Ratusan Umat Lingkungan St. Agustinus Antusias Ikuti Pemberkatan Patung Maria Bintang Laut LEMBATA : WARTA-NUSANTARA.COM— Ratusan umat Katolik Lingkungan St. Agustinus, Paroki St. Fransiskus Asisi Lamahora, di bawah koordinasi apik ketua lingkungan, Irenius Ola Samon, antusias dan khusuk mengikuti Perayaan Ekaristi sekaligus pemberkatan Patung Maria Bintang Laut, Senin (31/8/2026). Patung Bunda Maria yang digambarkan sedang menggendong Kanak-kanak Yesus itu merupakan persembahan khusus dari Bapak Paulus Witak bagi umat Lingkungan St. Agustinus. Ratusan Umat Lingkungan St. Agustinus Antusias Ikuti Pemberkatan Patung Maria Bintang Laut Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Pastor Paroki St. Fransiskus Asisi Lamahora, RP. Asterius Sangu Ate, CSsR diikuti dengan khusyuk oleh umat beriman dan berjalan dengan baik hingga akhirnya ditutup dengan pemberkatan patung dan berkat penutup bagi umat. Dalam homilinya, pastor asal Sumba itu mengajak umat untuk memahami secara benar makna devosi kepada Bunda Maria. Mengutip ungkapan Latin Per Mariam Ad Iesum (melalui Maria menuju Yesus), ia menegaskan bahwa Bunda Maria tidak pernah mengarahkan umat beriman berhenti pada dirinya sendiri. Sebaliknya, Maria senantiasa membimbing umat untuk datang kepada Yesus Kristus, Putranya. Karena itu, devosi kepada Maria yang autentik harus selalu berpusat dan bersumber pada Kristus dan menemukan kepenuhannya dalam kehidupan iman, terutama melalui perayaan Ekaristi. “Devosi kepada Maria harus membuat kita semakin dekat dan bersatu dengan Yesus,” demikian inti pesan yang disampaikan Pastor Asterius. Ia mengingatkan umat agar tidak memisahkan devosi Maria dari Ekaristi. Rosario, novena, ziarah, dan berbagai bentuk penghormatan kepada Bunda Maria bukanlah tujuan pada dirinya sendiri, melainkan sarana untuk membawa umat semakin mengenal, mencintai, dan mengikuti Kristus. Ekaristi sendiri merupakan sumber dan puncak kehidupan Kristiani, sehingga devosi Maria seharusnya menuntun umat semakin mencintai dan mengambil bagian secara sungguh-sungguh dalam perayaan Ekaristi. Lebih jauh, beliau menegaskan bahwa devosi Maria juga tidak boleh berhenti pada kesalehan lahiriah. Doa Rosario yang tekun, misalnya, harus berbuah dalam pertobatan konkret, yakni kesediaan mengampuni, membangun persaudaraan, menghindari permusuhan, memperjuangkan kebaikan bersama, serta menghadirkan kasih Kristiani dalam kehidupan sosial. Tanpa perubahan hidup, devosi berisiko berubah menjadi sekadar rutinitas dan formalitas keagamaan yang kehilangan daya transformasinya. Maria justru mengajar umat untuk mendengarkan dan melaksanakan kehendak Yesus: “Apa yang dikatakan-Nya kepadamu, buatlah itu!” (Yoh. 2:5). Pada akhir perayaan, pater Aster kembali mengajak seluruh umat Lingkungan St. Agustinus untuk menjadikan Patung Maria Bintang Laut bukan sekadar simbol penghormatan, tetapi juga pengingat perjalanan iman. Setiap kali memandang Maria yang menggendong Yesus, umat diajak menyadari bahwa pusat iman Katolik bukanlah Maria, melainkan Kristus yang dibawanya. Karena itu, devosi yang sejati kepada Bunda Maria hendaknya membangkitkan kerinduan yang semakin besar untuk mencintai Yesus, bertobat, mengasihi sesama, serta setia menghadiri dan menghayati Ekaristi sebagai sumber dan puncak kehidupan Kristiani. ***(RAM/WN-01) Post Views: 12 Navigasi pos Kapela Retak Akibat Gempa, Umat Stasi Compang Gelar Ibadat Pertama di Halaman