Memori Kolektif Erupsi Merapi melalui Museum dan Cerita Penyintas Ketika Tempat Menjadi Ingatan Oleh : Benediktus Angga Putra Borneo Mahasiswa Prodi Sastra Universitas Sanata Dharma Jogjakarta Di sebuah museum yang menyimpan jejak erupsi Merapi, sebuah rangka sepeda motor berdiri di atas hamparan pasir vulkanik. Besinya berkarat, jok dan rodanya hangus dan mengelupas. Di dekatnya terpasang label kecil: “Mohon tidak dipegang.” Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan banyak makna. Ia meminta pengunjung menjaga jarak dari benda yang sudah rusak, seolah ingatan sama rapuhnya dengan logam yang berkarat itu. Dari label itulah saya mulai bertanya: ketika sebuah bencana dipindahkan ke balik kaca pajang, siapa yang sebenarnya sedang kita ingat, dan atas nama siapa? Foto 1. Rangka sepeda motor yang rusak akibat erupsi Merapi, dipajang dengan label “Mohon tidak dipegang”. Foto: dokumentasi dalam peta topik UTS, Prof. Dr. Yoseph Yapi Taum, M.Hum. Pada 26 Oktober 2010, Merapi memuntahkan awan panas yang dalam beberapa pekan menyapu lereng selatannya. Lebih dari tiga ratus orang meninggal, ratusan ribu warga mengungsi, dan kampung-kampung di kawasan Cangkringan seperti Kinahrejo luluh lantak. Mbah Maridjan, juru kunci Merapi yang ditemukan meninggal di rumahnya, menjadi salah satu wajah paling dikenal dari peristiwa itu. Enam belas tahun kemudian, angka-angka tersebut mudah dihafal. Yang lebih sulit adalah menjawab pertanyaan yang semestinya diajukan: bukan “apa yang terjadi”, melainkan “bagaimana kita mengingat apa yang terjadi”. Apa yang diingat, dan siapa yang mengingat Museum, sebagai lembaga ingatan resmi, cenderung mengingat Merapi dengan bahasa pengetahuan: kronologi letusan, peta kawasan rawan bencana, penjelasan tentang magma dan awan panas. Bahasa ini penting karena membuat bencana dapat dipelajari dan dijadikan bekal mitigasi. Namun bahasa yang sama juga membuat peristiwa tampak rapi, seakan letusan hanyalah gejala alam yang dapat dibaca dari grafik. Korban lalu hadir sebagai angka atau, paling jauh, sebagai benda: sepeda motor, perabot, peralatan rumah tangga yang rusak oleh panas. Manusianya hadir lewat bendanya. Foto 2. Museum Gunungapi Merapi di Kaliurang, Sleman, dengan Gunung Merapi di latar belakang. Foto: dokumentasi dalam peta topik UTS, Prof. Dr. Yoseph Yapi Taum, M.Hum. Penyintas mengingat dengan cara lain. Bagi mereka, Merapi bukan sekadar peristiwa bertanggal 2010, melainkan rumah, ternak, ladang rumput, dan tetangga yang tidak lagi ada. Ingatan mereka bersifat sehari-hari dan berbau tanah: jalan menuju kebun, kandang yang kosong, nama-nama yang disebut berulang di warung, di hunian baru, dan di doa bersama. Dua ingatan ini tidak saling meniadakan, tetapi nadanya berbeda. Yang satu menjelaskan, yang lain kehilangan. Ada pula lapisan ketiga: pengunjung dan kegiatan wisata. Rumah-rumah yang tersisa, jalur lahar, dan bekas kampung kini menjadi tujuan perjalanan. Di satu sisi, wisata membuat tempat-tempat itu tetap dikunjungi sehingga tidak dilupakan. Di sisi lain, ingatan yang berubah menjadi tontonan berisiko kehilangan kepekaannya. Orang yang merawat ingatan dan orang yang menjadikannya mata pencaharian bisa berjalan beriringan, tetapi bisa pula saling melukai. Bagaimana ingatan itu diwariskan Ingatan tentang Merapi diwariskan lewat tiga jalur: benda, tempat, dan tuturan. Bendabenda sisa letusan menjadi saksi bisu yang dapat dilihat siapa saja. Tempat, seperti museum dan bekas kampung, memberi ruang bagi orang untuk datang dan berdiri di lokasi kejadian. Tuturan, yaitu cerita yang disampaikan orang tua kepada anak dan cucu, membawa hal-hal yang tidak bisa dipajang: rasa takut, rasa kehilangan, dan cara membaca tanda-tanda dari gunung. Sosok Mbah Maridjan memperlihatkan bahwa ingatan kolektif tidak pernah tunggal. Sebagian orang mengenangnya sebagai teladan kesetiaan pada amanah. Sebagian lain menjadikannya pelajaran tentang pentingnya mendengar peringatan para ahli. Satu sosok, dua pelajaran. Di sinilah tampak bahwa memori kolektif bukan salinan masa lalu, melainkan hasil tarik-menarik tafsir. Siapa yang tidak terdengar Setelah letusan, banyak warga dipindahkan ke hunian tetap. Bagi orang luar, relokasi adalah solusi keselamatan. Bagi sebagian warga, ia juga berarti kehilangan tempat sebagai kehilangan memori. Anak-anak yang lahir di hunian baru mewarisi cerita tentang kampung yang tidak pernah mereka lihat. Kampung itu hidup hanya dalam kata-kata orang tua mereka, dan kata-kata mudah memudar bila tidak ada tempat untuk menambatkannya. Suara-suara tertentu juga cenderung berada di pinggir cerita besar. Perempuan yang menanggung beban pengungsian, menjaga keluarga, dan kehilangan dapur serta ternak jarang menjadi narator utama. Begitu pula pengetahuan lokal tentang tanda-tanda alam, yang sering diposisikan sebagai pelengkap, bukan sumber pengetahuan yang setara dengan sains. Pertanyaan “siapa yang tidak terdengar” membuat kita sadar bahwa tidak adanya sebuah suara dalam museum bukan berarti suara itu tidak pernah ada. Mengapa ingatan itu penting Mengingat Merapi bukan urusan nostalgia, melainkan keselamatan. Gunung ini beberapa kali meletus dan akan meletus lagi. Pada 2006, dua orang meninggal di bunker Kaliadem yang semestinya menjadi tempat berlindung. Empat tahun kemudian letusan yang jauh lebih besar datang. Ingatan yang pudar membuat peringatan terdengar berlebihan dan jarak aman terasa terlalu jauh. Dalam arti ini, ingatan kolektif adalah infrastruktur yang tidak kasatmata, sama pentingnya dengan sirene, jalur evakuasi, dan peta rawan bencana. Ingatan itu juga membentuk identitas. Rangkaian peristiwa, tempat, kehilangan, dan peringatan membuat orang di lereng Merapi memandang dirinya sebagai bagian dari sebuah komunitas yang hidup berdampingan dengan gunung, bukan sekadar korban yang pernah ditimpa bencana. Identitas itulah yang memungkinkan mereka bangkit sekaligus tetap waspada. Siapa yang menentukan apa yang boleh diingat Pertanyaan terakhir inilah yang paling menentukan. Jawabannya seharusnya bukan satu pihak. Museum perlu memberi ruang yang layak bagi suara penyintas, bukan hanya data dan benda. Penyintas membutuhkan akses pada pengetahuan ilmiah agar ingatan mereka berfungsi sebagai kewaspadaan. Dan kita, para pengunjung, perlu datang bukan hanya untuk memotret, melainkan untuk mendengar. Kembali ke rangka sepeda motor tadi. Mungkin label “Mohon tidak dipegang” benar untuk bendanya. Namun ingatan di baliknya justru perlu dipegang bersama, dirawat, dan diceritakan ulang oleh banyak orang, agar tidak hanya menjadi barang pajangan di balik kaca. Post Views: 41 Navigasi pos Ketika Bebek Punya Kelas: Pertentangan Borjuis-Proletar dalam Cerpen Kematian Paman Gober Buka Seminar Gong Waning, Bupati Sikka Tekankan 4 Pilar Utama Pemajuan Kebudayaan dan Regenerasi Kaum Muda