Struktur Kelas dan Dominasi Feodal-Kapitalistik dalam Novel Pengakuan Pariyem Karya Linus Suryadi AG Oleh : Febrian Sakukut Mahasiswa Universitas Sanata Dharma Jogjakarta_(244114035) WARTA-NUSANTARA.COM— Novel Pengakuan Pariyem: Lir-Ilir ing Tiyang Alit (1981) karya Linus Suryadi AG merupakan salah satu mahakarya sastra Indonesia yang memotret kehidupan masyarakat Jawa secara mendalam melalui bentuk prosa liris. Cerita ini menghadirkan tokoh utama Pariyem, seorang perempuan desa dari Wonosari, Gunungkidul, yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga (babu) di keluarga bangsawan (ndagelan) Yogya, yaitu keluarga Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Cokrosentono. Jika dibaca melalui kacamata teori Marxis, teks ini bukan sekadar narasi kepasrahan atau estetika budaya Jawa, melainkan sebuah medan artikulasi pertentangan kelas sosial dan manifestasi kesadaran palsu (false consciousness) yang dilanggengkan oleh ideologi feodal-kapitalistik. Fokus Analisis: Dikotomi Kelas dan Kesadaran Palsu Dalam perspektif Marxis, struktur masyarakat terbagi berdasarkan kepemilikan alat-alat produksi (means of production) yang melahirkan dua kelas utama: kelas dominan (borjuis/feodal) dan kelas terekploitasi (proletar). Dalam novel ini, fokus analisis tertuju pada bagaimana hierarki kelas dibentuk dan dipertahankan. Keluarga KRT Cokrosentono mewakili kelas penguasa yang memiliki modal materiil, status sosial tinggi, serta simbol-simbol kebudayaan feodal. Sementara itu, Pariyem mewakili kelas proletar rural yang tidak memiliki modal materiil selain tenaga kerjanya. Eksploitasi terhadap Pariyem terjadi tidak hanya dalam bentuk fisik dan ekonomi, tetapi juga dalam bentuk eksploitasi seksual dan reproduksi kelas. Hal yang sangat krusial dalam analisis Marxis terhadap novel ini adalah bagaimana Pariyem menerima eksploitasi tersebut dengan rasa syukur dan bangga. Sikap nrimo (menerima pasrah) dan kesetiaan Pariyem kepada majikannya merupakan manifestasi nyata dari kesadaran palsu. Hegemoni budaya feodal Jawa (konsep ngabdi dan empan papan) dimanfaatkan oleh kelas penguasa untuk menumpulkan kesadaran kelas proletar, sehingga penindasan struktural tidak dirasakan sebagai bentuk eksploitasi, melainkan sebagai wujud bakti dan takdir. Bukti Tekstual: Relasi Produksi dan Eksploitasi Kelas Pertentangan dan diferensiasi kelas dalam Pengakuan Pariyem tercermin secara gamblang melalui relasi kerja, subordinasi sosial, dan eksploitasi tubuh. Ketimpangan Ekonomi dan Posisi Kelas Proletar Posisi Pariyem sebagai kelas pekerja yang menjual tenaga kerjanya demi bertahan hidup terlihat sejak awal narasi. Latar belakang kemiskinan Wonosari memaksa Pariyem bertolak ke kota untuk menjadi buruh domestik. Linus Suryadi AG mengabarkan ketergantungan ekonomi ini melalui pengakuan Pariyem: “Ya, saya Pariyem, lahir di Wonosari Gunungkidul… bekerja sebagai babu di rumah Kanjeng Raden Tumenggung Cokrosentono di Ngayogyakarta…” Di sini, identitas Pariyem didefinisikan oleh status pekerjaannya (*babu*). Posisi ini menempatkannya pada lapisan terbawah dalam hirarki relasi produksi rumah tangga feodal. Pariyem tidak memiliki hak atas alat produksi dan sepenuhnya bergantung pada upah serta belas kasihan sang priyayi. Eksploitasi Tubuh dan Seksualitas Pertentangan kelas mencapai puncaknya ketika relasi kekuasaan melintasi ranah intim. Ario den Bagus Noto, anak laki-laki dari KRT Cokrosentono yang mewakili kelas priyayi muda, melakukan hubungan seksual dengan Pariyem hingga Pariyem hamil. Dalam kacamata Marxis, tubuh Pariyem dijadikan komoditas yang dinikmati oleh kelas penguasa tanpa kesetaraan posisi. Pengakuan Pariyem saat mengalami peristiwa tersebut menunjukkan bagaimana legitimasi feodal memadamkan resistensi kelas: “Lalu Den Bagus Noto memegang tangan saya… Dan saya pasrah, ya, pasrah duka dan suka. Sebab saya ini cuma seorang babu, dan beliau seorang den bagus…” Frasa “sebab saya ini cuma seorang babu” menunjukkan secara gamblang internalisasi ketimpangan kelas. Pariyem menganggap hubungan seksual yang tidak setara tersebut sebagai bagian dari pengabdian dan kewajarannya sebagai bawahan. Bahkan ketika ia melahirkan anak dari hubungan tersebut, ia tidak menuntut pernikahan atau hak hukum yang setara, melainkan merasa bernasib baik karena keturunannya akan memiliki darah priyayi. Ideologi Feodal sebagai Instrumentalisasi Kelas Kebudayaan dan etika Jawa dalam teks ini berfungsi sebagai suprastruktur yang memperkuat basis ekonomi feodal. Pariyem memegang teguh filsafat hidup Jawa seperti nrimo ing pandum (menerima bagian) dan sumarah (pasrah). “Kewajiban babu adalah ngabdi, melayani priyayi dengan tulus dan ikhlas…” Ideologi ngabdi ini mengubah eksploitasi nilai lebih (surplus value) dari tenaga kerja Pariyem yang bekerja dari pagi hingga malam mengurus rumah tangga menjadi seolah-olah kewajiban moral yang mulia. Dengan demikian, ideologi feodal berhasil mencegah lahirnya kesadaran kelas (class consciousness) pada diri Pariyem. Kesimpulan Kritis Melalui pembacaan Marxis, Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi AG menyajikan potret yang sangat kompleks dan tragis mengenai relasi kelas dalam masyarakat Jawa modern-transisional. Teks ini menunjukkan bagaimana sistem feodalisme bersekutu dengan struktur ekonomi untuk menindas kelas bawah tanpa perlu menggunakan kekerasan fisik yang terbuka. Penindasan dilakukan secara halus melalui indoktrinasi nilai-nilai budaya dan spiritualitas. Secara kritis dapat disimpulkan bahwa tokoh Pariyem mengalami alienasi (keterasingan) tingkat tinggi: Terasing dari hasil kerjanya: Anak yang dilahirkannya tetap berada dalam bayang-bayang hirarki priyayi dan ketidakpastian status sosial. Terasing dari hakikat kemanusiaannya: Tubuh dan keberadaannya dinilai sejauh memberikan kenyamanan dan pelayanan bagi kelas priyayi. Terasing dari kelasnya: Pariyem tidak merasakan solidaritas dengan sesama kelas pekerja karena merasa terangkat derajatnya secara semu akibat dekat dengan lingkaran priyayi. Meskipun novel ini sering dipuji karena keberhasilannya merekam kearifan lokal dan romantisme kehidupan rakyat kecil (tiyang alit), analisis Marxis mengungkapkan sisi gelap di balik romantisme tersebut. Pengakuan Pariyem sejatinya adalah dokumen sastra yang memperlihatkan bagaimana kesadaran palsu bekerja secara efektif: membuat kaum terindas mencintai sistem yang menindas mereka. Linus Suryadi AG secara tidak langsung membongkar mekanisma hegemoni budaya yang menjadikan eksploitasi kelas terlihat wajar, indah, dan wajar diterima dalam masyarakat. *** Post Views: 17 Navigasi pos Santri, Bahasa, dan Tantangan Era Digital DUA WAJAH