MENGHITUNG JAM ORANG LAIN Ide homili Inspiratif Minggu Biasa ke-26. Tanggal 20 September 2026 Oleh Robert Bala Robert Bala WARTA-NUSANTARA.COM— Ada kebiasaan manusia yang sangat menarik: kita suka menghitung. Kita menghitung uang, menghitung waktu, menghitung keuntungan, menghitung pengorbanan. Tetapi ada satu jenis hitungan yang sering membuat hidup kita tidak bahagia: menghitung milik orang lain. Kita menghitung berapa lama dia bekerja. Kita menghitung berapa banyak dia menerima. Kita menghitung berapa besar penghargaan yang dia dapatkan. Kita menghitung mengapa dia dipromosikan, sementara kita tidak. Injil hari ini berbicara tepat mengenai hal itu. Maka judul renungan kita sederhana: MENGHITUNG JAM ORANG LAIN Yesus menceritakan seorang pemilik kebun anggur yang mempekerjakan para pekerja. Ada yang mulai bekerja pagi-pagi, ada yang mulai pukul sembilan, ada yang siang, bahkan ada yang baru bekerja satu jam sebelum hari berakhir. Ketika tiba waktunya membayar upah, semuanya menerima jumlah yang sama. Para pekerja yang datang pagi-pagi kemudian bersungut-sungut. Mereka merasa tidak adil. Tetapi perhatikan: mereka sebenarnya tidak menerima kurang dari yang dijanjikan. Mereka menerima persis seperti kesepakatan mereka dengan tuannya. Lalu mengapa mereka kecewa? Karena mereka mulai menghitung jam orang lain. Mereka tidak lagi melihat apa yang mereka terima. Mereka melihat apa yang diterima orang lain. Dan di sinilah Yesus menyentuh sesuatu yang sangat dalam dalam hati manusia. Kita sering tidak menderita karena apa yang kita miliki terlalu sedikit, tetapi karena orang lain memiliki sesuatu yang menurut kita tidak layak mereka terima. Di sini menyebabkan kita lupa bersyukur. Padahal ketika melihat diri sendiri, kita akan mudah berkata, “Tuhan, terima kasih.” Sebaliknya ketika melihat orang lain, kita mulai berkata, “Mengapa dia?” Mengapa dia mendapatkan pekerjaan itu? Mengapa dia mendapat penghargaan? Mengapa anaknya lebih berhasil? Mengapa orang baru mendapatkan perlakuan yang sama dengan saya yang sudah lama bekerja? Mengapa Tuhan memberkati dia? Tanpa kita sadari, berkat yang kita terima menjadi kurang berarti ketika kita mulai membandingkannya dengan berkat orang lain. Dan lebih parah, kita akhirnya menjadi sedih karena melihat orang lain bahagia. Semuanya berawal dari kecendrungan kita untuk lebih menghitung jam orang lain. Lalu apa yang mestinya kita lakukan dalam hidup? Tuhan tidak meminta kita menjalani perjalanan orang lain. Tuhan meminta kita setia pada perjalanan yang diberikan kepada kita. Karena itu, mungkin hari ini Tuhan ingin membebaskan kita dari sebuah kebiasaan: menghitung jam orang lain. Jangan terlalu sibuk menghitung berapa lama orang lain bekerja sehingga kita lupa mensyukuri kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita. Jangan menghitung berapa banyak orang lain menerima sehingga kita lupa menghitung berkat yang sudah kita miliki. Jangan menghitung keberhasilan orang lain sehingga kita lupa melihat perjalanan kita sendiri. Dan terutama, jangan sampai kebaikan Tuhan kepada orang lain menjadi alasan bagi kita untuk kehilangan sukacita. Pemilik kebun anggur berkata: “Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau karena aku murah hati?” Pertanyaan ini sangat tajam: Apakah kita mampu bersukacita ketika orang lain diberkati? Sebab kedewasaan iman bukan hanya ketika kita mampu berkata, “Tuhan, berkatilah saya.” Kedewasaan iman adalah ketika kita juga mampu berkata: “Tuhan, terima kasih karena Engkau memberkati dia.” Hidup akan jauh lebih damai kalau kita berhenti menghitung jam orang lain. Syukuri bagian kita. Jalani panggilan kita. Hormati perjalanan orang lain. Dan percayalah pada kemurahan hati Tuhan. Sebab Tuhan tidak pernah meminta kita menjadi orang lain. Ia hanya meminta kita menjadi setia. Maka, mulai hari ini: Jangan menghitung jam orang lain. Hitunglah berkat yang Tuhan berikan kepada kita. Karena ketika kita berhenti membandingkan, kita mulai belajar bersyukur. Dan ketika kita belajar bersyukur, kita menemukan bahwa ternyata Tuhan sudah memberikan jauh lebih banyak daripada yang selama ini kita sadari. Robert Bala. Penulis buku MEMAKNAI BADAI KEHIDUPAN. Cetakan ke-2 Penerbit Kanisius Yogyakarta. Post Views: 18 Navigasi pos LUPA INGATAN