Menakar Akar Menjangkau Angkasa, “Pemuda Berbudaya di Era Merdeka Belajar” Oleh : Jalal Rebong, S.Pd Guru SMAN 1 Balauring WARTA-NUSANTARA.COM— Sembilan puluh delapan tahun lalu, di sebuah gedung sederhana di Batavia, sekumpulan anak muda dari pelbagai pelosok Nusantara berkumpul membawa gagasan besar. Mereka yang berlatar belakang suku, bahasa, serta tradisi berbeda tidak sepakat untuk menunggalkan perbedaan tersebut, melainkan menenunnya dalam sebuah komitmen kebangsaan: satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan. Hari ini, pada Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 tahun 2026, janji sejarah itu kembali bergema di hadapan kita. Pertanyaannya bukan lagi apakah kita masih ingat teks Sumpah Pemuda, melainkan bagaimana nilai-nilai kebangsaan dan kekayaan budaya tersebut dimaknai oleh generasi muda di tengah gelombang modernisasi serta ekosistem pendidikan kontemporer. Dalam era pendidikan nasional yang terus bertransformasi menuju kebebasan berpikir sebagaimana tecermin dalam paradigma Merdeka Belajar, pemuda tidak lagi sekadar menempati posisi sebagai penerima pasif transfer pengetahuan. Pendidikan Merdeka pada hakikatnya dirancang untuk mengembalikan esensi asal persekolahan sebagai ruang tumbuh bagi karsa, cipta, dan rasa. Namun, kebebasan tanpa jangkar budaya berisiko melahirkan generasi yang fasih secara akademis dan mahir secara teknis, tetapi terasing dari akar sejarahnya sendiri. Di sinilah letak relevansi krusial dari kehadiran “pemuda berbudaya ” sosok pemuda yang tidak ragu melangkah maju menuju masa depan digital, sembari tetap memegang teguh komitmen kebudayaan tempat ia dilahirkan. Kebudayaan Sebagai Akar, Kebebasan Sebagai Sayap Refleksi atas Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 memanggil kita untuk menilik kembali pemikiran dasar Ki Hadjar Dewantara. Beliau menegaskan bahwa pendidikan dan kebudayaan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Pendidikan adalah tempat persemaian benih-benih kebudayaan dalam masyarakat. Ketika kita berbicara mengenai kebebasan belajar hari ini, kebebasan tersebut tidak boleh disalahartikan sebagai kebebasan yang tercerabut dari konteks lokal. Kebebasan dalam belajar seharusnya dipahami sebagai fleksibilitas untuk menggali potensi diri secara optimal dengan menjadikan kearifan lokal sebagai fondasi pembentukan karakter. Pemuda berbudaya bukanlah sosok yang anti-modernitas atau bernostalgia secara berlebihan pada masa lalu. Pemuda berbudaya adalah mereka yang mampu menerjemahkan nilai-nilai luhur tradisi ke dalam bahasa zaman. Dalam iklim pendidikan Merdeka, mereka tidak dipaksa untuk menghafal fakta sejarah atau formula kebudayaan secara kaku. Sebaliknya, mereka diberi ruang untuk mengeksplorasi, mempertanyakan, serta merekonstruksi makna budaya tersebut agar relevan dengan dinamika global. Budaya tidak lagi dipandang sebagai artefak museum yang berdebu dan statis, melainkan sebagai entitas hidup yang terus berdialog dengan realitas baru. Ketika seorang pemuda merancang aplikasi berbasis kecerdasan buatan untuk menginventarisasi bahasa daerah yang hampir punah, atau ketika kelompok mahasiswa memadukan musik tradisional dengan genre kontemporer untuk menyampaikan pesan-pesan sosial, di sanalah sintesis antara kebebasan belajar dan kebudayaan terjadi. Pemuda tersebut memanfaatkan kebebasan eksplorasi yang ditawarkan oleh pendidikan modern untuk menghidupkan kembali akar budayanya. Menghadapi Disrupsi Digital dan Amputasi Identitas Kita tidak bisa memungkiri bahwa pemuda era ini hidup dalam kepungan arus informasi tanpa batas. Algoritma media sosial dan budaya populer global menawarkan narasi-narasi baru yang sangat persuasif. Tanpa kesadaran kritis yang dibentuk melalui pendidikan berkarakter, ada bahaya laten yang mengintai: erosi identitas nasional. Banyak anak muda yang lebih akrab dengan tren mancanegara ketimbang memahami nilai-nilai filosofis yang ada di lingkungan sekitarnya sendiri. Di titik inilah konsep pemuda berbudaya menemukan peran strategisnya. Kebudayaan bukan sekadar urusan seni pertunjukan, pakaian adat, atau upacara ritual; kebudayaan mencakup cara pandang, etika, tata nilai, serta cara kita berinteraksi dengan sesama manusia dan alam. Nilai-nilai seperti gotong royong, musyawarah, kesantunan, serta rasa empati adalah inti dari kebudayaan Nusantara. Pendidikan Merdeka memberikan ruang terbuka bagi siswa dan mahasiswa untuk belajar di luar ruang kelas, berinteraksi langsung dengan masyarakat, serta menyelesaikan persoalan riil di lapangan. Ketika pembelajaran bergeser dari sekadar hafalan teoritis menjadi pengalaman kontekstual, pemuda didorong untuk mengalami langsung denyut kehidupan masyarakatnya. Mereka belajar memahami kearifan lokal dalam mengelola lingkungan, melihat bagaimana nilai kekeluargaan menyelesaikan konflik warga, dan meresapi kehangatan interaksi sosial yang tidak dapat digantikan oleh layar gawai. Proses inilah yang menempa empati dan mengasah kepedulian sosial, dua elemen penting dalam membentuk pemuda yang utuh. Pemuda Berbudaya Sebagai Subjek Perubahan Merdeka Belajar menuntut keberanian untuk keluar dari pola pikir serba seragam. Selama berdekade-dekade, sistem pendidikan kita cenderung menyeragamkan indikator keberhasilan, seolah seluruh peserta didik harus melintasi jalur yang persis sama. Padahal, Indonesia adalah negara kepulauan dengan keberagaman geografis, sosial, dan budaya yang amat kaya. Penyeragaman adalah bentuk pengabaian terhadap realitas kebudayaan itu sendiri. Dengan adanya kelonggaran kurikulum dan pengakuan atas keberagaman potensi, pemuda kini memiliki kesempatan untuk menentukan arah belajarnya sesuai dengan minat, bakat, dan konteks lingkungannya. Pemuda di wilayah pesisir dapat mengembangkan keahlian di bidang maritim berbasis kearifan lokal bahari, sementara pemuda di pedalaman agraris dapat mempelajari tata kelola pertanian berkelanjutan yang memadukan teknologi modern dengan tradisi leluhur. Pemuda berbudaya yang lahir dari proses pendidikan seperti ini tidak akan menjadi pengekor. Mereka menjadi pencipta (creator) dan penggerak (initiator). Mereka menyadari bahwa kebudayaan lokal memiliki daya tawar tinggi di tingkat global jika dikemas dengan pemikiran inovatif. Sumpah Pemuda tahun 1928 telah membuktikan bahwa gagasan besar anak muda sanggup mengubah arah sejarah bangsa; di tahun 2026 ini, kesadaran serupa harus dihidupkan kembali dalam skala tantangan yang berbeda. Tiga Pilar Kepemudaan Berbudaya di Era Modern Untuk mewujudkan peran pemuda berbudaya secara nyata dalam kerangka pendidikan Merdeka, ada tiga pilar utama yang perlu ditegakkan: Kesadaran Kritis (Critical Consciousness): Pemuda tidak hanya menjadi konsumen budaya populer, tetapi juga Mampu menyaring pengaruh luar dengan pijakan nilai-nilai lokal. Mereka menggunakan pendidikan sebagai alat untuk membedah mana perubahan yang memajukan dan mana yang mengikis kemanusiaan. Kreativitas Berbasis Lokalitas (Local-Based Innovation): Kekayaan tradisi dijadikan sumber inspirasi untuk melahirkan karya, produk, maupun solusi atas masalah sosial. Kebudayaan menjadi bahan bakar inovasi, bukan beban masa lalu. Kolaborasi Inklusif (Inclusive Collaboration): Semangat Sumpah Pemuda adalah semangat merajut perbedaan. Pemuda berbudaya harus mampu bekerja sama melintasi sekat suku, agama, dan latar belakang disiplin ilmu, serta memanfaatkan jaringan global tanpa kehilangan rasa bangga atas identitas bangsanya. Menatap Masa Depan dengan Pijakan yang Kokoh Mengenang Hari Sumpah Pemuda ke-98 bukan sekadar agenda seremoni tahunan, mengibarkan bendera, atau membacakan ulang ikrar sejarah di lapangan upacara. Peringatan ini adalah momentum untuk melakukan audit kebudayaan pada diri kita masing-masing. Sudah sejauh mana kita, sebagai pemuda, memberi arti bagi masyarakat di sekitar kita? Sejauh mana pendidikan yang kita tempuh telah menjadikan kita manusia yang lebih bijaksana, berempati, dan berakar? Pendidikan Merdeka telah membukakan pintu kebebasan. Tugas pemuda sekarang adalah mengisi kebebasan tersebut dengan karya-karya bermakna yang berakar pada kebudayaan bangsa. Pohon yang tinggi dan rindang tidak akan tumbang diterjang angin kencang apabila akarnya mencengkeram bumi dengan dalam. Begitu pula dengan pemuda Indonesia: makin tinggi capaian intelektual dan teknologis yang diraih, harus makin kokoh pula keterikatannya pada tanah air dan nilai-nilai kebudayaannya. Mari kita jadikan Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 ini sebagai titik balik untuk menegaskan kembali komitmen kita. Kita adalah generasi penerus janji 1928 yang berdiri di atas bahu para pendahulu. Dengan memadukan semangat Merdeka Belajar dan kedalaman budaya Nusantara, pemuda Indonesia siap melangkah mantap menakutkan tantangan global tanpa pernah kehilangan jati dirinya. *** Selamat Hari Sumpah Pemuda Post Views: 464 Navigasi pos Menembus Benteng Kultur dalam Transformasi Pendidikan: Antara Sistem, Kebiasaan, dan Pola Pikir