SELAMAT JALAN P. NICHOLAS STRAWN, SVD Oleh : Robert Bala WARTA-NUSANTARA.COM— Pertemuan di bulan Mei 2025 itu terasa baru kemarin. Saat saya melangkah masuk ke kamar perawatannya, ia langsung menyapa hangat, “Robert, how are you?” Begitulah kami selalu bersapaan. Setiap kali rasa rindu datang dan ia menelepon, bahasa Inggris hampir selalu menjadi jembatan percakapan kami. Orang tua sering bilang, semakin lanjut usia seseorang, semakin ia merindukan masa kecilnya—masa ketika bahasa ibunya kembali bergema. Hari ini, hanya 15 menit setelah kabar duka itu datang, saya terpaksa menepi. Air mata menetes tanpa kompromi. Betapa dalamnya ikatan batin yang terjalin antara saya dan Pater Nicholas Strawn, SVD. Saya teringat salah satu kebiasaan indahnya yang tak pernah pudar oleh waktu. Setiap Natal, ia selalu sibuk menyiapkan kartu ucapan untuk orang-orang tersayang. Bahkan ketika era kartu Natal mulai tergerus zaman dan pandemi melanda, Pater Niko tetap memegang teguh tradisi itu. Dengan mengandalkan tongkatnya, ia setia berjalan ke kantor pos. Kartu yang dikirimnya di awal Januari baru akan tiba di Jakarta akhir Februari, tetapi kehangatannya selalu sampai tepat waktu. Jejak Emas dan Intan Imamat Tahun 2012, saya merasa sama sekali tidak pantas ditunjuk sebagai Ketua Panitia Perayaan 50 Tahun Imamatnya. Saya masih orang ‘asing’ di Jakarta, dengan rekam jejak hidup yang membuat saya merasa tak layak memimpin pesta seseorang yang begitu setia. Namun, dorongan dan kepercayaan banyak orang menguatkan saya. Pesta emas itu akhirnya tidak hanya dirayakan sekali, melainkan tiga kali! Diawali di Waikomo pada bulan Februari dengan dukungan penuh panitia Jakarta, dilanjutkan perayaan di Jakarta pada Mei 2012, dan puncaknya dirayakan secara besar-besaran dua bulan kemudian di Paroki Lerek. Tak terhitung berapa besar dana yang terkumpul dan berapa banyak orang yang terlibat. Semua bergerak murni karena cinta pada sosok yang telah membaptis sebagian besar dari mereka. Demi Pater Niko, semua orang rela memberi melampaui batas kemampuan. Satu dekade berlalu. Menyambut 60 tahun imamatnya pada 2022, ia bersurat meminta bantuan saya membuat desain kartu Perayaan Intan. Ia melampirkan kutipan favoritnya, “Tuhan adalah Gembalaku.” Setelah desain diselesaikan oleh sdr. Carel Use Bataona, Pater Niko bertanaya berapa biaya yang harus ia siapkan. Saya hanya menjawab, “Pater, cukup doakan saya, keluarga, dan misi Yayasan Koker Niko Beeker agar menjadi perpanjangan kasih Tuhan.” Ia membalasnya dengan rasa syukur yang mendalam. Kesederhanaan yang Murni Menilai kemiskinan seorang imam sering kali sulit; batas antara janji kaul dan praktik hidup nyata sangatlah tipis. Namun pada diri Pater Niko, kemiskinan itu nyata dan murni. Ia pernah memiliki sepeda motor tua untuk rute Lerek–Watuwawer. Motor itu kerap mogok dan terpaksa ditinggal di pinggir jalan, ditutupi daun kelapa. “Montir” langganannya pun lebih sering membongkar baut tanpa tahu cara memasangnya kembali. Ia tak pernah membeli motor baru; sebagai gantinya, ia mengandalkan kuda beban dan kuda tunggang yang badannya kian kurus karena menahan beban. Bahkan hingga masa pensiunnya, ia hidup sangat bersahaja. Parabola dan TV di kamarnya bukanlah barang mewah yang ia beli, melainkan peninggalan almarhum Pater Arnold Duppont, SVD yang wafat tahun 2005. Selama 21 tahun, Pater Niko memanfaatkan peninggalan itu agar tidak mubazir. Mengukir Nama, Merajut Persaudaraan Manusia akan pergi dan peristiwa akan berlalu, namun teladan bisa diabadikan. Itulah alasan di balik berdirinya Yayasan Koker Niko Beeker—menggabungkan dua nama besar dalam satu wadah perjuangan. Pater Niko sempat menyaksikan perjuangan yayasan ini selama hampir satu dekade. Ia bahkan hadir mendampingi dan memberkati gedung sekolah kami yang saat itu masih darurat. Dari sosok Pater Niko, kami belajar arti persatuan sejati—yang sering ia sebut sebagai PKK (Persatuan Konok Kerapung). Nilai ini lahir dari kebiasaannya menyatu dengan warga, menikmati tuak dari gelas tempurung kelapa (konok kerapung). Ia bukan tipe “Pastor Sak Semen” yang sibuk mengajak umat mengagumi bangunan megah. Baginya, keimanan yang riil tumbuh saat kita duduk bersama, berbagi makanan dan minuman, serta menikmati keindahan lembah, bukit, dan pantai bersama-sama. Kebahagiaan baginya sesederhana itu. Kerinduan yang Tertinggal Tak heran jika sosoknya begitu menghujam di ingatan. Sejak perayaan 50 tahun imamatnya 14 tahun lalu, ada kerinduan agar kelak jasadnya dimakamkan di Lerek, cinta pertamanya. Namun, karena niat itu tak pernah dituangkan secara tertulis, keputusan akhir mengantarkannya beristirahat di Damian Lewoleba. Apakah ada yang salah? Tidak juga. Dalam percakapan pribadi, Pater Niko pernah berbisik bahwa ia cukup dikuburkan di Lewoleba agar umat Boto dan Lerek sama-sama mudah menjenguknya. Meski demikian, bayangan indah itu tetap ada: alangkah indahnya jika Niko bisa berbaring di samping Beeker, menyatukan nama Yayasan Koker secara fisik, bukan sekadar ide. Namun, seperti Pater Beeker yang baru kembali ke Watuwawer setelah puluhan tahun, siapa tahu suatu hari nanti Pater Niko juga akan “pulang” ke Lerek? Ah, itu hanya bisikan rindu. Yang pasti, kini Pater telah kembali ke pelukan Sang Pencipta. Mengingat kegemarannya disapa dalam bahasa Inggris, izinkan saya menitipkan bait perpisahan ini: “Build strong bonds of brotherhood in life, and they will remain unbroken long after you’re gone.” (Binalah ikatan persaudaraan yang kuat semasa hidup, maka ikatan itu akan tetap utuh meski engkau telah tiada.) Selamat jalan, Pater Niko. ( Jakarta, 4 Agustus 2026) Post Views: 22 Navigasi pos Pastor Nicholas Strawn, SVD Tutup Usia, Umat Dekenat Lembata Berduka, Karya Misi Tetap Abadi