Mikhael Agung Buran, SH., dan Ibunda terkasih

Mikhael Agung Buran, S.H., Dari Atawolo Menapaki Jalan Pengabdian

Oleh : Albertus Muda

WARTA-NUSANTARA.COM—   Mikhael Agung Buran, S.H., atau yang akrab disapa Agung Buran, merupakan putra almarhum Bapak Antonius Gigo Buran dan Ibu Kristina Niga Keraf. Ia lahir di Mulankera, 24 September bertepatan dengan lahirnya UU Pokok Agraria. Ia mengawali perjalanan hidup dan pendidikannya di Atawolo, Kecamatan Atadei, Kabupaten Lembata, dengan menempuh pendidikan dasar di SDK Atawolo, tempat sang ayah kala itu mengemban tugas sebagai kepala sekolah. Dari lingkungan pendidikan inilah, fondasi intelektual Agung mulai dibangun, menjadi pijakan awal bagi perjalanan panjangnya dalam menuntut ilmu dan mengabdikan diri. Meski dilahirkan di Atawolo, akar genealogis dan identitas tanah asalnya tetap berpaut pada Mudalerek–Lewotapo, Lembata.

Mikhael Agung Buran, SH.

Setelah menamatkan pendidikan dasar, Agung melanjutkan pendidikan di SMP Mater Inviolata, Larantuka, Flores Timur. Di lembaga pendidikan ini, benih panggilan hidup untuk menjadi imam mulai tumbuh dan bersemi dalam dirinya. Panggilan tersebut kemudian membawanya melangkah ke SMA Seminari San Dominggo Hokeng, sebuah lembaga pendidikan calon imam yang menyimpan begitu banyak kenangan. Kini, seminari yang dahulu berdiri di lembah Hokeng tercinta itu hanya tinggal dalam ingatan setelah bangunan fisiknya tidak lagi berdiri seperti sediakala.

Seusai menamatkan pendidikan di seminari, Agung dihadapkan pada pilihan untuk melanjutkan perjalanan menuju Seminari Tinggi. Namun, ia memilih jalan pengabdian yang berbeda. Ia memutuskan mendalami ilmu hukum di Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Di kota pendidikan tersebut, ia menekuni bidang yang dipilihnya sebagai bekal untuk memasuki dunia profesional dan mengabdikan diri kepada masyarakat.

Berbekal pendidikan di bidang hukum, khususnya yang berkaitan dengan pertanahan, Agung mengikuti seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) pada Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) pada tahun 2009. Di tengah ribuan peserta yang memperebutkan kesempatan untuk menjadi aparatur negara, Agung berhasil melewati seleksi dan menjadi salah seorang yang dinyatakan lulus. Kelulusan itu menjadi pintu masuk bagi perjalanan panjang pengabdiannya kepada negara.

Agung mengawali tugasnya di Kabupaten Flores Timur. Dalam perjalanan kariernya, ia kemudian dimutasi ke Kabupaten Lembata sebelum akhirnya bertugas di Kota Kupang. Di ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur tersebut, ia memperoleh kepercayaan untuk menduduki jabatan Kepala Seksi Penyelesaian Sengketa AtR/BPN. Setiap tahapan perjalanan ini menjadi ruang pembelajaran, pendewasaan profesional, sekaligus kesempatan untuk memperluas kontribusi dalam pelayanan publik.

Dedikasi, kompetensi, dan kontribusi yang terus dibangun dalam perjalanan kariernya mengantarkan Agung pada kepercayaan yang lebih besar. Pada 29 Oktober 2026, ia dilantik sebagai Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Sumba Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Pelantikan ini bukan semata-mata pencapaian karier pribadi, melainkan juga sebuah amanah yang membawa tanggung jawab besar. Jabatan bukan sekadar ruang untuk memimpin, melainkan kesempatan untuk menghadirkan keadilan, membangun kepercayaan, dan memastikan bahwa masyarakat memperoleh pelayanan pertanahan yang profesional, transparan, serta berlandaskan ketentuan perundang-undangan.

Selamat mengabdi, saudara, opu alap, Agung Buran!

Kiranya kepercayaan yang diberikan menjadi jalan untuk menghadirkan pelayanan yang semakin bermutu bagi masyarakat Sumba Barat. Pegang teguh integritas, junjung tinggi hukum, dan jadikan setiap keputusan sebagai wujud tanggung jawab kepada negara dan masyarakat. Semoga masyarakat yang dilayani merasakan manfaat nyata dari kepemimpinan yang dijalankan, sekaligus menaruh kepercayaan dan kebanggaan terhadap lembaga yang dipimpinnya.

Perjalanan dari Atawolo, melewati bangku pendidikan di Larantuka dan lembah Seminari Hokeng, hingga menapaki dunia pengabdian di bidang pertanahan mengajarkan bahwa setiap orang memiliki jalan hidupnya sendiri. Tidak semua benih panggilan tumbuh menjadi bunga yang sama, tetapi setiap pilihan yang dijalani dengan kesungguhan dapat menghasilkan buah pengabdian bagi sesama.

Semoga Tuhan senantiasa memberkati setiap langkah dan keputusanmu. Semoga lewotanah turut merestui perjalanan pengabdian ini. Tunaikanlah amanah luhur tersebut dengan hati yang tulus, pikiran yang jernih, dan keberanian untuk memperjuangkan pelayanan yang adil bagi semua.

Sebab, pada akhirnya, keberhasilan seorang pemimpin tidak hanya diukur dari jabatan yang berhasil diraih, tetapi juga dari kepercayaan yang berhasil dirawat dan kehidupan masyarakat yang sungguh-sungguh disentuh oleh pelayanannya. Selamat menjalankan amanah. Selamat melayani. Salvete.

Albertus Muda, Penulis adalah  Guru Agama Katolik SKO San Bernardino Lembata-NTT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *