bersama. Sebaliknya, pengalaman tokoh “aku” menjadi sesuatu yang meragukan karena tidak sesuai dengan pemahaman kolektif. Tokoh tersebut bahkan mempertanyakan apakah dirinya sendiri yang keliru dalam memahami dunia. Situasi ini dapat dibaca sebagai persoalan otoritas kebenaran. Sesuatu yang diterima oleh banyak orang belum tentu menjadi satu-satunya penjelasan yang mungkin. Kesepakatan sosial dapat membuat suatu pemahaman tampak stabil, tetapi kestabilan itu tidak serta-merta menghapus pengalaman lain yang bertentangan dengannya. Melalui konflik tersebut, cerpen Senja Hitam Putih memperlihatkan bahwa kebenaran yang dianggap mapan tetap dapat dipertanyakan ketika berhadapan dengan pengalaman yang berbeda. Namun, dekonstruksi tidak berarti bahwa pengalaman tokoh “aku” harus langsung dianggap lebih benar daripada pandangan masyarakat. Hal yang dipersoalkan ialah kecenderungan untuk memberikan kewenangan mutlak kepada satu sudut pandang. Pengalaman tokoh “aku” dan keyakinan masyarakat sama-sama perlu dibaca dalam hubungan dengan konteks cerita. Dengan demikian, tidak ada satu posisi yang secara otomatis dapat menutup seluruh kemungkinan penafsiran. Oposisi antara pengalaman pribadi dan kenyataan kolektif akhirnya memperlihatkan bahwa makna tidak sepenuhnya dikendalikan oleh satu pusat kebenaran Fonosentrisme: Hubungan antara Ucapan dan Kebenaran Fonosentrisme merupakan kecenderungan untuk mengutamakan suara atau tuturan langsung dibandingkan dengan tulisan. Dalam tradisi pemikiran yang dikritik Derrida, suara sering dianggap lebih dekat dengan maksud pembicara sehingga dinilai mampu menghadirkan makna secara langsung dan lebih meyakinkan. Derrida mempertanyakan anggapan tersebut karena tuturan pun bergantung pada bahasa, tanda, konteks, dan kemungkinan penafsiran. Dalam cerpen Senja Hitam Putih, hubungan antara suara dan kebenaran dapat diamati melalui percakapan tokoh “aku” dengan orang-orang yang ditemuinya. Ketika tokoh “aku” berusaha menjelaskan pengalamannya mengenai dunia yang berwarna, orang-orang di sekitarnya memberikan tanggapan berdasarkan pemahaman mereka sendiri. Percakapan tersebut tidak menghasilkan kesepakatan mengenai kenyataan yang sedang dihadapi. Sebaliknya, tuturan mereka memperlihatkan adanya perbedaan mendasar dalam memahami dunia. Melalui situasi ini, ucapan tidak dapat diperlakukan sebagai jaminan kebenaran yang mutlak. Orang-orang yang mengatakan bahwa dunia selalu hitam putih belum tentu sedang menyampaikan kebohongan. Mereka berbicara berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang mereka miliki. Namun, perkataan mereka juga tidak otomatis membuktikan bahwa pengalaman tokoh “aku” tidak pernah ada. Bahasa yang digunakan dalam percakapan tersebut justru memperlihatkan keterbatasan setiap pihak dalam memahami pengalaman pihak lainnya. Persoalan ini menunjukkan bahwa makna tidak selalu hadir secara langsung melalui suara pembicara. Ucapan yang sama dapat dipahami secara berbeda oleh pendengar karena setiap orang membawa pengalaman dan kerangka pemikirannya sendiri. Dengan demikian, suara tidak memiliki kedudukan istimewa yang dapat menghapus seluruh kemungkinan penafsiran lain. Selain itu, ingatan tokoh “aku” mengenai dunia yang berwarna memperlihatkan bahwa pengalaman masa lalu tetap hadir dalam pikirannya meskipun kenyataan yang dilihatnya telah berubah. Pengalaman tersebut tidak dapat begitu saja dihapus oleh pernyataan orang-orang di sekitarnya. Hubungan antara ingatan, pengalaman, dan tuturan memperlihatkan bahwa makna terbentuk melalui proses yang kompleks, bukan hanya melalui ucapan yang dianggap paling berwenang. Dengan menggunakan perspektif Derrida, percakapan dalam cerpen Senja Hitam Putih dapat dipahami sebagai ruang pertentangan makna. Tidak ada jaminan bahwa suara seseorang selalu mewakili kebenaran secara utuh. Tuturan tetap terbuka terhadap penafsiran, bahkan dapat memperlihatkan ketidaksesuaian antara keyakinan seseorang dan pengalaman orang lain. Dekonstruksi Oposisi Biner Hitam dan Putih Ketiga konsep tersebut saling berkaitan dalam membongkar oposisi biner hitam dan putih. Instabilitas bahasa memperlihatkan bahwa makna kedua warna tidak bersifat tetap. Logosentrisme mempertanyakan anggapan bahwa terdapat satu pusat kebenaran yang berhak menentukan makna secara mutlak. Sementara itu, fonosentrisme menunjukkan bahwa tuturan tidak selalu menjadi jaminan kebenaran yang sepenuhnya pasti. Keberadaan warna abu-abu menjadi unsur penting dalam pembacaan tersebut karena menghadirkan kemungkinan yang tidak sepenuhnya sesuai dengan pertentangan hitam dan putih. Abu-abu tidak sekadar menjadi warna tambahan, melainkan dapat dibaca sebagai tanda bahwa pembagian biner memiliki keterbatasan. Kehadirannya mengganggu anggapan bahwa kenyataan hanya dapat dipahami melalui dua kategori yang saling meniadakan. Pada bagian akhir cerita, tokoh “aku” juga mulai menghadapi kemungkinan untuk menerima senja hitam putih sebagai pengalaman yang tetap memiliki keindahan. Perubahan ini memperlihatkan bahwa makna senja tidak sepenuhnya ditentukan oleh keberadaan warna-warna yang sebelumnya dikenal tokoh. Pengalaman kehilangan warna memang mengubah cara tokoh memandang dunia, tetapi tidak menghapus seluruh kemungkinan makna dan keindahan dari senja tersebut. Dengan demikian, dekonstruksi dalam cerpen ini bukan hanya membalik kedudukan hitam dan putih, melainkan mempertanyakan sudut pandang yang membuat keduanya tampak mutlak. Makna dapat berubah seiring dengan pengalaman dan sudut pandang, sementara kenyataan tidak selalu dapat dijelaskan melalui oposisi yang sederhana. Penutup Cerpen Senja Hitam Putih karya Seno Gumira Ajidarma dapat dibaca melalui teori dekonstruksi Jacques Derrida untuk membongkar oposisi biner serta mempertanyakan kestabilan makna. Melalui konsep instabilitas bahasa, cerpen memperlihatkan bahwa hitam dan putih tidak memiliki arti yang sepenuhnya tetap karena pemaknaannya bergantung pada pengalaman dan konteks. Melalui kritik terhadap logosentrisme, perbedaan antara pengalaman tokoh “aku” dan keyakinan masyarakat menunjukkan bahwa kebenaran yang diterima secara kolektif tetap dapat dipertanyakan. Sementara itu, fonosentrisme membantu menjelaskan bahwa tuturan tidak selalu menjamin kebenaran secara mutlak karena makna ucapan bergantung pada konteks dan penafsiran. Pada akhirnya, cerpen Senja Hitam Putih memperlihatkan bahwa pertentangan hitam dan putih tidak sepenuhnya mampu menjelaskan kompleksitas kenyataan. Melalui dekonstruksi Derrida, pembaca diajak untuk tidak menerima suatu pemahaman sebagai kebenaran tunggal, melainkan terus mempertanyakan hubungan antara bahasa, pengalaman, dan otoritas. Dengan demikian, makna dalam karya sastra tidak berhenti pada satu kesimpulan, tetapi tetap terbuka terhadap pembacaan yang kritis dan berkelanjutan. *** Post Views: 12 Navigasi pos Kuasa, Tubuh, dan Alienasi: Pembacaan Marxis terhadap Novel Rara Mendut Karya Y.B. Mangunwijaya Analisis Puisi “Dari Aku untukmu” Karya Uwais Kholis Menggunakan Teori Lucien Goldmann