Belanda Kritik Belanda: Ketika Multatuli Membantah Kolonialisme Lewat Buku Max Havelaar

Oleh :  Ferdinand Fransesco Palendeng

Mahasiswa Pendidikan Sejarah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma – Yogyakarta

WARTA-NUSANTARA.COM—  “Perut orang Belanda, diisi dengan penderitaan kaum pribumi. Mau tunggu mereka binasa baru sadar?. Kalaupun sudah binasa, lagian tidak ada yang peduli….”. Mungkin inilah kutipan yang cocok dalam menyikapi karya Multatuli soal kritik terhadap pemerintah kolonial dengan sistem yang menindas dan tidak adil, dalam sudut pandang post kolonial Indonesia. Ditengah dominasi cerita tentang kejayaan Belanda, muncul sebuah karya yang lahir dari seorang Belanda yang mengkritik sistem yang sedang dijalankan oleh bangsanya: Max Havelaar karya Multatuli.

Yang menarik, kritik ini tidak muncul dari pribumi yang merasa tertindas. Tapi dari seorang mantan pejabat kolonial Belanda, Eduard Douwes Dekker (nama samara Multatuli). Ia membongkar kontradiksi kolonialisme mengenai sistem yang dinilai membawa kemajuan, pada kenyataan justru membawa penderitaan terhadap penduduk asli yang dikuasai.

Ada sebuah bab yang sangat kuat dalam karya Multatuli dalam buku Max Havelaarnya. Multatuli tak hanya mengkritik penuh penyalahgunaan kekuasaan di Hindia Belanda. Tapi, kritiknya mengarahkan ke masyarakat Belanda yang menikmati keuntungan dari kolonialisme tanpa melihat penderitaan manusia dibaliknya. Dalam kacamata postkolonial, bab yang dimaksud adalah bab ke – 18 dalam buku Max Havelaar terjemahan H.B. Jassin, menyajikan persoalan yang bukan hanya wilayah, tapi soal relasi dan kuasa. Belanda sebagai pusat kekuasaan memperoleh keuntungan yang besar diwilayah jajahan, sedangkan masyarakat pribumi menjadi pihak yang menanggung beban itu. Multatuli berusaha membongkar hubungan yang timpang dengan kritik yang menunjukan kemakmuran dibangun lewat eksploitasi rakyat jajahan.

Kritik Multatuli penting karena menentang narasi kolonial yang selama ini menggambarkan “tanggung jawab moral” bangsa Eropa. Kenyataannya seperti dalam buku Max Havelaar, sistem kolonial melahirkan ketidakadilan, pemerasan, dan penderitaan.  Lewat cerita kehidupan rakyat Lebak, Banten dan kisah Saijah dan Adinda, pembaca diajak melihat bahwa rakyat pribumi bukan hanya objek administrasi koloni, melainkan manusai yang punya hak dan martabat. Dalam kajian post kolonial, tindakan Multatuli dapat dipahami sebagai wujud perlawanan terhadap wacana dominan dari kolonialisme. Ia memakai tulisan sebagai alat narasi melawan narasi pemerintah Belanda. Kalau kolonialisme membangun citra bahwa kekuasaan membawa kebaikan, Max Havelaar menunjukkan bahwa kekuasaan menghasilkan ketidakadilan yang luar biasa.

Karya Multatuli juga punya kelemahan. Ia bicara dari sudut pandang orang Eropa. Suara rakyat pribumi dalam buku itu masih disampaikan dari sudut pandang pengarang. Inilah yang menjadi perdebatan dalam kajian postkolonial, karena yang terpenting adalah apakah kelompok terjajah betul – betul  bisa menyuarakan diri sendiri, atau masih harus pakai perantara atas pihak yang punya akses luas dalam penulisan sejarah. Meski begitu, kelemahan tersebut tidak menghilangkan arti penting dari Max Havelaar. Buku itu menjadi salah satu karya yang membuka kesadaran akan ketidakadilan kolonial. Dia menunjukkan kalau kritik terhadap penjajahan tak selalu  dari pihak terjajah, namun juga dapat muncul dari individu yang merasakan ketidakadilan dalam sistem yang mereka jalani.

Pada akhirnya, karya Multatuli lewat Max Havelaar adalah sebuah ironi sejarah yang dimana orang Belanda mengkritik Belanda, pejabat kolonial yang melawan sistem kolonial, dan sebuah karya sastra menjadi salah satu alat untuk mempertanyakan legitimasi penjajahan. Dalam perspektif postkolonial, karya Multatuli bukan soal sebuah bacaan, tapi bagaimana sebuah narasi bisa menggugat kekuasaan dan membuka ruang bagi suara mereka yang selama ini ditekan oleh sejarah. ***

Ferdinand Fransesco Palendeng  Penulis adalah Mahasiswa Pendidikan Sejarah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma – Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *