Santri, Bahasa, dan Tantangan Era Digital Oleh: Muh. Sulaiman Rifai Aprianus Mukin, M. Pd. CPIM Pendahuluan WARTA-NUSANTARA.COM— Setiap kali Hari Santri diperingati, kita kembali diingatkan pada peran besar santri dan pesantren dalam sejarah Indonesia. Santri bukan sekadar mereka yang belajar di pondok pesantren. Santri adalah bagian penting dari perjalanan bangsa: ikut memperjuangkan kemerdekaan, merawat kehidupan keagamaan, membangun masyarakat, serta menanamkan nilai gotong royong dan cinta tanah air. Namun, peringatan Hari Santri tidak boleh berhenti pada upacara, apel, atau penggunaan pakaian khas santri. Hari Santri harus menjadi momen refleksi: apakah santri dan madrasah sudah cukup siap menghadapi perubahan zaman? Pertanyaan ini menjadi semakin penting karena Hari Santri berdekatan dengan semangat Bulan Bahasa. Keduanya saling berkaitan erat. Santri membutuhkan bahasa untuk memahami ilmu, menyampaikan dakwah, membangun pergaulan, dan menghadirkan gagasan di tengah masyarakat. Bahasa Indonesia, bahasa daerah, bahasa Arab, bahasa Inggris, hingga bahasa digital, semuanya dapat menjadi jembatan bagi santri untuk berkontribusi lebih luas. Di sisi lain, dunia santri dan madrasah kini menghadapi tantangan yang tidak ringan. Teknologi berkembang sangat pesat. Informasi berpindah dalam hitungan detik. Media sosial telah menjadi ruang belajar, ruang dakwah, sekaligus ruang perdebatan. Kecerdasan buatan pun mulai mengubah cara kita membaca, menulis, bekerja, dan belajar. Perubahan ini membawa peluang besar. Namun tanpa bekal ilmu dan akhlak yang kuat, teknologi juga dapat menimbulkan masalah. Masalah: Santri di Tengah Banjir Informasi Saat ini, banyak santri sudah terbiasa menggunakan (smartphone) telepon pintar dan media sosial. Mereka dapat menonton kajian ulang dari berbagai penjuru, membaca buku digital, mengikuti kursus, dan berkomunikasi dengan komunitas yang lebih luas. Pesantren dan madrasah pun memiliki peluang untuk memperkenalkan karya dan kegiatan mereka kepada masyarakat luas. Namun, muncul persoalan mendasar: kemampuan menggunakan gawai belum tentu sama dengan kemampuan memahami informasi. Seseorang bisa sangat aktif di media sosial, tetapi belum mampu membedakan berita benar dan berita palsu. Bisa saja seseorang cepat membagikan ceramah, tetapi belum memahami isi dan sumbernya. Bisa menghasilkan tulisan dalam waktu singkat, tetapi belum mampu mempertanggungjawabkan kebenarannya. Tantangan terbesar santri di era digital bukan sekadar soal ada atau tidaknya jaringan internet. Yang lebih penting adalah bagaimana menggunakan internet secara kritis, bijak, dan bertanggung jawab. Pembahasan A. Prinsip Tabayun di Era Digital Santri perlu dibekali kemampuan menganalisa berbagai informasi, mengenali sumber yang dapat dipercaya, memahami perbedaan pendapat, dan tidak mudah terpancing judul provokatif. Dalam tradisi keilmuan Islam, sikap ini bukan hal baru. Prinsip tabayun; memeriksa kebenaran berita adalah pedoman hidup yang sangat relevan saat ini. Tabayun perlu diterapkan dalam kehidupan digital: sebelum membagikan informasi, tanyakan: Apakah ini benar? Apakah bermanfaat? Apakah cara menyampaikannya baik? Apakah dapat merugikan orang lain? B. Bahasa sebagai Kekuatan Utama Bahasa sering dianggap sekadar alat berbicara dan menulis. Padahal, bahasa adalah alat berpikir. Orang yang menguasai bahasa dengan baik lebih mudah menyusun gagasan, menjelaskan persoalan, dan meyakinkan orang lain dengan cara yang santun. Di sinilah semangat Bulan Bahasa perlu tumbuh di pesantren dan madrasah. Tradisi pesantren sebenarnya memiliki modal literasi yang kuat: membaca kitab, menyimak penjelasan guru, mencatat, berdiskusi, dan menyampaikan kembali ilmu. Tradisi ini perlu diperluas menjadi budaya membaca dan menulis yang sesuai kebutuhan zaman. Santri perlu diberi ruang menulis: opini, artikel, berita, cerpen, puisi, naskah khutbah, hingga materi dakwah digital. Tulisan yang baik bukan yang berbahasa rumit, tetapi yang mampu menjelaskan hal penting dengan bahasa yang mudah dipahami tanpa kehilangan makna. Kemampuan berbahasa juga memperkuat dakwah. Dakwah digital tidak cukup hanya menyampaikan dalil, namun perlu disampaikan dengan bahasa yang relevan, santun, dan memahami pembaca. Bahasa yang kasar dan menghakimi justru dapat menjauhkan masyarakat dari pesan kebaikan. C. Mengisi Ruang Digital, Bukan Sekadar Menonton Pesantren dan madrasah tidak boleh menjadi penonton di dunia digital. Jika tidak diisi dengan ilmu dan kebaikan, ruang tersebut akan dipenuhi konten yang belum tentu mendidik. Sudah saatnya pesantren membangun wadah media sendiri: situs web, majalah digital, podcast, kanal video, atau akun media sosial yang dikelola secara konsisten. Isinya tidak melulu ceramah; dokumentasi kegiatan, kisah alumni, penjelasan kitab, wawancara dengan tokoh, dan karya santri juga sangat berharga. Tentu, ini memerlukan pendampingan. Guru dan pengasuh perlu membimbing etika bermedia sosial, keamanan data, hak cipta, dan cara menyampaikan kritik secara konstruktif. Kebebasan berekspresi selalu disertai tanggung jawab. Di ruang digital, adab tetap menjadi yang utama. D. Menyikapi Kecerdasan Buatan Kecerdasan buatan dapat membantu mencari ide, menerjemahkan teks, menyusun kerangka tulisan, dan menemukan referensi pembelajaran. Namun, ia tidak boleh menggantikan proses berpikir manusia. Santri tetap harus membaca, memahami, memverifikasi, dan mengembangkan setiap informasi yang diperoleh. Menyalin hasil kecerdasan buatan tanpa pemeriksaan dapat menimbulkan kesalahan dan melemahkan kejujuran akademik. Teknologi boleh membantu pekerjaan, tetapi ilmu, akhlak, dan tanggung jawab tetap berada di tangan manusia. E. Langkah Konkret yang Diperlukan Pertama bagi Pemerintah sudah sepatutnya memberikan dukungan kepada pesantren dan madrasah tidak hanya dengan perangkat, tetapi juga jaringan internet yang baik, pelatihan guru, perpustakaan digital, dan pendampingan pembuatan konten pendidikan. Kedua kepada Pesantren dan Madrasah menciptakan suasana literasi sebagai budaya sehari-hari. Mulai dari hal sederhana: waktu membaca rutin, majalah dinding digital, klub menulis, diskusi isu terkini, dan pengelolaan satu kanal media secara konsisten. Kualitas pendampingan lebih penting daripada kemewahan alat. Ketiga kurikulum memuat ilmu agama dengan kehidupan nyata, lingkungan, ekonomi, teknologi, kesehatan, dan kehidupan berbangsa, agar pendidikan tidak terlepas dari kenyataan masyarakat. Kesimpulan Hari Santri dan Bulan Bahasa adalah momentum untuk memperkuat kembali peran santri di tengah arus perubahan zaman. Santri memiliki fondasi berharga: tradisi keilmuan, kedalaman agama, akhlak, dan semangat pengabdian. Kekuatan ini perlu dipadukan dengan kemampuan berbahasa, kecakapan literasi digital, dan keberanian berkarya. Santri masa kini tidak cukup hanya mampu mengaji dan menggunakan teknologi. Mereka harus mampu membaca informasi secara kritis, menulis dengan jelas, berdakwah dengan santun, serta memanfaatkan media digital untuk menyebarkan kebaikan. Pesantren dan madrasah tidak perlu memilih antara tradisi dan teknologi. Tradisi menjadi fondasi, teknologi menjadi sarana memperluas manfaat. Yang terpenting adalah menjaga arah dan nilai di dalamnya. Pada akhirnya, santri yang dibutuhkan bangsa adalah santri yang berilmu, berakhlak, melek bahasa, cakap digital, dan peduli pada persoalan bangsa. Santri tidak boleh hanya hadir saat peringatan hari besar. Santri harus hadir di tengah perubahan; membawa ilmu, menebarkan kedamaian, dan menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat. Data Penulis Jasa Literasi: Muh. Sulaiman Rifai Aprianus Mukin, M. Pd.CPIM, Lahir di Ende, 27 April 1970. Adalah ASN di Kantor Kementerian Agam Kabupaten Lembata, NTT. Sedang merintis Taman Baca Savana Iqra (TBSIq) dan aktif sebagai “Penakar Literasi” dalam komunitas penulis Lembata. Aktif menulis opini/headline di berbagai media online. Penulis dapat dihubungi melalui Facebook (@Rifaiaprian) dan Istagram (@Rifai_mukin) *** Post Views: 20 Navigasi pos Merawat Bumi, Memelihara Kehidupan Struktur Kelas dan Dominasi Feodal-Kapitalistik dalam Novel Pengakuan Pariyem Karya Linus Suryadi AG