Memikul Salib, Menatap Harapan Oleh : Pater Steph Tupeng Within, SVD Injil: Mat. 16:21-27 WARTA-NUSANTARA.COM— Nabi Yeremia awalnya menjawan panggilan Tuhan dengan penuh kerelaan tapi ternyata jalannya jauh lebih berat dari yang dibayangkan. Ia menjawab panggilan Tuhan menjadi nabi dengan hati yang menunduk, mengenali siapa dirinya di hadapan Tuhan. Namun perutusan itu tidak membawanya pada kegembiraan. Ia bertemu cemooh, olok-olok, dan penolakan di sepanjang jalan kenabiannya. Berkali-kali Yeremia ingin menyerah. “Aku tidak mau mengingat Dia,” katanya dalam hati, “dan tidak mau mengucapkan firman lagi demi nama-Nya” (Yer 20:9). Tapi setiap kali niat itu muncul, ada sesuatu yang menyala di dalam dirinya, terkurung dalam tulang-tulang kemanusiaannya. Ia berlelah-lelah menahannya, tapi tidak sanggup. Panggilan itu sudah mengakar. Semakin ia berusaha untuk memadamkannya, semakin ia sadar itu bagian dari dirinya sendiri yang tidak bisa dilepaskan begitu saja. Yang tadinya dijalankan dengan keterpaksaan, menjadi sebuah kerelaan. Setengah hati menjadi sepenuh hati. Rencana Tuhan tidak pernah berubah sekalipun terkungkung dalam kerapuhan manusiawi. Tuhan menegaskan dalam Injil hari ini, siapa yang ingin mengikuti-Nya harus menyangkal diri, memikul salib dan mengikuti-Nya (Mat 16:24). Sabda ini bukan panggilan untuk menderita demi menderita melainkan untuk mencintai secara total, bahkan jika hal itu menyakitkan. Petrus yang baru saja menyatakan iman akan Yesus sebagai Mesias (Mat 16:16) menerima dampratan sangat keras dari Yesus karena menolak realitas salib yaitu bahwa diri-Nya harus ke Yerusalem, akan menanggung banyak penderitaan, ditolak, dibunuh, dan akan bangkit (Mat 16:21). “Enyahlan Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku..” (Mat 16:23) karena Petrus berpikir manusiawi, bukan ilahi. Yesus memberi contoh bagi para murid agar bersikap tegas terhadap iblis, tidak kompromi terhadap godaan jahat. Mesias yang Dia perjuangkan tidak terletak di dalam kehebatan karya-Nya yang ajaib tetapi pada Pribadi yang berkenan kepada Allah. Tugas perutusan-Nya sebagai Mesias tidak meniadakan sengsara, penderitaan, kematian, serta kebangkitan-Nya. Dia akan menerima dan mengalami semua itu sebagai wujud kesetiaan-Nya terhadap Bapa-Nya. Yang diminta dari para murid adalah percaya dan mengikuti-Nya; bukan menentukan arah perutusan-Nya, mengambil alih peran-Nya, juga bukan menjadi penghalang atau batu sandungan dalam melaksanakan karya penyelamatan-Nya. Para murid harus menyangkal diri: meninggalkan pemikiran, gagasan yang tak selaras dengan tugas perutusan Guru dan meninggalkan sikap yang bertentangan dengan kehendak Allah. Paulus memberi jawaban yang sama dari sisi lain. “Berubahlah oleh pembaruan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan kepada Allah, dan yang sempurna” (Rm 12:2). Yang perlu diperbarui bukan Allah, yang selalu sama, selalu baik, selalu setia, melainkan budi kita, supaya sanggup mengenali kehendak-Nya, bahkan ketika jalannya berat, ketika dunia di sekitar kita menawarkan jalan yang lebih mudah dan lebih masuk akal. Kita sering menolak salib dalam bentuk kegagalan, kekecewaan bahkan tuntutan moral Kristiani yang sulit. Iman meyakinkan kita bahwa salib bukan kutukan melainkan jalan menuju kasih sejati dan keselamatan. Salib menyatukan kita dengan Kristus dan mengantar kita keluar dari belenggu cinta diri menuju cinta yang memberi hidup. Di sanalah pengakuan iman kita akan menancap betul dalam hati. Iman bukan cuma diucapkan tapi akhirnya menjadi pengakuan yang betul-betul mengakar. Santo Ignasius Loyola berkata, “Tidak ada cinta sejati tanpa pengorbanan.” Salib adalah tanda cinta sejati kepada Tuhan. Sebuah jalan menuju kekudusan sepanjang ziarah duniawi ini. Paus Fransiskus dalam Evangelii Gaudium menegaskab bahwa orang kudus adalah mereka yang “tidak takut mengenak wajah manusiawi Kristus yang menderita dan bangkit” (No. 8). Kekudusan bukan soal menjauh dan menghindar dari salib melainkan menjadikan setiap pengorbanan sebagai wujud kasih yang hidup. Iman akan menjadi hampa ketika tidak diwujudkan dalam keberanian mempersembahkan diri secara konkret. Mari kita pikul salib dengan melibatkan diri secara aktif dalam penderitaan dunia dan sesama. Komitmen hidup jujur di tengah tekanan korupsi, merawat anggota keluarga yang sakit, mengulurkan tangan untuk menolong para korban gempa bumi Flores, menolak ikut menyebar kebencian di media sosial, dan hadir dalam hidup sesama yang menderita dan tersingkir. Semoga kita tidak pernah malu menjadi murid Kristus yang setia memikul salib karena di dalam salib ada harapan, ada kebangkitan dan ada hidup kekal. * Post Views: 26 Navigasi pos Penyuluh Lintas Agama Kemenag Lembata Sasar Siswa SMPN 2 Nubatukan : Urgensi Moderasi Beragama Ditanamkan Sejak Dini