Senyapnya Shaf-shaf Al-Ijtihad dan Baburrahmah: Ketika Bukit Peradaban Bersinar, Namun Hati Generasi Muda Gelap Catatan yang Terabaikan Oleh: Muh. Sulaiman Rifai Aprianus Mukin, M.Pd., CPIM WARTA-NUSANTARA.COM— Ada ironi yang memilukan di Lamakera hari ini. Di satu sisi, kita gembar-gembor tentang cita-cita besar menjadikan “Bukit Peradaban” sebagai obor yang memancarkan cahaya kemegahan, intelektualisme, dan spiritualitas ke seluruh Nusantara. Kita menggelar reuni akbar, musyawarah nasional, dan pesta budaya yang megah. Namun, di sisi lain, jika Anda melangkah masuk ke Masjid Al-Ijtihad maupun Musholla Baburrahmah pada waktu shalat berjamaah, Anda akan disambut oleh keheningan yang menyakitkan: shaf-shaf yang renggang, kosong, dan sepi. “Senyapnya Shaf-shaf Al-Ijtihad dan Baburrahmah” bukan sekadar metafora puitis. Ia adalah diagnosa keras atas dekadenisi moral yang sedang menggerogoti akar peradaban Lamakera dari dalam. Ini adalah paradoks yang harus kita hadapi dengan jujur: Mungkinkah satu pertanyaan berikut melukai rasa ataukah memprovokasi kesadaran kolektif; “Bagaimana mungkin sebuah masyarakat mengklaim diri sebagai episentrum peradaban Islam, sementara pusat-pusat ibadahnya kehilangan ruh di saat-saat paling sakral?” Paradoks Kemewahan Reuni vs. Realitas Moral Seperti ditulis dalam refleksi “Reuni dan Akrobat Politik”, sejatinya reuni adalah momen “temu kangen”, “kerinduan emosional”, dan upaya “merajut nilai-nilai humanis”. Ia seharusnya menjadi metode “Jalan Pulang” untuk mendedikasikan loyalitas tanpa pamrih dan membingkai cinta nan tulus kepada kampung halaman. Namun, fakta di lapangan sering kali bertolak belakang. Momentum reuni dan acara-acara besar lainnya kerap terjebak dalam “akrobat politik”. Ia berubah menjadi panggung pamer kemewahan, ajang konsolidasi kekuasaan, dan barter kepentingan elektoral. Atraksi budaya yang rancak dan penyambutan tokoh politik yang meriah justru menutupi esensi moral dari pertemuan tersebut. Masyarakat Lamakera, yang dikenal sebagai kelompok cendikia dan terdidik, ternyata mudah terhipnotis oleh “sign manipulatif” dan simbol-simbol hedonis. Nalar rasional terkikis oleh euforia sesaat, sementara masalah substansial dibiarkan mengendap seperti bara dalam sekam. Sementara para elit sibuk dengan “order politik” dan pencitraan di atas panggung, apa yang terjadi di sudut-sudut kampung? Jawabannya ada pada generasi yang seharusnya menjadi pewaris estafet peradaban ini. Generasi Muda: Terlihat Kalem, Namun Bringas di Balik Layar Lamakera terkenal dengan semboyan “Adat Dijunjung, Agama Disanjung”. Kita bangga menyebut diri masyarakat agamis dan religius. Namun, etos religiusitas itu kini tampak “nanar” atau samar-samar di tengah gempuran modernitas yang segregatif. Bukti paling nyata ada di Masjid Al-Ijtihad dan Musholla Baburrahmah. Shaf-shaf yang seharusnya padat oleh kaum muda yang haus akan ilmu dan ketenangan spiritual, kini justru didominasi oleh kesenyapan. Ke mana perginya mereka? Mereka ada di sudut-sudut kampung. Anak-anak muda yang secara fisik terlihat tampan, berpakaian rapi, dan terlihat “kalem” di media sosial, ternyata menyimpan sisi gelap yang mengerikan. Di balik penampilan yang modis, banyak dari mereka tenggelam dalam budaya miras (minuman keras) dan judi online. Mereka menjadi bringas, kasar, dan kehilangan adab ketika berada di ruang privat yang jauh dari tatapan publik. Lebih parah lagi, muncul perilaku menentang orang tua, meremehkan pemerintah, dan menginjak-injak tradisi adat istiadat yang selama ini menjadi benteng moral Lamakera. Filosofi lama bahwa “anak kampung adalah anak semua orang” kini runtuh digantikan oleh ego individualistik: “Itu anak saya, urusan kamu apa?” Akibatnya, fungsi kontrol sosial yang dulu efektif kini lumpuh total. Ini bukan cerita tentang mayoritas, melainkan tentang “segelintir orang” yang jumlahnya kian mengkhawatirkan dan hampir ditemukan di setiap sudut kampung. Fenomena ini adalah derivasi dari “kecelakaan moralitas” akibat kegagalan sistem pendidikan yang hanya menekankan “Moral Knowing” (pengetahuan moral) namun mengabaikan “Moral Feeling” (perasaan moral) dan “Moral Behavior” (perilaku moral). Pendidikan yang Gagal Melahirkan Manusia Beradab Kritik Hossein Nasr tentang “Nestapa Masyarakat Modern” sangat relevan di sini. Sistem pendidikan kita seolah-olah hanya memproduksi “generasi mekanis” pintar secara akademis, mampu meraih gelar, namun hampa secara spiritual dan emosional. Ketika domain perasaan dan perilaku moral tersingkir, maka lahirlah kejahatan moral. Anak muda Lamakera mungkin hafal teori-teori peradaban, fasih berdiskusi tentang visi Lamakera Beradab 2045, tetapi mereka gagal dalam hal paling dasar: menghormati orang tua dan menjaga diri dari kemudaratan. Angka putus sekolah cenderung meningkat dan rendahnya kesadaran akan pentingnya pendidikan karakter semakin memperparah keadaan. Pendidikan dianggap sekadar “produk bank” untuk mencari kerja, bukan proses “humanisasi” (Malik Fadjar) atau “pembebasan” (Paulo Freire) dari kebodohan moral. Menuju Solusi: Menghidupkan Kembali Ruh Peradaban Menyadari kondisi ini, YAMALI pasca-Munas II 2026-2029 tidak boleh lagi terjebak pada rutinitas seremonial. Agenda “Senyapnya Shaf-shaf” harus menjadi Pekerjaan Rumah utama. Berikut adalah langkah konkret yang mendesak dalam catatan pribadi saya, sebagai anak Lewo anak Lamakera: 1. Revitalisasi Fungsi Masjid: Ubah Masjid Al-Ijtihad dan Musholla Baburrahmah dari sekadar tempat ibadah ritual menjadi pusat pembinaan karakter. Luncurkan program mentoring intensif pasca-Reuni VII dan Munas II Yamali 2026 yang melibatkan diaspora ulama, dan tokoh adat. Isi kekosongan shaf dengan kegiatan positif yang relevan bagi pemuda. 2. Restorasi Kontrol Sosial Berbasis Adat: YAMALI bersama tokoh adat tujuh suku harus memfasilitasi dialog untuk menyepakati kembali norma “anak kampung adalah anak semua orang”. Buat mekanisme perlindungan bagi warga yang berani menegur demi kebaikan, dan tegakkan sanksi adat yang edukatif bagi pelanggar norma, termasuk orang tua yang abai. 3. Pendidikan Karakter Terintegrasi: Gandeng guru madrasah dan guru sekolah untuk mengintegrasikan nilai-nilai lokal dan agama ke dalam kurikulum non-akademik. Fokus pada Moral Feeling dan Moral Action, bukan sekadar hafalan. Libatkan orang tua dalam pelatihan parenting yang menekankan pentingnya keterbukaan terhadap intervensi komunitas. 4. Pemberdayaan Ekonomi Pemuda: Alihkan energi pemuda dari miras dan judi ke aktivitas produktif. Gunakan Koperasi YAMALI sebagai inkubator bisnis yang memberikan pendampingan nyata, bukan hanya modal. Ciptakan alternatif ruang publik yang aman dan menarik bagi generasi muda. Penutup: Dari Retorika ke Aksi Nyata Keberadaban Lamakera tidak akan pernah tercapai jika kita terus membiarkan miras, judi, dan kesepian shaf masjid menggerogoti sendi-sendi masyarakat di balik topeng “kesalehan simbolik”. Peradaban tidak dibangun di atas gedung megah atau rekening organisasi yang gemuk, melainkan di atas shaf-shaf shalat yang rapat dan generasi muda yang bermartabat. Mari kita buktikan bahwa Reuni VII dan Munas II YAMALI 2026 bukan sekadar puncak euforia, melainkan awal dari gerakan purifikatif yang nyata. Gerakan untuk mengembalikan marwah “Anak Kampung adalah Anak Semua Orang”. Gerakan untuk mengisi kembali shaf-shaf yang senyap dengan generasi yang sadar, taat, dan beradab. Karena pada akhirnya, Bukit Peradaban hanya akan benar-benar bersinar jika hati generasi mudanya telah terang benderang oleh iman, ilmu, dan akhlak mulia. Jika tidak, semua retorika hanyalah debu yang akan terbawa angin zaman. Wallahu a’lam bi-sawab. Biodata: Muh. Sulaiman Rifai Aprianus Mukin, M. Pd.CPIM, Lahir di Ende, 27 April 1970. Bertugas sebagai ASN di Kantor Kementerian Agama, Kabupaten Lembata, NTT. Saat ini merintis Taman Baca Savana Iqra (TBSIq) dan aktif sebagai “Promotor Literasi” di komunitas penulis Lembata. Aktif menulis opini/headline di berbagai media online. Penulis dapat dihubungi melalui Facebook (@Rifaiaprian) dan Instagram (@Rifai_mukin) Post Views: 47 Navigasi pos Mengapa Pemda Nagekeo (Diduga) Memelihara Komplotan Mafia?