Robert Bala

OMAR, SEBUAH INSPIRASI ANAK ASAL PALESTINA

Oleh : Robert Bala

WARTA-NUSANTARA.COM—   Selama ini, bagi saya, kisah tentangPalestina dan Israel hanyalah deretan berita di layar kaca tanpa meninggalkan rasa yang lama. Rasa pedih memang kerap muncul tetapi secepat itu pun pergi. Kadang kulihat derita tetapi dengan cepat narasi berbeda kutampilkan dan meremehkan duka yang nyata.

Namun, beberapa hari lalu, esensi kepedihan itu hadir begitu dekat, menjelma dalam diri seorang bocah mungil berusia empat tahun.Sebut saja namanya Omar. Ayahnya asal Palestina. Ibunya orang Indonesia. Ia adalah seorang anak laki-laki manis yang masih duduk di bangku Pre-Kindergarten atau Kelompok Bermain (Klober).

Pagi itu, guru kelas memberitahukanku tentang sebuah insiden kecil terjadi tanpa sengaja. Seorang temannya membuka pintu toilet tepat saat Omar hendak melangkah masuk. Jari tengah tangan kecilnya terjepit rapat. Jarinya terlihat memar, sedikit lembap oleh sisa air, dan jelas, rasa sakitnya luar biasa.

Di usia di mana anak-anak seusianya biasanya akan langsung menangis histeris ketika mendapati lututnya lecet atau mainannya direbut. Omar menunjukkan ketegaran yang melampaui nalar seusianya. Tidak ada ekspresi sakit. Suara rintihan itu tidak keluar dari mulut mungilnya.

Saya melihat Omar ketika ia kembali ke kelas. Seorang guru mendekat, merawatnya penuh kasih, bahkan membantunya menyuapkan makanan dengan raut wajah yang menyiratkan kekhawatiran mendalam.

Melihat kejadian itu, hati saya tersentuh. Saya mendekat dan berbisik lembut kepadanya, menawarkan sebuah jalan keluar yang wajar bagi anak seusianya, “Omar, apakah kamu mau pulang duluan?”

Namun jawaban Omar membuat saya tertegun, terpaku, dan tak habis pikir. Dengan suara lembut, tanpa nada mengeluh, ia menjawab, “Teman-teman saya kan belum pulang.”
Kalimat sederhana itu menusuk relung hati paling dalam. Di balik tatapan matanya yang tenang, terbersit sebuah kedewasaan prematur yang menyayat hati.

Kejadian itu memantik sebuah pertanyaan besar yang menghantui benak saya: Apakah Omar sedang mewakili anak-anak Palestina di belahan bumi sana, anak-anak yang air matanya telah mengering karena terlalu sering menangis? Apakah mereka, sejak usia sekecil ini, telah ditempa oleh keadaan bahwa hidup adalah sebuah medan perjuangan yang kejam, di mana jatah air mata telah habis sama sekali?

Pergulatan para elite, benturan kepentingan politik “kaum atas” yang egois, tak pernah benar-benar menyentuh ruang sidang tempat mereka berdebat. Sebaliknya, duka mendalam itu jatuh menimpa pundak-pundak rapuh seperti Omar. Mereka tidak hanya belajar mengenali abjad dan angka di ruang kelas, tetapi juga belajar menahan sakit, memendam lara, dan mengubur rasa takut dalam diam.

Kejadian di 23 Oktober itu tidak selesai. Tanggal 24 Oktober, Hari PBB, momen yang dirayakan secara meriah. Saya berharap bisa bertemu ayahnya dan bisa sampaikan kejadian itu. Tetapi ayahnya lagi sibuk bekerja dan tidak bisa hadir di hari Sabtu. Juga ibunya tidak hadir. Omar hanya ditemani ‘Mbak’, yang mengantar dan menjemputnya setiap hari.

Omar mengajarkan kita arti ketegaran sejati. Bahwa di tengah dunia yang kerap abai terhadap penderitaan sesama, ada jiwa-jiwa kecil yang menolak menyerah pada keadaan, membawa serta harapan yang terus bernyala di atas reruntuhan. Kepada Omar dan anak-anak Palestina, saya menitip guratan kata-kata berikut.

Di bawah langit yang lebam oleh debu dan mesiu,
Langkah-langkah kecil meniti puing waktu.
Mereka bukan lagi anak-anak yang mengenal boneka,
Melainkan ksatria cilik yang memeluk luka.

Jari-jari mungil belajar menggenggam bara,
Sebelum sempat merajut mimpi dan warna.
Air mata telah surut, menguap bersama angin duka,
Sebab tangis tak lagi cukup meredakan nestapa.

Seperti Omar yang menahan sakit dalam diam nan suci,
Mengajarkan arti tegar di tengah badai pertiwi.
Wahai para penguasa takhta dan singgasana megah,
Tidakkah kalian dengar bisik ketulusan yang lelah?
Di balik senyum Omar dan jutaan anak terdzalimi,
Ada nurani kemanusiaan yang menuntut janji.

Untuk Omar, buoan sebuah nama asli.

RB – GIS 2 (Sepatan – Tangerang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *