TUMBUH DI TENGAH ILALANG
Oleh : Robert Bala
WARTA-NUSANTARA.COM— Tepat di depan rumah, tumbuh sebuah blewah. Tidak ada yang menanamnya. Tidak ada yang merawatnya secara khusus. Mungkin bijinya terlempar begitu saja lalu jatuh di sela-sela rumput liar dan ilalang.

Tempat itu sebenarnya bukan tempat yang baik untuk hidup. Rumput liar tumbuh lebih tinggi, merebut cahaya matahari dan menyerap air lebih cepat. Batangnya kecil dan tampak lemah. Tetapi anehnya, blewah itu tetap tumbuh.
Pelan-pelan.
Diam-diam.
Seolah melawan keadaan.
Ia tidak memilih di mana ia jatuh, tetapi ia memilih untuk tetap hidup.
Blewah kecil itu mengingatkan saya pada tiga mahasiswa dari kampung saya di Lembata, NTT. Mereka berasal dari keluarga sederhana dan hidup dalam banyak keterbatasan. Namun mereka punya satu keyakinan: pendidikan bisa mengubah hidup.
Kesempatan akhirnya datang ketika sebuah Akademi Perhotelan di mana saya mengurus pendirian dan menangani dalam 3,5 tahun awal membuka ruang bagi mereka untuk belajar. Hari-hari ini mereka sudah berada di semester 5 dan 7. Bahkan minggu lalu, tepatnya tanggal 5 dan 6 Mei, mereka berangkat ke Taiwan untuk magang selama satu tahun dengan penghasilan sekitar Rp15 juta per bulan.



Melihat mereka pergi, saya kembali teringat pada pohon blewah di depan rumah itu.
Banyak anak sebenarnya seperti blewah yang tumbuh di tengah ilalang. Mereka lahir dalam keadaan sulit: ekonomi terbatas, lingkungan yang kurang mendukung, atau pendidikan yang minim. Mereka tidak memilih keadaan itu. Tetapi di dalam diri mereka ada kemauan kuat untuk bertumbuh.
Psikolog Carol Dweck menyebutnya sebagai growth mindset, yaitu keyakinan bahwa seseorang tetap bisa berkembang meskipun keadaan tidak sempurna. Masa depan, menurutnya, tidak hanya ditentukan oleh bakat atau fasilitas, tetapi oleh kemauan untuk terus belajar dan bertahan. Karena itu, sering kali orang bertahan bukan karena hidupnya mudah, tetapi karena ia menolak menyerah.
Nelson Mandela pernah berkata, “Kesulitan menghancurkan sebagian orang, tetapi membentuk sebagian lainnya.” Kalimat ini terasa dekat dengan kehidupan banyak anak hari ini. Ada anak yang belajar di rumah sempit. Ada yang harus membantu orang tua bekerja sebelum membuka buku pelajaran. Ada yang berjalan jauh ke sekolah. Bahkan ada yang tumbuh tanpa banyak dukungan, tetapi diam-diam menyimpan mimpi besar.
Mereka seperti blewah di tengah ilalang: tidak diperhatikan, tetapi terus bertumbuh.
Kadang kita terlalu sibuk melihat mereka yang sudah berhasil, sampai lupa bahwa di pinggir kehidupan ada banyak “benih” yang sedang berjuang keras untuk hidup. Mereka hanya membutuhkan sedikit ruang, sedikit perhatian, dan seseorang yang percaya bahwa mereka bisa berkembang.
Ahli pendidikan Paulo Freire mengatakan bahwa pendidikan adalah jalan pembebasan. Pendidikan bukan sekadar soal nilai atau ijazah, tetapi kesempatan untuk keluar dari keterbatasan hidup. Karena itu, seorang anak yang terus mau belajar sebenarnya sedang melawan nasib. Ia sedang berkata kepada hidup: “Aku mungkin lahir dalam keterbatasan, tetapi aku tidak mau berhenti di sana.”
Pohon blewah itu mengajarkan satu hal sederhana: hidup selalu menemukan jalan bagi mereka yang mau bertahan. Walau tumbuh di tanah yang keras, akarnya terus mencari air dan daunnya terus mencari cahaya. Sampai akhirnya, ia menghasilkan buah.
Begitulah kehidupan. Kadang harapan justru tumbuh di tempat yang tidak diduga. Karena itu, jangan pernah meremehkan anak-anak yang hidup dalam keterbatasan. Bisa jadi hari ini mereka masih tersembunyi di balik “ilalang” kehidupan. Tetapi di dalam diri mereka sedang tumbuh ketangguhan, mimpi, dan harapan besar yang suatu hari akan berbuah. Tugas kita adalah jangan menjadi ilalang yang menutupi mereka. Jadilah orang yang memberi ruang, memberi cahaya, dan memberi keyakinan bahwa mereka juga berhak tumbuh.
Robert Bala. Penulis buku INSPIRASI HIDUP, Pengalaman Kecil Sarat Makna. Penerbit Kanisius Cetakan ke-2.












