Si Elang Dari Korsika, Penakluk Benua Biru Abad – 19 Oleh: Ferdinand Fransesco Palendeng Mahasiswa Pendidikan Sejarah, Universitas Sanata Dharma Jogjakarta Dari Pulau Kecil Menuju Eropa WARTA-NUSANTARA.COM— Anak bernama Leon, seorang bocah yang lahir pada 15 Agustus 1769 di sebuah pulau yang sangat asing di dekat semenanjung Latium, bekas peradaban besar dunia. Disitulah dia berdiri dan bertumbuh menjadi seorang pria yang gagah, cerdas, dan menarik. Tapi sering dirundung saat menempuh bangku pendidikan dengan ejekan pendek dari teman – temannya. Pendeknya tubuh kecil itu, tidak sebanding dengan tajamnya pemikiran seorang pria yang punya ambisi besar karena inspirasinya terhadap para penakluk hebat dunia jaman dahulu. Ketertarikan akan sejarah dan matematika, membuat Leon melanjutkan studi ke dunia militer ke Prancis dan lulus dengan membanggakan sebagai seorang perwira. Selama studi, Leon sudah bisa berbahasa Prancis dan sudah berbaur dengan budaya Prancis hingga akhirnya, muncul semangat akan kebangsaan dan tekad untuk menjadi seorang pemimpin yang bersinar. “Ambisi besar adalah hasrat dari karakter hebat”. “Mustahil adalah kata yang hanya bisa ditemukan dalam kamus orang bodoh” – Napoleon Bonaparte. Siapa yang akan menyangka kalau ada orang yang ditakdirkan menjadi seorang penguasa yang terkenal?? Atas dasar apa menyerah tanpa tahu hasil akhir akan menjadi seperti apa?? Hari ini aku mungkin kalah. Tapi apakah besok aku harus kalah juga?? Perwira yang Menjadi Kaisar Revolusi Prancis menjadi langkah awal seorang pemudan bernama Leon untuk menuju ke tampuk kekuasaan. Raja yang digulingkan dan dihukum mati, rakyat yang mendapatkan kedaulatan, dan militer mendapat perhatian membuat Leon berubah menjadi politikus ulung yang menjadikan dia seorang Jenderal. Bara api Eropa berkobar untuk sekian kalinya dan terjadilah perang koalisi yang membuat Prancis dikeroyok negara koalisi. Leon tampil sebagai seorang perwira yang peka dan brilian, berhasil mengalahkan musuh – musuh negara yang membuat namanya semakin populer. Kemenangan demi kemenangan, menjadikan dia seperti sesosok Elang karena pandangannya yang visioner dalam mencapai tujuan. Saat kelompok politik Prancis digantikan, Leon tampil sebagai orang terkemuka menyatakan dirinya sebagai seorang ‘konsul’ yang akan membuat Prancis menuju era ke-emasan. Dia bahkan mengangkat dirinya sebagai seorang penguasa absolut dengan menyandang gelar “Caesar” sebagai bentuk intervensi langit dan legitimasi kekuasaan atas Kekaisaran Prancis dan sebagai penguasa Eropa. Puncak Kekuasaan Menuju Ke Kehidupan Sebatang Kara Ambisi demi ambisi dan kejayaan yang gemilang telah diraih oleh seorang pemuda Tangguh dari Korsika dan berhasil menjadi penakluk Eropa, akhirnya bisa mencapai titik kandas juga. Kesalahan dalam invasi militer ke Negeri Beruang Merah menjadi mimpi buruk sang Kaisar. Logistik yang menipis, perjalanan yang sangat jauh, badai salju yang ganas, taktik bumi hangus dari Russia, membuat Leon perlahan mulai kehilangan reputasinya sebagai seorang penguasa. Kekalahan demi kekalahan yang dibalas akibat penghinaan yang dirasakan negara – negara koalisi Eropa saat melawan Leon, akhirnya terbayar tuntas. Pria Tangguh itu kalah dalam memperjuangkan bangsa dan negaranya yang membuat dia harus diasingkan ke sebuah pulau Elba, namun karena tekad pantang mundur akhirnya kembali ke Prancis pada tahun 1815. Nostalgia dan euphoria dirasakan oleh tentara dan rakyat Prancis setelah melihat pemimpin mereka yang sudah lama dikenang, akhirnya kembali. Sang Elang mencoba kembali namun kini paruhnya tidak lagi seruncing dulu dan kepakan sayapnya sudah tidak sekencang seperti dahulu. Leon harus mengkaui kekalahan telak dalam Perang Waterlo pada Juni 1815. Dia diberi kesempatan untuk hidup namun diasingkan kesebuah tempat yang mungkin orang manapun belum tentu menjangkaunya. Disebuah pulau terpencil bernama St. Helena, Napoleon hidup sebatang kara bersama dengan asistennya dan menulis – menulis serta mengingat kembali perjalanan hidupnya. Dari seorang anak yang dirundung karena tubuh pendek, menjadi seorang perwira militer hingga berpangkat Jenderal, menjadi politikus dan konsul, dan puncaknya menjadi seorang Kaisar dan penakluk Eropa. Dia menghabiskan sisa hidupnya di pulau itu dan akhirnya, si Elang harus “terbang lebih tinggi” menuju langit ke – 7 pada 5 Mei 1821. Perjalanan hidup seorang pemuda dari Korsika meninggkalkan kisah inspirasi dan ironi. Orang bernama Leon yang dijuluki Si Elang mampu terbang dan menjadi seorang penguasa yang menaklukan benua Eropa dengan cengkaramannya sendiri. Sangat disayangkan, seorang patriot sejati yang mengabdikan hidupnya bagi kehormatan negara dan kedaulatan bangsanya akibat inferior negara – negara koalisi, membuat dirinya jatuh dan akhirnya meninggal dunia di sebuah pulau terpencil. Jasadnya mungkin terurai, namun tekadnya masih ada hingga sekarang. Dunia mengenalnya sebagai guru militer, The Master of Europe, Sang Kaisar, dan Si Elang karena pandangan visionernya, bahkan banyak bangsa yang meneladani kepemimpinannya yang menjadi fondasi negara modern dengan hukum yang adil, serta kedaulatan yang kokoh. Dunia mengenal pemuda itu dengan nama ‘Napoleon Bonaparte’. *** Ferdinand Fransesco Palendeng, Penulis adalah Mahasiswa Pendidikan Sejarah, Universitas Sanata Dharma Jogjakarta Post Views: 27 Navigasi pos Menggugat Gurita Oligarki dan Korupsi Birokrasi: Refleksi Kritis atas Skandal Korupsi, Pertanahan, dan Urgensi UU Perampasan Aset