MEMPERSOALKAN RESILIENSI Belajar dari Kematian dr. Icha Pakaenoni Oleh : Robert Bala WARTA-NUSANTARA.COM— “Bukan yang paling kuat yang mampu bertahan hidup, melainkan yang paling mampu beradaptasi terhadap perubahan.” Kalimat yang kerap dikaitkan dengan Charles Darwin ini mengingatkan bahwa kemampuan bertahan hidup lebih ditentukan oleh kemampuan beradaptasi daripada sekadar kekuatan. Meninggalnya dr. Icha Pakaenoni menggugah keprihatinan publik. Dugaan adanya tekanan dari luar yang memengaruhi kondisi psikologisnya perlu ditelusuri secara objektif melalui proses hukum dan investigasi yang profesional. Jika benar terdapat tekanan yang berkontribusi terhadap memburuknya kesehatan mental korban, hal itu merupakan persoalan serius yang tidak boleh diabaikan. Dokter, sebagaimana profesi lainnya, tetaplah manusia yang dapat mengalami depresi, kelelahan emosional (burnout), dan kehilangan harapan ketika menghadapi tekanan berkepanjangan. Namun, di tengah empati yang mendalam, kita juga perlu menjaga kejernihan berpikir. Apabila perhatian hanya tertuju pada faktor eksternal, seolah-olah mengakhiri hidup menjadi konsekuensi yang tak terelakkan dari tekanan. Cara pandang seperti ini justru dapat mengaburkan kenyataan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk bangkit. Di sinilah pentingnya resiliensi, yakni kemampuan bertahan, beradaptasi, dan bertumbuh di tengah kesulitan. Menurut Martin Seligman, pelopor psikologi positif, kesejahteraan psikologis merupakan fondasi kehidupan yang sehat. Individu yang memiliki kesejahteraan psikologis yang baik akan lebih mampu mengelola emosi, bangkit dari kegagalan, dan mempertahankan harapan. Resiliensi bukan berarti terbebas dari penderitaan, tetapi mampu bertumbuh melaluinya. Persoalan ini semakin relevan bagi generasi milenial dan Generasi Alpha. Mereka menghadapi persaingan akademik yang ketat, tuntutan berprestasi, tekanan media sosial, serta fenomena Fear of Missing Out (FOMO) yang membuat banyak orang menilai dirinya berdasarkan pengakuan orang lain. Tekanan tersebut diperberat oleh ketidakpastian ekonomi, konflik keluarga, dan tekanan sosial maupun politik. Tanpa resiliensi yang memadai, kondisi ini dapat berkembang menjadi stres berkepanjangan, burnout, depresi, hingga gangguan kesehatan mental. Risiko tersebut semakin besar pada profesi-profesi yang setiap hari bekerja di bawah tekanan tinggi, seperti tenaga kesehatan, guru, dosen, polisi, tentara, jurnalis, pekerja sosial, dan petugas layanan darurat. Meski demikian, tidak semua stres berujung pada gangguan mental, dan tidak setiap kematian tenaga kesehatan dapat langsung dikaitkan dengan tekanan psikologis. Setiap kasus memerlukan penjelasan medis dan investigasi yang cermat. Psikiater Boris Cyrulnik menjelaskan bahwa luka batin yang mendalam tetap memungkinkan seseorang untuk pulih apabila memperoleh dukungan sosial, menemukan makna hidup, dan memiliki relasi yang sehat. Dengan kata lain, penderitaan tidak selalu menjadi akhir dari kehidupan. Menjadi Tangguh Apabila benar terdapat tekanan eksternal yang berkontribusi terhadap meninggalnya dr. Icha, maka pihak yang bertanggung jawab harus diproses sesuai hukum. Namun, pembelajaran dari peristiwa ini tidak boleh berhenti pada pencarian siapa yang bersalah. Yang lebih penting adalah membangun ketahanan psikologis agar mampu menghadapi berbagai tekanan kehidupan. Pertama, kecerdasan intelektual harus berjalan seiring dengan kecerdasan emosional. Kemampuan mengelola emosi, membangun hubungan sosial yang sehat, dan mempertahankan harapan sama pentingnya dengan prestasi akademik. Kebijaksanaan lahir ketika logika dan emosi berkembang secara seimbang. Kedua, ketangguhan merupakan hasil dari proses. Melalui konsep grit, Angela Duckworth menunjukkan bahwa keberhasilan jangka panjang lebih banyak ditentukan oleh ketekunan dan daya tahan menghadapi kesulitan daripada kecerdasan semata. Pandangan ini diperkuat oleh Carol Dweck melalui teori growth mindset, yang menegaskan bahwa mereka yang percaya dirinya masih dapat berkembang akan lebih mampu menghadapi tantangan dibandingkan mereka yang menganggap kemampuan sebagai sesuatu yang tetap. Ketiga, menjadi tangguh bukan berarti harus selalu tampak kuat. Resiliensi bukanlah kemampuan memendam emosi atau menyelesaikan semua persoalan sendirian. Brené Brown menegaskan bahwa keberanian sejati justru tampak ketika seseorang berani mengakui kerentanannya. Mengatakan “Saya lelah” atau “Saya membutuhkan bantuan” bukanlah kelemahan, melainkan langkah awal menuju pemulihan. Resiliensi berarti mengetahui kapan harus bertahan, kapan beristirahat, dan kapan meminta pertolongan. Pada akhirnya, pelajaran terbesar dari tragedi ini adalah pentingnya membangun ketahanan diri sebagai bagian dari pendidikan dan budaya bangsa. Dunia tidak akan pernah bebas dari tekanan maupun ketidakadilan. Namun, manusia tetap memiliki kebebasan untuk menentukan bagaimana ia meresponsnya. Viktor Frankl mengingatkan, “Ketika kita tidak lagi mampu mengubah keadaan, kita ditantang untuk mengubah diri kita.” Pesan ini bukan untuk membenarkan ketidakadilan, melainkan mengingatkan bahwa selalu ada ruang untuk memperkuat daya tahan batin. Di tengah dunia yang semakin penuh tekanan, kita memang membutuhkan sistem yang lebih adil dan lingkungan kerja yang lebih manusiawi. Namun, pada saat yang sama, kita juga membutuhkan pribadi-pribadi yang semakin resilien. Sebab, hidup tidak selalu dapat kita kendalikan, tetapi cara kita merespons kehidupan selalu dapat kita pelajari. Robert Bala. Penulis buku Sebelum Bunuh Diri: Data, Deteksi, dan Pencegahan Bunuh Diri Remaja (Penerbit Ledalero, Mei 2025). Post Views: 33 Navigasi pos Ketika Validasi Menjadi Tujuan; Bantuan Hidup (Jaminan Hidup) Tereliminasi