Paket 7 Maret 99, Vian Burin0Polce Ruing Nomor 3



LEMBATA : WARTA-NUSANTARA.COM–Pasangan Dwi Tunggal Koalisi Nasionalis Religius Paket 7 Maret 99, Calon Bupati Lembata, Yohanes Vianey K. Burin dan Calon Wakil Bupati, Paulus Doni Ruring dalam visi dan misi merancang konsep pembangunan menjadikan Kecamatan Lebatukan sebagai Sentra Inovasi Ekonomi Lembata.


Paket 7 Maret 99, Vian Polce mendasari konsep pembangunan itu dengan mencermati data, potensi dan karakteristik wilayah. Luas wilayah kabupaten Lembata : 1.266,39 km2 Luas wilayah kecamatan Lebatukan : 241,9 Km2 atau 19,10% dari luas Lembata.
Karakteristik Kecamatan Lebatukan : Merupakan kecamatan paling luas di kabupaten Lembata yang menjagkau pantai Utara hingga Pantai Selatan. Merupakan wilayah titik tengah kabupaten Lembata. Berada di tengah ruas jalan Negara yang menghubungkan Lembata Barat dan Lembata Timur Total penduduk tahun 2023 : 10.125 orang. Tingkat kepadatan penduduk rata-rata 41 km2/orang. Menunjukkan bahwa masih terdapat lahan kosong yang luas.
Vian dan Polce menjelaskan, terdapat 3 wilayah produktif yakni : wilayah Pantai Utara (Desa Lamatuka di Tanahtereket hingga Desa Dikesare. Wilayah pegunungan di Leragere dan Leralodo : dengan hasil utama yaitu kemiri. Wilayah pantai Selatan : Kawasan Pesisir Desa Banitobo di Barat hingga kawasan pesisir Desa Balurebong di bagian Barat, (Garis merah).
Tinjau khusus Desa Banitobo dan Desa Lamalela di kawasan Leralodo, mempunyai luas Wilayah desa di kawasan pegunungan hungga menjangkau pantai teluk Bobu.
Desa Banitobo : Wilayah desa paling luas. Wilayah pegunungan diperkuat potensi kemiri dan peremajaannya. Di pegunungan sedang dikembangkan persawahan Letuboro
Masih terdapat lahan sawah yang akan dibuka hingga pantai Waiteba, jika telah dirembuk bersama dengan masyarakat Atadei pemilik ulayat di kawasan Waiteba dan sekitarnya.
Potensi yang dapat dikembangkan dari lahan persawahan ini yakni peternakan dan sumber protein hewani untuk mendukung program makan bergizi gratis. Sisa produk pertanian sawah maupun pertanian ladang menjadi bahan pakan ternak yang diolah secara organic dengan pendekatan fermentasi.
Di kawasan pegunungan hingga pantai selatan dikembangkan pula tanaman-tanaman herbal seperti jahe, kunyit dll.
Di kawasan tepi pantai arah ke Timur terdapat tebing dan jurang yang curam, namun dahulu sebelum bencana tsunami tahun 1979, kawasan tersebut merupakan kawasan penggembalaan ternak kambing oleh masyarakat desa Lamatuka tempo dulu.
Di kawasan Pantai selatan (Bunglado hingga Bobu), terdapat batu-batu karang tepi pantai yang menjorok ke laut, yang merupakan kawasan potensial untuk mincing di tepi pantai. Dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata mincing tepi pantai. Selain itu, terdapat gua-gua kelelawar dan sarang burung wallet.
Di wilayah pegunungan terdapat puncak bukit Pae Hati yang dapat dikemas dan dikembangkan menjadi kawasan wisaya religi. Lahan-lahan kosong di kawasan tepi pantai dikembangkan industry garam.
Masyarakat setempat ditempatkan sebagai pasukan garis depan untuk optimalisasi potensi-potensi tersebut melalui wadah BUMDES dan kelompok-kelompok UMKM. Peningkatan akses jalan, listrik dan air
Desa Lamalela : Kawasan pegunungan diperkiat potensi kemiri dan peremajaannya. Kawasan pantai Selatan (Pantai Bobu, Tanjung Gelugala hingga Wade): Penggembangan indutri garam dengan system Agrosalt, yakni pada musim kemarau untuk produksi garam sedangkan pada musim hujan dialihkan lahan untuk bertanam jagung, padu dan kacang-kacangan.
Menurut Vian Polce, Pantai Bobu yang dulu pernah menjadi pasar yang dimanfaatkan oleh masyarakat pantai Selatan Lembata, Kedang dan masyarakat Alor-Pantar, diatur untuk dikembangkan lagi menjadi pasar sekali dalam seminggu. Penangkaran rusa di kawasan Bobu hingga Wade untuk jadi wisata Ilmiah.
Masyarakat setempat ditempatkan sebagai pasukan garis depan untuk optimalisasi potensi-potensi tersebut melalui wadah BUMDES dan kelompok-kelompok UMKM. Peningkatan akses jalan, listrik dan air
Tinjau khusus Wilayah Leragere : Leragere mempunyai luas wilayah yang ditempati oleh masyarakat kawasan Leragere yakni dari pantai Utara hingga pantai Selatan.
Kawasan Leragere di pantai Utara : Meliputi desa Tapobaran dan Desa Tapolangu. Terdapat industry garam di Tapobaran hingga Tapolangu yang tetap dikembangkan dan juga berpotensi pula untuk pembuatan tambak udang. Kawasan bukit Nuhanera dan laut teluk Nuhanera hingga pantai Tapolagu dapat dikembangkan jadi destinasi wisata.
Kawasan Leragere bagian pegunungan : Penguatan hasil kemiri, tanaman niaga yang lain serta peremajaan. Pengembangan jahe, kunyit, buah-buahan dan rempah-rempah lainnya. Peningkatan akses jalan, listrik dan air
Desa-desa di Leragere yang wilayah administratip desa hingga pantai selatan:Penggembangan indutri garam dengan system Agrosalt, yakni pada musim kemarau untuk produksi garam sedangkan pada musim hujan dialihkan lahan untuk bertanam jagung, padu dan kacang-kacangan. Penangkaran rusa untuk jadi wisata Ilmiah. Peningkatan akses jalan, listrik dan air
Desa Dikesare :Penguatan wisata muro dan kuliner Penguatan dan peningkatan kapasitas masyarakat nelayan Desa Waienga, Lerahinga, Hadakewa, Merdeka, Baopana dan Lamatuka:Penguatan kapasitas hasil laut pantai Utara, khususnya ikan terri.
Penguatan kapasitas nelayan
Peningkatan peranan perusahaan penangkaran mutiara terhadap masyarakat local dan daerah secara legal sesuai regulasi dan tidak ada pungutan liar terhadap perusahaan demi menjaga sehatnya investasi.
Peningkatan kualitas pertanian masyarakat melalui optimalisasi lahan-lahan potensial dan pendayagunaan air bawah tanah untuk pertanian sepanjang tahun sehingga menjadi sumber utama bahan baku gizi untuk pelaksanaan program nasional pemberian makanan bergizi bagi anak sekolah dan ibu hamil.
Khusus untuk Desa Baopana, peningkatan kapasitas lapangan bola kaki menjadi stadion penyanggah serta pusat sarana olahraga Lembata lainnya.
Khusus untuk Desa Lamatuka dan desa Baopana, yang menjadi desa pintu masuk kecamatan Lebataukan serta desa di tapal batas 4 wilayah kecamatan (Lebatukan, Ile Ape, Nubatukan, Atadei), dikemas untuk menjadi desa pusat indutri kuliner Lembata dengan kualitas produk untuk pasaran antar pulau. Bahan baku (ubi, pisang, jagung dll), didatangkan dari wilayah Lembata lainnya.
Vian Polce menjelaskan, Masyarakat dua desa ini diarahkan menjadi masyarakat industry karena sector pertanian kurang menjamin ke depannya, lantaran kedua desa ini merupakan desa relokasi yang menggarap lahan milik orang lain sebagai lahan pertanian.
Menurut Paket 7 Maret 99, memperhatikan RTRW, program desa (RPJPD) dan berkoordinasi dengan desa atas gagasan-gagasan desa yang telah dirumuskan melalui Rakorbangdes, Rakorbangcam, dll itu. *** (WN-01)












