PIMPIN PEMULIHAN BERGERAK UNTUK MERDEKA BELAJAR (Refleksi Hari Pendidikan Nasional Tahun 2022 )

Oleh : Mikael Segegit Kobun
Kepala SMKN 1 ILE APE LEMBATA


WARTA-NUSANTARA.COM-Cita-cita luhur para pendiri bangsa yang tertuang dalam undang- undang dasar 1945, maka
nilai-nilai luhur kearifan lokal indonesia maka filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara, lahirlah visi pendidikan yang merupakan interprestasi dari semua nilai-nilai luhur tersebut. Visi yang menyatakan tujuan pendidikan Indonesia dan profil pelajar yang dicita-citakan Yaitu Profil Pelajar Pancasila. Tema tahun ini menginspirasi berbagai komponen untuk kembali melakukan pemulihan dan restorasi scarah khusus dalam bidang pendidikan.


Bahwa untuk menjawabi visi pendidikan Indonesia “ Mewujudkan Indonesia maju yang Berdaulat, mandiri dan berkepribadian melalui terciptanya Pelajar Pancasila adalah sebuah amanh besar yang harus dikemas oleh seluruh komponen Pendikan. Pelajar Indonesia merupakan pelajar sepanjang hayat yang kompeten,berkarakter dan berprilaku sesuai nilai-nilai pancasila.


Profil pelajar pancasila dirancang untuk menjawabi petanyaan besar yaitu pelajar dengan Profil (kompetensi) seperti yang ingin dicapai oleh sistem pendidikan Indonesia. Pelajar Indonesia merupakan pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berprilaku sesuai nilai
pancasila. Pernyataan ini berkaitan erat dengan dua hal yakni kompetensi menjadi warga Negara Indonesia yang demokratis dan untuk menjadi manusia unggul dan produktif di abad ke 21. Karena itu peserta didik indonesia diharapkan dapat berpartisipasi dalam pembangunan global yang
berkelanjutan serta tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan.


Fenomena pendidikan dimasa ini mesti ditanggapi dan dijanakan dengan penuh kesadaran dan rasa tanggung jawab. Tentunya pendidikan disetiap jenjang yang diakiri dengan tuntasnya tuntutan kurikulum bukanlah tujuan akir, namun seperrti apa out put yang dihasilkan untuk menjawab berbagai tuntutan zaman.


Oleh karena itu, kereatifitas mencirikan tingkat kekeritisan pola pikir yang berbeda dengan yang telah ada. Banyak pandangan bahwa kewajuan suatu sistem (Lembaga, organisasi dan sejenisnya) bangsa banyak ditentukan oleh kehebatan daya berrpikir bangsa terrsebut. Kreatifitas juga dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang mendatangkan hasil yang sifatnya baru, berrnilai guna dan dapat dipertanggung jawabkan. Sifat baru lebih dikenal dengan inovatif,belum ada, aneh, lebih praktis, lebih mudah, instan, mendorong, mengembangkan, mendidik memecahkan masalah, mengurangi hambatan,mengatasi kesulitan, mendatangkan hasil lebihbanyak/baik. Sedangkan sifat yang dapat dimengerti merupakan hasil replika yang dibuat pada waktu dan tempat yang berbeda.


Keberadaan atau eksistensi dapat dilihat dua aspek yakni PROSES dan PELAKU. Dari aspekproses, kreatifitas pastinya berorientasi pada suatu tujuan atau capaian yang direncanakan untuk menjawabi permasalahan. Dilain pihak kreativitas dipandang sebagai proses yang sesungguhnya
terus dikembangkan dan diperbaiki. Dari aspek Pelaku(orang) ditunjukan bahwa setiap orang memiliki kreatifitas pada derajat tertentu. Hal ini menunjukan pencapaian tujuan, karena pelaku/orang merupakan sumber daya yang mendeterrminasi solusi dari suatu permasalahan. Karena
itu Mindset, Skillest serta Karakter merupakan faktor pendukung keberhasilan Pendidikan Bangsa. Daya kreatif atau kreatifitas dapat dikembangkan melalui peningkatan melalui jumlah dan ragaam masukan (input) ke otak terutama tentang hal-hal yang relatif baru. Pemanffaatan daya intuisi dan daya sintesa dari otak bahkan mimpi alias angan-angan dapat menumbuhkan kreatifitas berbagai ide atau gagasan baru.


Tentang Merdeka belaja,Lembaga pendidikan secara khusus mesti membangkitkan budaya rasa ingin tahu, bukan mencangkokan budaya Kepatuhan. Karena itu anak-anak dan guru untuk tidak didorong untuk mengikuti alogaritma rutinitas (administrasi, kurikulum yang tidak operasional. Seorang guru hendaknya mampu memantik serta memercikan rasa ingin tau pada peserta didik agar mereka belajar sendiri, karena anak-anak adalah pembelajar alami. Guru adalah urat nadi keberhasilan sekolah tetapi mengajar sesungguhnya adalah profesi kreatif. Mengajar bukanlah sekedar menyampaikan informasi akan tetapi membimbing,merangsang, memprofokasi serta terlibat melatih otak anak untuk berpikir. Patut diakui bahwa terkadang budaya pendidikan bukan fokus pada pengajaran dan pembelajaran namun lebih mengarah ke pengujian, padahal Tidak akan ada Pendidikan jika tidak ada pembelajaran yang baik.


Di aku pulai bahwa potensi dan talenta manusia sangatlah berbeda, karena itulah pendidikan dilaksanakan bukan pada keragaman tetapi kesesuaian. Pendidikan konformitas mempersempit fokus pada bidang studi yang dibutuhkan lebih pada Dunia Industri (Dudi) seperti STEM. Mereka sangat penting tetapi tidak cukup. Pendidikan sejati hendaknya memberikan BOBOT yang sama pada seni, Humanisme, dengan pendidikan jasmani sehingga semua anak bahagia dan partisipatif dalam belajar (merdeka Belajar) Jika kita menduduki anak jam demi jam hanya menghafal, melakukan pekerjaan administratif tingkat rendah, maka tidak bisa dipungkiri jika anak mulai gelisa.


Dalam kontek merdeka belaja akan selaras dengan Temah tahun ini sebagai jawaban atas visi dan misi pendidikan Indonesa, filsafat pendidikan Nusantara, maka peran pendidik diharapkan bisa 1. Menuntun peserta didik, dalam konsep ini guru dituntut untuk menuntun segala kekuatan kodrat pada anak agar selamat, bahagia dan selaamat dan bermafaat bagi orang lain dan dapat menciptakanpembelajaran outentik bukan hafalan yang mudah lupa setelah ujian.2 Bertani. Pendidik patut memaknai konsep bertani. Bahwa pendidikan adalah persemaian benih-benih talenta dan kebudayaan melalui penciptaan ekosistem sekolah yang menyenangkan ,aman dan kondusif serta dapat memberi ruang kepada peserta didik untuk mengembangkan diri. 3.Bermain, dalam konsep ini bahwa kodrat anak adalah bermain maka pendidikan haruslah menyenangkan, karena bermain guru memantik abstrak thinking problem solving serta mengajarkan strategi belajar dan aktive learning. 4. Berhamba pada anak, dalam konsep ini , merdeka belajar guru memberi ruang otonomi pada anak agar mereka dapat bertanggung jawab atas belajarnya (membuat keputusan serta mengatur waktu belajar sendiri, serta fleksibilitas terkait waktu serta metode belajar sesuai kebutuhan siswa.


Dalam semangat hari pendidikan Nasional tahun 2022 dengan mengusung tema “ PIMPIN PEMULIHAN BERGERAK UNTUK MERDEKA BELAJAR” di seluruh Indonesia patut di Syukuri dan menjadi kebanggan berrsama, bahwa tentunya dengan momen tahun ini dengan
berbagai tantangan situasi dan kondisi (covit 19, bencana sosial lainnya) setiap kita tetap berkomitmen untuk meria rayakannya dalam berbagai agenda kegiatan yang tengah dijalankan di wilayah/sekolah kita. Karena itu sadar atau tidak aneka agenda yang dijalankan adalah suatu bentuk pemulihan serta langkah maju untuk mesuksekan merdeka belajar yang diikuti berbagai dimensi profil pelajar pancasila.


Bahwa melangkah untuk maju adalah suatu cita-cita dan harapan unuk bangsa dan negara, namun kita juga mesti berhenti sejenak sembari mengukur kekuatan dan kelmahan pendidikan kita. Pertanyaan Reflektif “mengapa hasil dan karakter belajar masi jau dari harapan ?? 1. mungkin saja kualitas guru dan kurikulum yang kaku, bahwa guru masi dominan berperan sebagai pemberi ilmu, bukan fasilitator serta kurang/ tidak fokus pada pengembangan karakter serta penanaman rasa senang belajar 2. cakupan kurikulum terlalu luas, kurang praktis dan operasional serta tidak ada ruang untuk memahami materi serta refleksi pembelajaran. 3. Pertanyaan kita (guru) cendrung dangkal karena jawaban siswa siswa hanya satu kata dan jarang melibatkan siswa berpikir aras tinggi disertai penjelasan/ alasan terhadap jawaban.


Dinamika ini mesti didukung dengan kapasitas pelatihan guru perlu ditingkatkan serta korelasi pelatihan guru dan bantuan pembiayaan sekolah, sinergi pemerintah daerah dan kementrian pendidikan diperkuat untuk mengantisipasi kesenjangan yang signifikan demi terpulihnya Pendidikan serta Maju bersama Untuk Merdeka Belajar. Salam Restorasi Pendidikan…

Exit mobile version