Muh. Sulaiman Rifai Aprianus Mukin, M. Pd.CPIM

Dari Bukit Kabir ke Bukit Peradaban: Jejak Sejarah, Sensitivitas Tauhid, dan Jalan Tengah Ahmad Yohan

Oleh : Muh. Sulaiman Rifai Aprianus Mukin, M. Pd. CPIM

Najib Mahfouz pernah berkata, “Kekuatan sesungguhnya tidak ditunjukkan hanya dalam kemampuan mengalahkan lawan, tetapi juga dalam kemampuan untuk mengakui kebaikan mereka tanpa kedholiman atau pengingkaran.”

Kutipan ini menjadi lensa jernih untuk membaca perjalanan panjang identitas Lamakera. Di balik hiruk-pikuk politik lokal dan dinamika organisasi, tersimpan sebuah kisah tentang nama, sejarah, dan sensitivitas spiritual yang krusial. Kisah tentang bagaimana sebuah bukit kecil di Lamakera berevolusi dari sekadar nama geografis menjadi simbol peradaban, melewati perdebatan teologis, hingga akhirnya menemukan titik temu yang mempersatukan tujuh suku.

Akar Sejarah: Raja Ibrahim Dasi dan Lahirnya “Bukit Kabir”

Jauh sebelum gagasan modern muncul, benih identitas Lamakera sebenarnya telah ditanam oleh leluhur. Nama “Bukit Kabir” bukanlah ciptaan baru, melainkan warisan sejarah dari Raja Ibrahim Dasi, penguasa Lamakera di masa silam (tahun berkuasa tidak tercatat secara spesifik dalam arsip umum, namun jejaknya hidup dalam ingatan kolektif tujuh suku).

Raja Lamakera Ibrahim Dasi, dalam kebijaksanaannya, melibatkan tujuh suku utama di Lamakera untuk merumuskan identitas wilayah mereka. Ia menamai pusat kekuasaan dan simbol kejayaan itu sebagai Bukit Kabir, yang secara harfiah berarti “Bukit yang Besar”. Penamaan ini bukan sekadar label geografis, melainkan pernyataan politik bahwa Lamakera adalah entitas yang signifikan.

Pada masanya, Kerajaan Lamakera berdiri kokoh di tengah kepungan geopolitik yang kompleks. Di satu sisi, Lamakera dikelilingi oleh empat kerajaan tetangga di Flores Timur: Kerajaan Labala (Lomblen sekarang Lembata), Kerajaan Adonara, Kerajaan Terong (Pulau Adonara), dan Kerajaan Lohayong (Solor). Di sisi lain, arus pengaruh dari kerajaan-kerajaan di Alor juga terus bergulir. Di tengah himpitan tersebut, Bukit Kabir menjadi simbol ketahanan dan kebangkitan Kerajaan Lamakera.

Abdul Syukur ID: Penjaga Api di Kalangan Terbatas

Estafet pemikiran ini kemudian diteruskan oleh putra Raja Ibrahim Dasi, yakni Abdul Syukur ID. Ia adalah sosok yang mencoba menghidupkan kembali gagasan cemerlang ayahnya di era modern. Namun, pada masa Abdul Syukur, istilah “Bukit Kabir” belum menjadi wacana publik yang luas. Gagasan ini masih bersifat elitis, hanya bergema di kalangan terbatas, khususnya para tetua dari tujuh suku yang memahami akar sejarahnya. Bagi masyarakat umum, Lamakera saat itu masih berupa komunitas biasa, belum memiliki narasi besar yang menyatukan visi kolektif.

Ali Taher Perasong: Ambisi Perubahan dan Jeratan Teologis

Lamakera mulai meloncat ke panggung yang lebih luas ketika estafet beralih ke tangan Ali Taher Perasong. Dengan gaya kepemimpinan yang agresif dan visioner, Ali Taher berusaha mentransformasi “Bukit Kabir” menjadi ikon peradaban. Namun, dalam upayanya memperkuat identitas historis, ia mengubah nomenklatur tersebut menjadi “Bukit Ibrahim Dasi”.

Langkah ini, meski berniat mulia untuk menghormati leluhur, ternyata menuai kontroversi diam-diam yang berpotensi menjadi bom waktu. Masyarakat Lamakera, yang 100% beragama Islam, memiliki sensitivitas tinggi terhadap isu akidah. Penamaan sebuah tempat suci atau simbol peradaban dengan nama manusia, terutama seorang raja dari masa lalu, dianggap oleh sebagian kalangan sebagai bentuk pengkultusan individu (ghuluw).

Dalam pandangan tauhid yang ketat, hal ini dikhawatirkan dapat menjerumuskan umat pada praktik syirik, atau setidaknya mendekati batas-batas yang dilarang dalam aqidah Islam. Kekhawatiran bahwa generasi mendatang akan menyembah atau memuja nama Ibrahim Dasi alih-alih menyembah Allah SWT, menciptakan ketegangan bawah tanah. Meskipun Ali Taher berhasil membangun struktur organisasi yang kuat, bayang-bayang ketidaknyamanan teologis ini tetap ada.

Ahmad Yohan: Kebijaksanaan Mengambil Jalan Tengah

Di tengah keriuhan tarik-ulur soal identitas, apakah harus tetap Bukit Kabir, Bukit Ibrahim Dasi, atau mungkin Bukit Syukur ID atau Bukit Ali Taher, muncullah Ahmad Yohan dengan pendekatan yang berbeda.

Ahmad Yohan anggota DPR RI Ketua Faraksi IV saat menyadari bahwa konflik nama bukan sekadar persoalan estetika, melainkan persoalan substansi yang menyangkut kenyamanan spiritual masyarakat. Ia hadir di tengah-tengah kerisauan itu bukan sebagai hakim yang memutus, melainkan sebagai fasilitator yang mencari konsensus.

Dengan kecerdasan emosional dan spiritual yang tinggi, Yohan mengajukan usulan penamaan baru: “Bukit Peradaban Lamakera”.

Usulan ini adalah sebuah masterpiece diplomasi budaya dan agama.
1. Netral Secara Teologis: Nama ini tidak mengagungkan individu tertentu, sehingga aman dari tuduhan syirik atau pengkultusan.
2. Inklusif Secara Sosial: Nama “Peradaban” mencakup semua elemen—tujuh suku, generasi tua, generasi muda, serta kontribusi semua pemimpin sebelumnya (Ibrahim Dasi, Syukur ID, Ali Taher).
3. Visioner: Kata “Peradaban” membuka cakrawala berpikir masyarakat Lamakera untuk tidak hanya melihat masa lalu, tetapi juga masa depan Indonesia Emas 2045.

Sambutan Luas: Akhir dari Kegaduhan

Keputusan Ahmad Yohan disambut dengan lega dan gembira. Tidak ada lagi protes, tidak ada lagi kegaduhan. Kalangan orang tua dari tujuh suku merasa sejarah leluhur mereka (melalui semangat Bukit Kabir) tetap dihormati tanpa melanggar batas akidah. Sementara generasi muda merasa memiliki identitas yang modern, progresif, dan relevan dengan zaman.

Penamaan Bukit Peradaban Lamakera menjadi titik temu yang sempurna. Ia mengakui jasa Raja Ibrahim Dasi sebagai pencetus awal, menghargai usaha Abdul Syukur ID dalam menjaga api, mengapresiasi ketegasan Ali Taher Perasong dalam membangun struktur, dan kini diwujudkan oleh Ahmad Yohan dalam bentuk yang paling inklusif.

Penutup: Peradaban yang Bersatu dalam Tauhid

Kisah evolusi nama bukit di Lamakera ini mengajarkan kita bahwa kekuatan sejati sebuah komunitas tidak terletak pada siapa yang paling keras suaranya, tetapi pada siapa yang paling bijak mendengarkan hati nurani kolektif.

Ahmad Yohan telah membuktikan bahwa kepemimpinan adalah seni mengambil jalan tengah. Dengan mengubah “Bukit Ibrahim Dasi” menjadi “Bukit Peradaban Lamakera”, ia tidak hanya menyelamatkan masyarakat dari potensi kesesatan akidah, tetapi juga menyatukan seluruh elemen masyarakat dalam satu visi besar.

Kini, Bukit Peradaban Lamakera bukan lagi milik satu suku, satu keluarga, atau satu pemimpin. Ia milik bersama. Dan dari puncak bukit inilah, Lamakera bangkit, merangkak, dan berlari menuju mimpi besarnya di tahun 2045, dengan hati yang bersih dan langkah yang pasti.

Catatan Kaki:
Referensi: Sepekan Reuni VII dan Munas II Yamali Nasional Lamakera 2026

Biodata:
Muh. Sulaiman Rifai Aprianus Mukin, M. Pd.CPIM, Lahir di Ende, 27 April 1970. Adalah ASN di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lembata, NTT. Sedang merintis Taman Baca Savana Iqra (TBSIq) dan aktif sebagai “Penakar Literasi” dalam komunitas penulis Lembata. Aktif menulis opini/headline di berbagai media online. Penulis dapat dihubungi melalui Facebook (@Rifaiaprian) dan Istagram (@Rifai_mukin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *