SI ANAK NAKAL ITU TELAH PERGI (Eulogi alm Sinun Petrus Manuk) Oleh : Robert Bala Robert Bala WARTA-NUSANTARA.COM— Kabar duka itu datang bagai petir di Minggu pagi (16/8/2026). Kabar itu tidak saja mengejutkan saya tetapi tidak berlebihan untuk mengatakan, hampir seluruh bumi Flobamora berduka:wafatnya Sinun Petrus Manuk. Baru beberapa hari sebelumnya saat mengikuti pemberitaan tentang gagalnya satu kontingen kabupaten untuk bia ikut jambore nasional di Jakarta. Anak-anak menangis di dekap ama Petu, demikian nama sapaan di masa kecil. Saya ingin berkontak tetapi hati kecil merem. Biarkan setelah usai kegiatan baru saya hubungi. Tetapi kenyataan berbicara lain. Saya terpaksa bertemu dengannya di tengah duka ini. Tetapi apa yang dapat saya kisahkan tentang dirinya? Saya tentu tidak akan mulai dari meja birokrat karena sepanjang perjuanganya bergelut di sana. Alasan lain karena meja birokrat kerap dingin dan ‘dibuat-buat’. Juga bukan dari pódium kehormatan tetapi itu kerap didesain untuk menutup keaslian diri. Saya juga tidak menulis bahwa Pit Manuk adalah pendorong dan inisiator berdirinya SMA SKO SAN BERNARDINO (SMARD) di Lembata. Saya justru hanya menulis dengan menarik garis waktu jauh ke belakang, ke kurun waktu berpuluh-puluh tahun silam di kaki Gunung Ile Lewotolok, Lembata. Ketika pria kelahiran 27 April 1961 menginjak usia 9 tahun (1970), ia ‘diungsikan’ ke Lerek karena dianggap sebagai ‘anak nakal’. Ia pengungsian (untuk tidak mengatakan pembuangan), karena meski di pulau Lembata tetapi jarak tak pernah berbohong. Untuk mencapai desa di kaki gunung Ile Mauraja, dibutuhkan jalan kaki seharian penuh bahkan 2 hari kalau harus melewati Lewoleba. Ada keyakinan, di tangan Guru Wadan dan anaknya guru Maxi, Petu bisa ‘ditransformasikan’. Tetapi apakah ia memang seorang anak nakal? Dalam kacamata psikologi modern, apa yang dulu dilabeli sebagai “kenakalan” pada diri anak sesungguhnya adalah manifestasi dari extraordinary energy atau energi berlebih. Anak-anak yang dianggap “nakal” sering kali adalah individu yang memiliki rasa ingin tahu tinggi, daya eksplorasi di atas rata-rata, dan imajinasi yang melampaui batas-batas konvensional di sekitarnya. Petu kecil memberontak bukan karena ia pembangkang, melainkan karena imajinasinya melompati apa yang bisa disediakan oleh lingkungan sekitarnya pada waktu itu. Pikiran dan jiwanya terlalu luas untuk sekadar mengurung diri dalam keterbatasan kampung halaman. Keputusan mengirimnya ke Lerek, meski berbalut rasa pasrah orang tua, pada hakikatnya menjadi takdir tersembunyi yang menyalurkan energi raksasa itu ke dalam wadah yang tepat: pendidikan dan disiplin hidup. “Kenakalan masa kecilnya bukanlah noda, melainkan magma energi imajinasi yang kemudian membakar semangat pengabdiannya sepanjang hayat.” Terbukti, jalan ke Lerek kemudian menjadi batu loncatan agar ia bisa melanjutkan SMP di Kedang, SMA di Lewoleba, dan kemudian kuliah hingga meraih gelar ‘doktorandus’ bidang BK di Kupang. Ia pun meniti karier dari guru bahkan wakil kepala sekolah. Kemudian ia menempati jabatan struktural di dinas Kota Kupang dan kemudian nyaris terkendali lagi. Ia dipercayakan sebagai Kadis Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Sosial, Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa hingga Penjabat Bupati. Lebih Bercahaya Mengupas perjalanan hidup Sinun Petrus Manuk tidak bisa tidak mengarahkan kita pada tiga hal. Pertama. Petu adalah orang yang mengekslorasikan seluruh dirinya secara jujur sejak di usia sangat dini. Ia tidak tampil ‘seadanya’ agar dinilai baik tetapi menunjukkan apa yang ada padanya termasuk apa yang didambakan ada. Eksplorasi diri semasa kecil ini bahkan menjadi modal yang jarang dimiliki banyak pemimpin. Di masa kecil, Petu dengan energi berlebih berusaha dimaksimalkan. Di atas pohon tuak, ia bisa membuat sole yang oleh orang Lerek dianggap luar biasa, meski kemudian Petu jujur mengakui, kadang dia bernyanyi tanpa makna. Petu menjadi berbeda dari banyak orang yang ‘pura-pura baik’ dan ketika diberi kesempatan memimpin, keaslian dirinya terungkap. Petu mewujudkan dirinya di tempat yang seharusnya. Ia menyelami pergulatna hidup yang membuatnya menjadi seorang ahli yang memahami kedalaman jiwa, perilaku, dan bimbingan manusia. Ia tidak hanya menyembuhkan dan memahami jalan pikirannya sendiri, tetapi juga mendedikasikan hidupnya untuk mendidik dan membimbing orang lain. Kedua, Petu adalah politisi yang merasa. Kekuasaan adalah dambaan setiap politisi. Pelbagai cara termasuk yang tak lazim bisa digunakan. Pertimbangan akal sehat kerap diberi urutan ‘kesekian’, tetapi tidak sama halnya dengan Pit Manuk. Di tahun 2023 dan awal 2024 ketika begitu banyak calon ingin menjadi orang nomor 1 di Lembata, ia memilih jalan tak lazim. Dia berbisik: “Ama Bala Kedang, kami dari Ile Ape dua orang sehingga kalau saya paksakan diri, meskipun didorong parpol tertentu, tetapi saya lebih memilih elegan untuk mengundurkan diri”. Saya terdiam dan merasa sebuah keanehan. Di sebuah kabupaten miskin seperti Lembata ada 6 paslon yang ingin maju dengan peluang masing-masing 20%. Hanya orang bijak yang bisa sampai pada tahap seperti Petu. Tetapi di sinilah yang membuatnya berbeda, menjiwai politik dengan rasa yang dalam. Ketiga, Pit adalah pribadi yang cerah ketika masih berada dalam birokrasi dan kian bercahaya ketika tidak hadir. Frase ini sangat abdikan buatnya terinspirasi dari sebuah ungkapan spanyol: “brillar por su ausencia”. Banyak orang ketika tidak ada justru membuat orang lain merasa ada sesuatu yang kurang. Rasa ada sesuatu yang kurang itulah yang begitu terasa setelah ia pensiun di 2021. Banyak yang merasa, pengabadian dan ketulusan dan kerja keras seorang Pit Manuk menjadikannya berbeda. Tak heran kepercayaan sebagai Ketua Kwarda Pramuka NTT menjadi pembenarannya. Kehadirannya ingin diperpanjang hingga hanya wafat yang bisa memaksanya melepaskan tanggungjawab ini hingga tidak berlebihan kalau mengatakan, ia meninggal dalam tugas pengabadian ini. Kini, kita harus membiarkannya istirahat dalam damai. Si Anak Nakal itu harus diizinkan pergi. Selamat jalan Bapa Kaka Petu Manuk. Perjalanan panjangmu dari Lerek hingga puncak pengabdian telah selesai dengan sangat husnul khatimah dan gemilang. Pengabdianmu abadi dalam ingatan kami. Rest in Peace, Ama Pit. Robert Bala. Sahabat dan Co-Pendiri SMA SKO SAN BERNARDINO Lembata – NTT. Penulis buku Rancang Diri Raih Karier. Post Views: 11 Navigasi pos Kemerdekaan 100 Persen Belum Tuntas, Sebuah Refleksi HUT ke-81 RI