Reka Lamak

Reka’ Lamak: Ketika Oha’ Keka Jadi Altar Persaudaraan dalam Reuni VII dan Munas YAMALI II 2026 di Lamakera

Lamakera, 7 Juli 2026

FlLORES TIMUR : WARTA-NUSANTARA.COM—  Di Lamakera, 7/7/2026 tersimpan sebuah kebenaran sederhana yang kerap tenggelam di tengah riuh rendah politik dan debat intelektual yang ingar-bingar. Bahwa peradaban sejati tidak dibangun di atas mimbar pidato, teori para pakar, ahli, guru besar, maupun filsuf. Peradaban justru lahir dari kesederhanaan: duduk bersila di atas tikar, berbagi rasa, dan makan bersama.

Siang itu, langit di atas punggung Masjid Al-Ijtihad Lamakera tampak biru pekat. Angin semilir berhembus pelan, menerobos tiang-tiang kokoh masjid dengan lembut. Di teras masjid yang tumpah ruah, terlihat pemandangan harmonis: orang tua, ibu-ibu, hingga anak-anak duduk berjajar rapi di atas Oha’ Keka (tikar pandan halus anyaman tangan). Aroma khas Lamakera menyeruak; ada watabi’tin, lawar, belelang, sop ikan belimbing, hingga wata wenger, bersanding dengan hidangan nasional. Ini adalah Reka’ Lamak, agenda penutup yang dipilih masyarakat Lamakera setelah melewati hari-hari melelahkan penuh diskusi panas dalam Musyawarah Nasional (Munas) II YAMALI dan keriuhan Reuni VII. Alih-alih bubar dengan dingin, mereka memilih ritual sakral ini untuk mengikat kembali tali persaudaraan.

Di atas “altar” Oha’ Keka tersebut, hidangan yang tersaji bukan sekadar pengisi perut, melainkan menu persaudaraan yang memperkuat ikatan kekerabatan. Dr. Alwan Suban, M. Ag. Ketua  YAMALI yang terpilih secara aklamasi, menjelaskan esensi dari tradisi ini. Baginya, Reka’ Lamak yang dilangsungkan di atas tikar anyaman daun pandan adalah wujud nyata dari berbagi. Bukan hanya berbagi makanan dan minuman, tetapi berbagi dalam segala aspek kehidupan. Tradisi ini, menurutnya, merupakan simbol identitas yang mengakar kuat.

Bagi masyarakat Lamaholot, khususnya Lamakera, reka’ lamak bukanlah hal baru. Namun, dalam konteks pasca-Munas II YAMALI 2026, kehadirannya membawa pesan filosofis yang lebih dalam. Alwan menekankan bahwa tradisi ini mewakili ketahanan leluhur yang hidup dari hasil bumi dan laut tanpa memerlukan kemewahan berlebihan. Setelah berhari-hari membahas visi besar, strategi pembangunan, hingga melontarkan kritik tajam terhadap kepemimpinan, masyarakat diajak kembali pada hal paling dasar: rasa kenyang yang dibagi bersama.

Di atas piring-piring yang berisi reka’ lamak, sekat-sekat sosial runtuh. Tidak ada lagi jarak antara Profesor dan nelayan, antara Anggota DPR dan pemuda desa. Semua duduk sejajar, menyuap dengan tangan yang sama. Dalam keadaaan itulah ego individu luluh. Berbagi makanan dari sumber yang sama membuat hati sulit untuk menyimpan dendam. Tandas  Alwan.

Pergeseran suasana dari debat ide menuju detak jantung yang sama terasa begitu nyata. Munas II YAMALI 2026 memang bukan acara tanpa gesekan. Kritik pedas, pertanyaan tajam soal integritas, serta kekhawatiran akan masa depan peradaban Lamakera mewarnai jalannya musyawarah. Lebih lanjut Udrus Maloko yang dihubungi secara terpisa mengungkapkan bahwa Hal itu wajar dan menjadi tanda bahwa Lamakera adalah komunitas yang hidup dan peduli. Namun, demokrasi dan musyawarah akan terasa kering jika tidak dibasahi oleh emosi kemanusiaan. Reka’ Lamak hadir sebagai penyeimbang. Jika siang hari adalah arena bagi “otak” untuk bekerja keras membedah masalah, maka momen makan bersama ini adalah waktu bagi “hati” untuk pulih.

Prof. Dr. Taher Maloko menambahkan pandangan yang mendalam mengenai hal ini. Ia menegaskan bahwa tradisi makan bersama mengajarkan bahwa sebelum menjadi lawan debat, setiap individu adalah saudara se-makanan. Hidangan Reka’ Lamak beraltar Oha’ Keka yang disajikan dengan penuh kasih oleh para ibu dan kaum bapak Lamakera menjadi pengingat bahwa di balik semua jabatan dan gelar, manusia tetaplah makhluk yang butuh saling merawat.

Nilai rekonsiliasi lewat rasa juga disampaikan oleh salah satu tokoh dari suku pito. Ia menyampaikan pesan bijak bahwa orang yang sudah makan bersama, lidahnya tidak akan lagi tajam untuk menyakiti. Reka’ Lamak berfungsi sebagai rekonsiliasi lunak yang menghapus sisa-sisa ketegangan selama proses musyawarah. Dengan menikmati Reka’ Lamak di atas Oha’ Keka, warga Lamakera secara sadar membuat kontrak sosial baru: bahwa apapun keputusan yang diambil dalam Munas II akan dijalankan dengan semangat kebersamaan, bukan perpecahan.

Momen ini juga menjadi transfer nilai penting bagi generasi muda. Di era di mana interaksi sosial sering kali terjadi lewat layar kaca dan makanan instan, Reka’ Lamak mengajak seluruh warga Lamakera untuk kembali menyentuh tanah, menghargai proses pengolahan pangan lokal, dan memahami bahwa kebahagiaan tertinggi adalah ketika bisa tertawa bersama sambil mengunyah makanan warisan leluhur.

Kini, Reuni VII dan Munas II YAMALI 2026 telah usai. Pertanyaannya, apakah semangatnya akan bertahan? Jawabannya terletak pada bagaimana masyarakat memaknai Reka’ Lamak. Reka’ Lamak tidak boleh hanya menjadi kenangan sesaat saat duduk dan makan bersama, melainkan harus dijadikan metafora untuk kehidupan bermasyarakat ke depan: sederhana, mengenyangkan, dan selalu tersedia untuk dibagi.

Lamakera sedang melangkah menuju Indonesia Emas 2045. Jalan itu panjang dan berat. Lamakera membutuhkan pemimpin yang tidak hanya pintar berargumen, tetapi juga memiliki hati yang luas seperti altar Oha’ Keka dan semangat Reka’ Lamak, siap menampung siapa saja tanpa pandang bulu.

Terima kasih, Lamakera. Terima kasih untuk Sole Lilin, Dana Dani, Reka’ Lamak dan Oha’ Keka-nya. Karena di situlah, kita belajar bahwa persaudaraan itu mahal. Jangan biarkan bulir-bulir air mata basahi pipi karena perpecahan. Sukamu adalah sukaku, dukamu adalah dukaku. Sebagaimana hakikat yang terpatri: peradaban tidak dibangun di atas mimbar pidato, melainkan di atas tikar makan bersama.

#RAM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *